Pasukan Polisi Asmaul Husna Hadang Demo Mahasiswa | Malang Post

Rabu, 11 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Senin, 30 Sep 2019, dibaca : 600 , aim, amanda

MALANG - Suasana di halaman depan Gedung DPRD Kota Malang berbeda, Senin (30/9). Puluhan polisi wanita (polwan) menggunakan hijab putih mengumandangkan Asmaul Husna sembari bersiaga menjaga dan mengamankan aksi massa. Pasukan yang disebut dengan Polisi Asmaul Husna ini disiapkan Polres Malang Kota untuk mendinginkan suasana demonstrasi mahasiswa.
"Ini kami siapkan sebagai tim negosiator untuk demo," terang Kapolres Malang Kota, AKBP Dony Alexander.
Dalam menangani aksi demonstrasi tersebut, pihaknya juga sudah menyiapkan personil khusus. Serta, mendapat bantuan dari Brimob, TNI hingga Satpol PP.
"Anggota tidak dibekali dengan senjata tajam. Untuk mengamankan aksi massa, kami mengedepankan pendekatan persuasif yang humanis," tegas dia.
Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Front Rakyat Melawan Oligarki (FRMO),  Aliansi Rakyat Demokrasi dan lainnya mengelilingi Gedung DPRD Kota Malang. Mereka kembali melakukan orasi di bagian depan gedung dewan. Mereka sama-sama melakukan berbagai tuntuan. Diantaranya, menolak RKUHP dan Undang-Undang KPK.
Jubir Front Rakyat Melawan Oligarki (FRMO), In'amul Musofa mengungkapkan, aksinya menyuarakan tuntutan yang selama ini banyak disuarakan seluruh mahasiswa Indonesia. "Termasuk tuntutan besar yang sast ini didesak di Jakarta. Seperti menolak RKUHP, Undang-Undang KPK hingga menutut pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS)," jelas dia.
Kemudian, nereka juga mendorong presiden untuk mencabut atau mengeluarkan Perppu tentang pencabutan Undang-Undang KPK, yang saat ini dinilai nampu melemahkan lembaga anti rasuah tersebut. "Kami juga mendorong pengesahan RUU PKS yang hingga hari ini belum disentuh oleh DPR RI," kata dia.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang jugakembali mendatangi Gedung DPRD Kota Malang, Sebanyak 100 orang turun ke jalan untuk melakukan aksi solidaritas dengan menggelar Salat Gaib.
Ketua Umum HMI Cabang Malang, Sutriyadi mengungkapkan, aksi tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk solidaritas terhadap korban demonstrasi yang terjadi di Kendari dan Jakarta. "Ini aksi kemanusiaan yang kami lakukan untuk korban meninggal ketika demonstrasi. Selain di Kendari dan Jakarta, ada juga korban meninggal ketika terjadi permasalahan di Papua," terang dia.
Dengan mengadakan Salat Gaib tersebut, pihaknya berharap bahwa negara memberikan jaminan kepada setiap warganya untuk menyampaikan pendapat. Sehingga, tidak ada lagi tindakan represif yang menyebabkan korban meninggal dunia. "Ini tentunya menjadi catatan kelam sekaligus duka bagi demokrasi kita. Kami berharap, proses demokrasi bisa terjamin. Sehingga tidak ada upaya represif untuk membungkam suara rakyat," jelas dia. (tea/aim)



Loading...