Malang Post - Pasca Banjir, Bencana Longsor Landa Kota Malang

Selasa, 31 Maret 2020

  Mengikuti :


Pasca Banjir, Bencana Longsor Landa Kota Malang

Selasa, 25 Feb 2020

MALANG - Setidaknya tujuh bangunan milik warga Muharto Gang V RT 3 RW 9 Kelurahan Kotalama Kecamatan Kedungkandang Kota Malang ambruk akibat longsor, Senin (24/2) pukul 15.30 WIB. Selain di Muharto, bangunan rumah yang sedang dibangun di RT 9 RW 5 Jalan Kawisari, Kelurahan Mulyorejo Kecamatan Sukun juga rusak akibat longsor.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini akan tetapi kerugian ditaksir hingga puluhan juta rupiah. Menurut pantauan Malang Post seluruh bangunan yang rusak karena longsor ini berada di pinggir DAS Brantas. Diakui warga sekitar sudah lama tanah di bawah bangunan ini terlihat rusak dan berlubang alias tergerus.
Hal ini disampaikan Ketua RT 3 RW 9 Kelurahan Kotalama Dasuki kepada Malang Post beberapa saat setelah kejadian terjadi. Ia menjelaskan area lahan yang rusak akibat longsor kurang lebih sepanjang 50 meter.
“Lalu dari atas sini sampai ke bawah tingginya sekitar 12 meteran. Bangunannya ya masuk semua ke sungai ini,” jelas Dasuki.
Dijelaskannya 7 bangunan yang terdampak bukanlah rumah tempat tinggal. Akan tetapi dua diantaranya adalah warung kopi kecil dan lima lainnya merupakan toilet atau kamar mandi warga. Dua bangunan warung kopi sudah lama tidak buka.
Sementara saat kejadian, saat hujan kurang lebih 30 menit mengguyur kawasan ini, kamar mandi memang tidak ada yang memakai. Meski begitu warga sekitar memang sudah menduga longsor akan terjadi.
“Karena sudah dua minggu kemarin dari atas sudah terlihat ada retak dan tanahnya agak amblas memang. Memang sudah waspada, dan memang kejadian akhirnya,” tegas Dasuki.
Menurut pantauan Malang Post, tujuh bangunan yang terdampak longsor ini tidak seluruhnya rusak dan amblas ke bawah sungai. Sebagian saja dari bangunan yang turut rusak dan amblas akibat longsor terjadi.
Masih dapat terlihat setengah bagian dari bangunan ini. Sementara itu pemilik bangunan terdampak di antaranya adalah Mantap, Slamet Nyoto, Supeni, Eko Sasmito, Riyadi, Tohir, dan Heri.
Menambahkan, Lurah Kotalama Bambang Herryanto menjelaskan kawasan tersebut memang kerap terjadi longsor. Pihaknya pun belum lama ini mendatangi kawasan longsor lain di RT yang sama. Hanya masih plengsengan saja yang ambrol.
“Kawasan RT 3 ini memang berada di belokan arus sungai DAS Brantas. Jadi jika ada bangunan yang bediri di atas plengsengan cepat tergerus. Apalagi dipakai buat MCK airnya masuk ke tanah tambah ruska cepat,” tegas Bambang.
Ia menjelaskan sudah beberapa kali memberikan pemahaman kepada warga sekitar untuk tidak mendirikan bangunan di area rawan longsor. Hanya saja tidak membuahkan hasil signifikan.
Berulang kali juga pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak provinsi untuk memperbaiki plengsengan yang rusak akibat longsor di kawasan Kelurahan Kotalama ini. Hanya saja longsor tetap tak terhindarkan setiap saat.
“Ya sekarang hanya bisa mengimbau warga hati-hati saja karena ada konsekuensinya ketika bangun seperti itu di plengsengan,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan kurang lebih dua minggu lalu di kelurahannya tepatnya di wilaya RW 6, sebuah plengsengan turut ambrol dan rusak akibat longsor usai hujan mengguyur tanpa henti. Dan kondisi masih rusak belum diperbaiki.


Wakil Walikota Malang Tinjau Longsor
Sementara itu, Wakil Walikota Malang Sofyan Edi Jarwoko langsung turun lapangan guna melihat langsung longsor di kawasan Sukun, Senin (24/2).
"Kebetulan kami sedang melakukan peninjauan di TPA Supiturang untuk program gerakan penanaman rumput vetiver, terlebih di dekat wilayah tersebut ada rumah yang terkena musibah tanah longsor " ujar Bung Edi, sapaan akrabnya kepada Malang Post.
Dijelaskannya, rumah yang dibangun memang sangat rawan terhadap longsor. Karena posisi rumah yang berada di bawah permukaan tanah sehingga sangat mudah terjadi longsor bila hujan deras.
“Saya menyarankan untuk kedepan dibangun terasering dan pohon di pinggir rumah tersebut supaya meminimalisir terjadinya bencana tanah longsor,” ujarnya.
Selain itu, Politisi Golkar itu memberikan saran kepada seluruh masyarakat supaya memperhatikan kondisi tanah dan medan sebelum membangun rumah supaya tidak terjadi yang tidak diinginkan.
Sementara itu pemilik rumah Sekaligus RT 9, RW 05 Suharto mengatakan, rumah tersebut dibangun sejak dua tahun lalu dan memang dalam pembangunannya masih bertahap. Akibat dari tanah longsor ini kerugian mencapai sekitar Rp 5 Juta lebih.
“Rumah ini dibangun untuk anak saya ke depan nanti, dan ini masih sabar dalam pembangunannya,” ujarnya.
Dijelaskannya, hujan deras terjadi disore hari sekitar pukul 16.00 WIB, Sabtu (22/2) lalu di wilayah tersebut. Intensitas hujan yang tinggi membuat air mengalir deras ke bawah, sehingga mengakibatkan permukaan tanah yang berada di atas rumahnya longsor.
“Kalau hujan deras memang airnya selalu meluber di sini. Apa yang dikatakan Pak Wawali memang benar kondisi tanah yang sangat rawan terjadi longsor bila pondasinya tidak kuat,” lanjutnya.
Sementara itu, Lurah Mulyorejo Sai Prayitno menanggapi terkait tanah longsor yang menimpa bangunan rumah warganya, pihaknya akan ikut membantu dalam memperbaiki tekstur tanah di wilayah tersebut.
“Semaksimal mungkin kami akan ikut membantu dengan cara membuat terasiring di pinggir rumah dan membuat saluran air supaya air yang mengalir dari atas tetap terjaga ,” pungkasnya.(ica/mp4/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Francisca Angelina

  Berita Lainnya





Loading...