MalangPost - Padi LangkaPKPOT Merah Putih-Merah Aromatik

Kamis, 13 Agustus 2020

  Mengikuti :

Padi LangkaPKPOT Merah Putih-Merah Aromatik

Rabu, 08 Jul 2020, Dibaca : 3063 Kali

MALANG - Ternyata tidak banyak diketahui masyarakat bahkan petani rakyat tentang jenis-jenis benih padi lokal. Padahal benih padi lokal nusantara ini menjadi incaran para peneliti di luar negeri untuk objek riset di negaranya. Nah, salah satu orang yang peduli terhadap benih padi lokal nusantara ini adalah Direktur Pusat Kajian Pertanian Organik Terpadu (PKPOT), Prof.Dr. Ir. Hariyadi, MP.

 

Selama berahun-tahun, Hariyadi menekuni bidang padi ini, mempunyai beberapa koleksi padi nusantara langka yang siap disebar maupun untuk riset bagi lembaga pangan. Apa saja jenis padi lokal koleksi Hariyadi? Diantaranya padi merah putih yang sekarang sudah sangat langka. Hanya dua petani yang menanamnya dari Wonosobo, Banjarnegara dan Kabupaten Jember. Menariknya petani asal Jember ini bercerita bahwa mendapatkan bibit padi merah putih ini dari pejabat kraton yang menemukan reruntuhan candi Prambanan ketika dampak gempa beberapa tahun lalu. Ketika itu ditemukan cupu (mangkok kecil dari kuningan). Setelah dibuka isinya adalah beras merahputih. Dari sinilah pejabat kraton tersebut memberikan kepada petani dari Jember ini. Kemudian sebagian butir beras merah putih oleh petani Jember ini diberikan kepada Hariyadi.

 

Di tangan Hariyadi, akhirnya ditanam dan berkembang menjadi tanaman padi melalui treatmen fenotip potensi genetik tanaman tersebut. Berikutnya jenis padi lokal adalah HMS 700 hasil dari persilangan varietas unggul. Hasilnya sekitar 1 malai berisi 700 bulir padi. Bukan itu saja, padi lokal yang lain adalah Padi Hitam, Padi Merah aromatik, dan Basmati aromatik.

 

Ide munculnya mengkoleksi padi lokal ini, dijelaskan Hariyadi terinpirasi dari IRRI (International Rice Riset Institut) di Los Banos, Philipina. Di laboratorium IRRI tersebut, semua jenis padi dunia ditampilkan dan menjadi bahan riset ilmuan. Dari sinilah akhirnya Hariyadi menjadi kolektor padi lokal. (don)

Editor : Redaksi
Penulis : doni