Orkestrasi Buzzer | Malang Post

Minggu, 17 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Senin, 14 Okt 2019, dibaca : 969 , mp, opini

Tak semua pendengung (buzzer) itu buruk. Banyak buzzer yang justru melawan ulah para buzzer lain yang suka mendengungkan kebohongan, agitasi, dan propaganda. Sebenarnya kelompok buzzer yang cukup berbahaya adalah buzzer yang digerakkan oleh pribadi, kelompok, atau kekuatan tertentu. Banyak kelompok buzzer yang diorkestrasi oleh pihak tertentu dan menjadi sebuah kekuatan yang masif untuk  melakukan aksi tebar hoax, ujaran kebencian, dan penggiringan opini tertentu.
    Para buzzer biasa menjalankan aksinya lewat media sosial (medsos). Medsos telah menjadi sarana dalam memasilitasi keterbukaan informasi. Melalui medsos juga telah menjadi bagian penting dalam demokratisasi. Namun lewat medsos pula sejumlah persoalan juga dipicu. Lahirnya medsos yang pada awalnya mampu menjadi sarana membangun kohesi sosial, justru sekarang banyak digunakan sebagai alat agitasi yang bisa memicu disintegrasi. Sejumlah persoalan yang terjadi di negeri ini dipicu oleh ulah sejumlah buzzer bayaran.
    Saat pemilu silam, banyak buzzer yang digerakkan oleh kandidat tertentu untuk membangun simpati yang ujung-ujungnya untuk mendulang dukungan masyarakat. Dalam pemilu waktu itu bermunculan buzzer-buzzer bayaran yang bersiap menjadi pasukan siber demi berperang memenangkan kandidat yang membayar. Cara membangun opini tertentu melalui campur tangan buzzer terbukti cukup berhasil. Kontribusi para pendengung di medsos yang diorkestrasi telah menjadi bagian penting dalam politik.
    Kehadiran buzzer dalam mendukung upaya demokratisasi akhirnya menjadi perdebatan. Tak sedikit buzzer yang menjalankan aksinya karena faktor bayaran. Para buzzer bayaran inilah yang dinilai dapat merusak demokrasi karena ulah mereka justru bertentangan dengan upaya membangun demokrasi yang baik. Dalam pemilu silam, para buzzer bayaran ini punya kontribusi yang tak kecil guna turut membangun citra baik sang kandidat. Para buzzer terbukti mampu memuluskan tujuan sang penggerak dan pemilik orkestra buzzer.
    Buzzer memang perkasa. Keperkasaan buzzer karena posisi masyarakat yang lemah ketika mengonsumsi media. Tak sedikit pengguna medsos yang hanya menerima mentah-mentah terhadap aneka rupa pesan yang diproduksi dan diviralkan sang buzzer. Dalam pandangan Teori Peluru (Bullet Theory) yang dikemukakan oleh Harold D Lasswell, bahwa pesan yang disampaikan media sangat kuat membombardir audiens. Sementara itu, khalayak tak berdaya, hanya bisa menelan mentah-mentah serbuan pesan yang datang bertubi-tubi itu.
    Tak jarang posisi masyarakat pengguna medsos hanya jadi sasaran empuk para pencipta narasi agitatif yang diperkuat efek dengung (echo chamber) medsos. Gaung pesan yang semakin kuat yang terus dilancarkan para buzzer semakin menjadikan masyarakat tak berdaya dan akhirnya menerima begitu saja terhadap semua kabar yang belum tentu teruji kadar kebenarannya itu. Melihat kenyataan ini, Bullet Theory seperti yang disampaikan Lasswell masih relevan untuk membedah fenomena keperkasaan buzzer ini.
    Buzzer akhirnya menjadi sebuah kebutuhan. Aktivitas buzzer yang semula berupa kegiatan biasa, kini menjadi sebuah profesi. Kini banyak buzzer-buzzer bayaran yang siap bekerja untuk kepentingan pemberi dana. Karena ada permintaan, sejumlah pihak juga ada yang sengaja “beternak” buzzer. Mereka mengorganisir dan menggerakkan para buzzer-nya. Para buzzer sengaja direkrut dengan sejumlah bayaran dan diorkestrasi guna memainkan peran mengusung narasi tertentu sesuai permintaan.
    Merujuk laporan penelitian terbaru dari Oxford University yang bertajuk “The Global Disinformation Order 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation” yang menyebutkan bahwa Indonesia menjadi satu dari 70 negara yang menggunakan buzzer untuk sejumlah kepentingan sepanjang 2019. Beberapa pihak di Indonesia yang menggunakan buzzer adalah politisi, partai politik, dan kalangan swasta.
    Buzzer di Indonesia kebanyakan buzzer bayaran. Menurut temuan Oxford, besaran uang yang diterima buzzer di Indonesia pada kisaran 1 juta hingga 50 juta rupiah. Buzzer di Indonesia memanfaatkan beragam medsos dalam melancarkan aksinya. Para buzzer biasanya menggunakan Twitter, WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Modus yang sering mereka lakukan dengan menyebarkan propaganda pro pemerintah atau pro partai, menyerang oposisi, disinformasi, manipulasi informasi, hingga membentuk polarisasi.
    Narasi yang sering diusung buzzer adalah narasi yang sengaja dibuat untuk menciptakan kebingungan. Masyarakat tak jarang terjebak meyakini sesuatu yang salah sebagai sebuah kebenaran. Apalagi di era pasca kebenaran (post truth) saat ini, memang tak mudah menemukan pesan-pesan yang tergolong benar. Karena semua narasi kebenaran itu akan terkalahkan oleh sejumlah pesan yang sudah terlanjur viral. Banyak orang menyangka dan mempercayai bahwa yang sudah menyebar dan viral di masyarakat itulah yang dianggap benar.
    Situasi yang diciptakan para buzzer jahat adalah keadaan yang tidak teratur. Ketidakteraturan tersebut dimanfaatkan oleh para pendengung untuk memroduksi narasi-narasi kebohongan. Sejumlah narasi kebohongan tersebut selanjutnya diviralkan para buzzer agar keadaan semakin keruh. Itulah target aksi para buzzer dengan memanfaatkan situasi untuk menyerang dan melemahkan lawan.
    Kuatnya penetrasi medsos di masyarakat dan masih kurangnya literasi media dan literasi politik masyarakat menjadikan kehadiran buzzer sulit dibendung. Apalagi pergerakan buzzer sekarang semakin masif hingga semakin sulit dilawan. Salah satu perlawanan yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan kontra narasi yang dibuat guna melawan narasi agitatif dan provokatif yang digaungkan oleh para buzzer. Namun kontra narasi yang dibuat harus bersumber fakta, bukan sekedar kontra pesan yang ternyata berasal dari sebuah kebohongan juga.
    Sebenarnya perlawanan terhadap buzzer provokatif sudah dilakukan oleh para pengguna internet (netizen). Sejumlah kabar bohong yang didengungkan para buzzer sudah banyak dilawan netizen. Namun persoalannya, belum sebanding antara produsen dan pengaung hoax itu dengan pihak yang punya pengetahuan, kemampuan, dan kepedulian untuk melawan narasi negatif di linimasa tersebut. Kekuatan orkestrasi buzzer tak mudah dilawan tanpa melalui kekuatan yang terorganisir juga.
    Untuk itu kemampuan literasi digital masyarakat dan buzzer harus ditingkatkan agar mereka tak mudah diorkestrasi oleh orang-orang yang punya kepentingan jahat. Kekuatan para buzzer yang netral bisa menjadi alat perlawanan untuk menandingi kekuatan para pendengung narasi agitatif itu. Semoga kekuatan yang dimiliki para buzzer bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif dan produkstif demi kemajuan dan pembangunan bangsa. (*)



Minggu, 17 Nov 2019

Berkah ala Sertifikasi Pranikah

Sabtu, 16 Nov 2019

Jangan Biarkan Menyakitinya

Kamis, 14 Nov 2019

JOKER Korban Asuransi Kesehatan

Loading...