MalangPost - Orang Tua Aktif Kunci Sukses Belajar Daring

Kamis, 09 Juli 2020

  Mengikuti :

Orang Tua Aktif Kunci Sukses Belajar Daring

Jumat, 05 Jun 2020, Dibaca : 3591 Kali

MALANG – Masa belajar di rumah akibat pandemi Covid-19 sudah lebih dari dua bulan.  Kondisi itu mulai menimbulkan kejenuhan bagi peserta didik dan juga pendidiknya. Peserta didik setiap harinya dijejali dengan rentetan tugas, sehingga diperlukan komunikasi antara orang tua dan sekolah.


Apalagi di situasi yang tidak memungkinkan belajar dengan tatap muka, peran orang tua sangat penting untuk mendidik anaknya yang lebih banyak kebersamaannya. Selama masa pandemi ini belajar daring menjadi solusi yang tepat agar siswa terus belajar sehingga tidak kehilangan potensinya untuk berprestasi. Namun belajar secara online masih banyak menuai kendala, khususnya dari segi media pembelajaran yang banyak dibutuhkan oleh  para guru adalah bahan ajar.


Ketua Dewan Pendidikan Kota Malang Prof. Dr. Mohamad Amin, S.Pd, M.Si saat Webinar Kesiapan Pendidikan dalam New Normal yang digelar Malang Post, Jumat (5/6) kemarin memaparkan, penelitian yang dilakukan menunjukkan media pembelajaran yang digunakan diantaranya Google Classroom, WhatsApp, dan Zoom. Dengan aplikasi itu, para guru sudah terbiasa dengan inovasi pembelajaran secara daring.
“Kendala paling banyak selama melakukan pembelajaran daring adalah media pembelajaran kemudian disusul pelajaran dan perangkat pembelajaran,” ujar Prof Amin.


Dijelaskannya, hal itu artinya memerlukan media pembelajaran baru, bagaimana mengintensifkan dan mengefektifkan pembelajaran dengan kemampuan yang ada. Sebab belajar offline saat ini tidak memungkinkan dilakukan. Sehingga kurikulum di masa pandemi perlu dirancang adaptif agar pendidikan berjalan efektif.


Di sinilah orang tua memiliki peranan penting dalam mendidik anak, orang tua harus terlibat dalam belajar anak. Adanya Covid-19 tidak mungkin pembelajaran dilakukan full tatap muka seperti biasanya. Perlu kerja sama antara orang tua dan sekolah.
“Inilah pentingnya kolaborasi antara guru dan orang tua. Apabila ada siswa kelas 1 tidak tahu maka bagaimana orang tua mengajarinya, karena pada dasarnya tugas pendidikan ada di orang tua,” terangnya.


Menurutnya, sekarang situasinya darurat, maka tidak memungkinkan melakukan kegiatan normal termasuk kegiatan belajar mengajar. Kondisi tidak normal inilah tuntutan yang diberikan kepada siswa maupun guru harusnya juga tidak normal dalam artian kurikulum tidak harus dikerjakan tuntas. Misalnya siswa SMK yang membutuhkan praktikum, namun karena kondisi pandemi harus sosial distancing maka tidak perlu dilakukan terlebih dahulu, kurikulum juga harus dirancang adaptif pada keadaan seperti sekarang.


Pendidikan adaptif perlu sebab pendidikan harus berjalan terus menerus, setiap waktu dan berulang-ulang sepanjang tahun. Bagi anak pendidikan adalah proses dirasakan dan dipahami, dari yang tidak tahu menjadi tahu dan dari yang tidak mengerti menjadi mengerti.
Untuk itu pendidikan tidak boleh berhenti, sebab pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan anak bangsa, mengembangkan potensi peserta didik untuk menjadi generasi yang beriman dan bertakwa serta mandiri.
Pendidikan adalah yang utama dan pertama. Apalagi Indonesia saat ini memiliki bonus demografi sehingga sangat penting untuk mencerdaskan bangsa. Ini menjadi kunci keberhasilan masyarakat. Harus merespon cepat dalam menanggapi dinamika perubahan.
“Kalau tidak cepat kita akan ketinggalan, harus tepat dan fleksibel, fleksibel itu luwes agar menjadi orang yang mahir,” tegas Guru Besar Biologi UM ini.


Ditambahkannya, termasuk merespon cepat di masa New Normal. Berdasarkan ilmu virologi Covid-19 adalah bagian dari semesta yang tidak mungkin hilang keberadaannya. Mutasinya yang cepat ditambah belum adanya vaksin atau obat untuk penyembuhan maka diperlukan pola baru seperti mengenakan masker, menggunakan hand sanitizer dan lainnya untuk memutus mata rantai penyebaran virus.
”Kita juga harus menjadi orang yang cerdas pada masa New Normal atau tatanan hidup baru termasuk orang tua maupun guru. Caranya antara lain be qualified, be confident dan be humble,” terangnya.


Selain itu, harus memiliki kualifikasi dengan cara belajar, percaya diri dan rendah hati. Orang berliterasi pasti kaya ilmu dan tentunya kaya inovasi.
Untuk mewujudkan itu semua, guru harus memiliki 4C (communication, collaboration, critical thinking dan creativity). Sebelum memberikan 4C kepada murid-muridnya.  Komunikasi yang bagus maka akan memperoleh softskill yang bagus pula, orang yang memiliki komunikasi bagus kebanyakan kolaborasinya juga bagus.
“Menjadi smart people caranya dengan  memperluas wawasan, orang yang cerdas akan memperoleh sukses hidup baik secara finansial, hardskills, networking dan softskills. Kita kembangkan era cerdas berjamaah, tugas pendidikan bukan hanya guru melainkan juga tanggungjawab orang tua dan masyarakat,” beber nya.


Ia menegaskan, era New Normal artinya pelaksanaan pendidikan harus adaptif, sehat dan produktif. Pendidikan harus terus dilaksanakan dengan menyesuaikan situasi dan kondisi. Apabila masih harus berjalan daring maka perlu mengefektifkan SDM, sarana dan prasarana serta melibatkan orang tua dan masyarakat. (lin/aim)

Editor : Muhaimin
Penulis : Linda Elpariyani