Narasi Banjir di Media | Malang POST

Jumat, 21 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Minggu, 12 Jan 2020,

Banjir dan tanah longsor yang terjadi di sejumlah daerah menyita perhatian banyak orang. Di layar televisi, laman media online, media cetak, radio, dan sejumlah platform media sosial narasi bencana itu menyebar. Narasi berwujud gambar, video, audio, dan berita tulis itu disajikan kepada khalayak. Beragam narasi bencana yang muncul di media mampu menggugah simpati, namun tak jarang pula narasi itu justru memicu kesedihan dan trauma.
    Narasi pemberitaan banjir Jakarta atau tanah longsor di Bogor beberapa waktu silam memang telah menjadi sebuah komoditas bagi sejumlah media dan masyarakat. Ada yang menjadikan bencana ini sebagai fakta yang bisa dieksploitasi guna menaikkan jumlah rating dan pembaca. Dalam kaitan ini, bencana bisa dipandang sebagai sebuah berkah bagi kepentingan media sebagai sebuah institusi bisnis.
    Di media sosial (medsos) juga setali tiga uang. Narasi-narasi banjir muncul dan beredar dengan jumlah yang masif. Tak semuanya bersumber fakta. Tak sedikit narasi banjir di medsos dibumbui drama agar peristiwa banjir itu semakin seru. Bahkan ada pula yang menjadikan peristiwa banjir dalam narasi-narasi yang politis. Perang narasi dan tagar soal banjir ramai di medsos dan viral di WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram, dan medsos lain.

Bad News is Good News
    Adagium bahwa bad news is good news mendasari munculnya beragam narasi banjir di media. Suatu peristiwa bencana dan kedukaan yang sejatinya sebuah berita buruk (bad news) oleh sejumlah pihak atau orang justru bernilai baik (good news). Sesuatu yang buruk (bad) itu ternyata bisa menjadi good (baik) karena ada pihak yang mendapatkan keuntungan dari situasi kedukaan itu.
    Situasi inilah yang harus dipahami oleh masyarakat bahwa tak selamanya narasi yang muncul di media itu bebas kepentingan. Masyarakat konsumen media dituntut mampu mencerna dengan kritis di balik munculnya beragam narasi di media, termasuk dalam hal ini soal bencana banjir dan tanah longsor. Media massa arus utama (mainstream media) maupun medsos semua digerakkan oleh beragam kepentingan.
    Terkait bencana banjir ini, di medsos ramai tagar saling serang terkait kinerja Gubernur DKI Jakarta. Perang tagar yang muncul memang tak bisa dibendung. Medsos adalah media yang sangat terbuka. Siapa saja bisa mengunggah dan mengunduh narasi apapun. Bahkan medsos memungkinkan sang produsen pesan muncul secara anonim. Tak jarang sebuah peristiwa menjadi semakin buruk karena peristiwa tersebut di goreng-goreng oleh pihak tertentu dan disebarkan lewat medsos.
    Peristiwa banjir atau peristiwa apapun bisa bernilai komoditas di media. Disinilah masyarakat dituntut kritis agar tak tertipu dengan sejumlah narasi yang muncul di media. Sikap kritis ini menjadi hal yang penting agar masyarakat tak gampang ikut membagi-bagikan informasi bencana yang belum tentu kebenarannya. Selain itu, terjadinya bencana sangat memungkinkan muncul trauma terutama bagi pihak yang menjadi korban. Untuk itu kepekaan untuk turut menjaga perasaan korban perlu menjadi pertimbangan sebelum memroduksi dan menyebar narasi bencana.
    Sejatinya bad news tetaplah bad news. Hanya karena pertimbangan keuntungan dan kepentingan bisnis terkadang bad news itu justru menjadi komoditas. Masyarakat sebagai konsumen harus melek media (media literate). Kemampuan melek media inilah yang akan membawa masyarakat agar mampu memilih dan memilah narasi yang layak dipercaya dan tak turut membagi-bagikan narasi yang tendensius dan sarat kepentingan tertentu.

Jurnalisme Empati
    Dalam peliputan peristiwa bencana, Ashadi Siregar (2010) menawarkan model peliputan jurnalisme empati (empaty Journalism). Jurnalisme empati merupakan praktik jurnalisme yang menuntut seorang jurnalis bisa memasuki kehidupan subyek, dengan sikap etis agar tidak melakukan penetrasi yang sampai mengganggu kehidupan subyek. Persoalan etis inilah yang masih terjadi dalam liputan peristiwa bencana di sejumlah media.
    Jurnalisme empati, menurut Ashadi adalah jurnalisme yang berempati terhadap penderitaan orang, baik yang disebabkan oleh kultur, struktur sosial, maupun individu tanpa batas-batas yang dikonstruksikan secara etnis, agama, gender, kelas, dan lain-lain. Jurnalisme empati tak boleh mengeksploitasi penderitaan orang. Melalui jurnalisme empati berusaha memberi dorongan, membangun optimisme, dan dukungan.
    Ashadi lebih jauh menjelaskan bahwa jurnalisme empati diharapkan dapat melukiskan empati sebagai to see with eyes of another, to hear with the ears of another and to feel with heart of another. Ada unsur belas kasihan dalam pemberitaan yang menggunakan jurnalisme empati. Tugas jurnalis adalah mengajak pembaca atau masyarakat untuk dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain yang menjadi korban dalam pemberitaan tersebut.
    Dalam kasus pemberitaan banjir akhir-akhir ini, tak jarang media dalam menyajikan narasi pemberitaannya justru menampilkan kesedihan yang dialami korban menjadi materi untuk memikat khalayak. Tak banyak media yang berempati pada apa yang dialami korban. Pemberitaan bencana ditampilkan dengan bumbu drama lewat sudut pengambilan gambar (angle), teknik editing, efek visual, pemberian caption, dan narasi sedemikian rupa hingga menarik khalayak.
    Empati itu sikap ikut merasakan penderitaan korban, bukan menjadikan kesedihan yang dialami korban dieksploitasi. Empati itu untuk menumbuhkan sikap untuk menguatkan korban dan ikut merasakan derita yang dialami korban. Empati juga untuk membangun sikap solidaritas dan menghilangkan trauma yang mungkin dialami korban. Pemberitaan yang berperspektif empati dapat menghindarkan narasi pemberitaan yang bombastis dan eksploitatif.
    Untuk membangun narasi soal bencana banjir atau musibah yang lain maka perlu pendekatan partisipatoris. Melalui pendekatan ini, semua yang akan memroduksi narasi bencana akan berusaha memasuki kehidupan korban dengan sikap etis. Selain itu, dari narasi yang diproduksi hendaknya dipastikan tak merugikan dan menambah penderitaan korban. Kalau narasi-narasi soal banjir bisa berperspektif empati pada korban tentu peristiwa bencana kedukaan ini akan bisa dihadapi dengan tegar dan optimis.
    Bencana, apapun bentuknya, sejatinya tak dikehendaki oleh semua orang. Namun munculnya bencana bisa menjadi sarana introspeksi diri. Terjadinya peristiwa kedukaan karena bencana juga untuk membangun rasa solidaritas dengan sesama anak bangsa. Melalui narasi-narasi yang dibuat media massa dan medsos diharapkan bisa saling menguatkan dan menumbuhkan empati dan solidaritas pada korban bencana. (*)

Oleh: Sugeng Winarno
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Editor : Redaksi
Penulis : Sugeng Winarno



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...