Malang Post - Musikalisasi Puisi, Sarana Bangkitkan Minat Sastra Lewat Musik

Senin, 06 April 2020

  Mengikuti :


Musikalisasi Puisi, Sarana Bangkitkan Minat Sastra Lewat Musik

Rabu, 22 Jan 2020

Banyak beragam upaya untuk meningkatkan ketertarikan karya sastra terhadap masyarakat, salah satunya musik sebagai medianya. Karena musik sudah menjadi hiburan keseharian kita terutama di kalangan anak muda. Dilansir melalui website Media Indonesia.com, Mariska Setiawan (26), seorang penyanyi musik klasik asal Surabaya mencoba kembali membangkitkan minat anak muda terhadap sastra dan literatur.
Ketertarikannya dalam bidang sastra telah menciptakan kolaborasi dengan Ananda Sukarlan melalui pertunjukkan musik yang didasari karya-karya sastra. “Saya ingin mengembalikan minat sastra ke anak muda, dengan adanya musik tentu saja lebih menarik,” ujarnya.
Sebagian fenomena di atas membuktikan bahwa banyaknya masyarakat yang kurang tertarik akan hal yang berbau sastra. Sebagian orang beranggapan bahwa sastra itu agak rumit, dan ada pula yang mengatakan karya sastra itu hanya untuk orang cendekia (terpelajar) karena mereka harus memahami progresnya yang lebih rinci. Oleh karena itu karya sastra agak kurang diminati kalangan muda (generasi milenial). Terkecuali dalam hal musik.
Musik bisa dibilang karya sastra yang memiliki nilai lebih luas, dilihat dari segi penikmatnya. Dan jika dibandingkan dengan jenis karya sastra lainnya seperti novel, prosa, cerpen dan lain-lain. Beberapa orang cenderung lebih memilih seni musik untuk dinikmati.
Secara manfaat, adanya unsur bahasa dan musik dalam sebuah lagu akan menuntun ‘emosi’ seseorang baik secara sadar ataupun tidak, hal itu akan masuk ke dalam pikiran kita dan akan diwujudkan lewat suatu perkataan dan tindakan yang nantinya akan membentuk sebuah karakter dalam diri kita. Jadi dapat disimpulkan jika musik merupakan karya sastra yang dapat membentuk sebuah karakter.
Namun di generasi milenial ini, banyak anak muda yang kurang menaruh minat pada karya sastra. Sebab, banyak remaja yang beranggapan bahwa karya sastra adalah sesuatu yang membosankan dan hal yang tidak penting untuk dipelajari. Mereka lebih memilih media sosial sebagai sarana hiburan daripada harus membaca karya sastra, dimana hal itu menyebabkan pudarnya karya sastra di generasi yang akan datang.
Membaca karya sastra bagi sebagian kalangan anak muda merupakan kegiatan yang membosankan karena bacaan yang disuguhkan oleh karya sastra merupakan bacaan yang berat. Karena diksi atau pilihan kata yang dipakai oleh pengarang agak susah dipahami, dikarenakan penguasaan kosa kata di kalangan remaja masih sangat minim.
Lain halnya dengan musik. Fenomena tren selalu berkembang di kalangan anak muda dan salah satunya adalah tren musik. Apalagi musik bisa dengan mudahnya diakses melalui media sosial yang sekarang lebih diminati oleh generasi milenial ini. Adanya tren musik ini menciptakan beberapa kelompok di masyarakat yang terbentuk berdasarkan minat genre musik yang sama. Salah satunya adalah “Musikalisasi puisi atau musik sastra.”
Musikalisasi puisi atau musik sastra merupakan suatu bentuk ekspresi sebuah karya sastra yang melibatkan unsur yang terdiri dari instrumen musik dan karya sastra. Dengan perpaduan unsur tersebut, bisa dibilang suatu bentuk karya seni yang mengekspresikan sastra dengan cara lain sehingga karya sastra tersebut lebih dapat dinikmati.
Musikalisasi puisi bisa dibilang ‘senjata’ untuk menyuarakan sebuah karya sastra kepada peminat musik di kalangan pemuda atau generasi milenial yang kurang minat akan karya sastra. Karena musik pada umumnya memiliki daya tarik yang menimbulkan kesenangan tertentu kepada pendengar. Mereka pun akan lebih cepat akrab dengan syair-syair yang diiringi oleh nada yang indah. Hal tersebut dapat merangsang minat anak muda untuk memasuki dunia sastra. Ketertarikan itu lambat laun akan membuka mata dan rasa akan karya sastra terutama puisi di kalangan anak muda.
Musikalisasi puisi dapat memperkuat daya sentuh puisi lewat representasi musik. Musikalisasi puisi mempunyai sebuah irama, bunyi, nada, perasaan dan juga pikiran. Semua muatan itu berupaya disampaikan oleh si pemusikalisasi dalam karya musikalisasi puisinya. Oleh karena itu, kita dengan segala keterbatasan berusaha untuk memperkenalkan sastra di era sekarang tidak hanya berupa buku dan buku bukan segalanya. Karena segalanya yang berhubungan dengan sastra tidak hanya berasal dari tulisan tapi bisa berawal dari media hiburan anak sekarang dan salah satunya yaitu musik, sehingga membuat karya sastra tersebut lebih dapat diapresiasi oleh generasi milenial.(*)
 

Oleh : Deni Lukmanul Hakim
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Deni Lukmanul Hakim

  Berita Lainnya





Loading...