Modus Beri Diskon, Penipu Ngaku Tertipu

Selasa, 02 Juni 2020

  Mengikuti :


Modus Beri Diskon, Penipu Ngaku Tertipu

Senin, 02 Mar 2020, Dibaca : 1284 Kali

MALANG – Linda Yunus, warga Bogor, yang menjadi tersangka penipuan berkedok investasi properti, mengklaim dirinya juga tertipu. Wanita berusia 46 tahun yang tinggal Jalan Arif Rahman Hakim, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen ini, dulunya direktur PT Dua Permata Kembar, selaku pengembang perum The Valley Residence yang ternyata bodong dan merugikan konsumen sampai ratusan juta.


Menurut Linda, dirinya tertipu karena tanah yang rencananya akan dibangun perumahan ternyata sengketa.

“Saya juga kena tipu. Ternyata objeknya tidak bisa dibangun,” kata Linda dihadapan awak media. Namun demikian, Linda tidak bisa menjelaskan soal alamat PT abal-abal, serta cek kosong yang diberikan kepada kedua korban.


Ketika kasus penipuannya dibeber, Linda yang mengenakan kacamata hanya diam saat Wakapolresta Makota, AKBP Setyo Koes Heriyanto menjelaskan kronologi. Linda hanya menjawab bahwa dia meyakinkan pembelinya lewat marketing, sewaktu ditanya kasusnya. Tawaran diskon sampai Rp 40 juta serta gratis pengurusan dokumen, berhasil mengelabui para korbannya.
“Saya memiliki marketing sendiri. Ada dua marketing dan digaji,” ujar Linda. Setelah sukses merayu para korban dan persoalan mulai muncul, Linda dan suaminya, Tommy Hartaji menghilang. Apalagi tanah The Valley Residence yang cuma di-DP Rp 100 juta di kawasan Merjosari Lowokwaru, ternyata adalah tanah sengketa.


Dia pun mengakui di hadapan awak media bahwa dia kabur ke Bogor. Disinggung mengapa sampai kabur, dia mengaku karena terus ditagih oleh korbannya.

“Saya mendapat tekanan (karena terus ditagih, red), sehingga memilih pergi,” ucapnya.


Sementara itu, Setyo Koes Heriyanto menegaskan bahwa klaim tersangka tertipu adalah alibi belaka. Karena perumahan sejak awal sudah tak bisa dibangun. Menurut Setyo, ketika pengembang membeli tanah dan cuma bayar Rp 10 persen, tidak mungkin ada sertifikat yang keluar.
“Seharusnya kalau kita mau ngembang, kita beli tanah dulu, supaya tanahnya jadi


sertifikat hak milik. Setelah jadi milik kita, silahkan membangun. Dia bilang ditipu ya itu mungkin alibinya dia,” ujar Setyo. Warga masyarakat, yang merasa ditipu oleh tersangka, bisa segera melapor ke Polresta Makota.
Setyo kuat, jumlah korban penipuan kemungkinan bias bertambah. Karena brosur penawaran investasi perumahan sudah disebarluaskan. Termasyk promo melalui social media. “Saya rasa pasti ada korban lain. Apabila ada korban lain silahkan melaporkan ke kami,” sambung Setyo.


Hengky Dimas Setiabudi, asal Dukuh Pakis, Surabaya, salah satu korban Linda Yunus. Dia mengakui bahwa dia termakan rayuan promosidan marketing yang meyakinkan. Pertama, ada diskon sampai Rp 40 juta, lalu ada bebas pembiayaan administrasi seperti BPHTB, notaris, AJB dan sebagainya.
"Promonya sangat menarik, dan harga yang lumayan cukup murah dibanding pasaran. Contohnya luasan tanah yang 114 meter persegi free BHTB, free pajak, free notaris pokoknya terima kunci harganya Rp 310 juta dan saya bayar cash," ungkap Hengky.


Rayuan dan iming-iming semakin meyakinkan, karena Hengky datang sendiri ke lokasi perumahan The Valley Residence dari PT Dua Permata Kembar. Karena sudah memastikan sendiri dengan mata kepalanya bahwa perumahan itu memang ada, Hengky pun kian percaya dan yakin.
Sekitar tahun 2017, dia membayar tunai pembelian rumah sebesar Rp 310 juta. Tetapi setelah pembayaran, tidak ada kabar mengenai kejelasannya dari developer. Akhirnya Hengky berinisiatif mencari informasi soal rumahnya, termasuk perkembangan unit yang ia beli.


Tapi, pihak PT ternyata sulit dihubungi, dan Hengky pun mencari solusi lain dengan mendatangi notaris yang diklaim oleh PT tersebut sebagai notaris yang ditunjuk mengurus perumahan. “Saya semakin curiga, karena ternyata menurut notaris tersebut, tanahnya masih status sengketa, bukan milik PT itu, dan SHM pun gak ada,” ujar Hengky.


Sadar menjadi korban penipuan, Hengky mendatangi  PT dan minta uang kembali. Sempat ditawari kavling perumahan baru. Tetapi ternyata bukan milik PT dua Permata Kembar. Dan cek yang diberikan korban setelah uangnya diminta, ternyata cek kosong.(fin/ agp)

Editor : Agung Priyo
Penulis : Fino Yudistira