MalangPost - Militansi Gurulah yang Penting, Pak Menteri!

Selasa, 11 Agustus 2020

  Mengikuti :

Militansi Gurulah yang Penting, Pak Menteri!

Minggu, 15 Des 2019, Dibaca : 1557 Kali

Membahas “guru” tidak pernah lekang oleh waktu. Pentingnya mengulas masalah guru bukan saja di hari guru, sebab keberadaan guru tidak akan pernah tergantikan oleh apapun. Apa itu buku atau pun aplikasi sampai kapanpun, bahkan sampai dunia kiamat sekalipun. Hal ini berlaku pada seluruh penjuru dunia di muka bumi ini.

Guru bukanlah dewa, tetapi sosok yang mulia. Namun, kemuliaan itu terkadang hanya kamuflase belaka, sehingga pencitraan saja yang ada. Dengan demikian diperlukan jiwa militansi pada setiap sosok guru. Jiwa yang bersemangat tinggi/aktif, penuh gairah, penuh pengabdian, penuh semangat aktif, memiliki/menunjukkan keinginan/kemauan untuk menggunakan metode/strategi pembelajaran dengan dedikasi tinggi demi capaian pembelajaran. Guru militansi itu contoh sederhananya menyiapkan spidol/ATK sendiri. Masa, batal mengajar di kelas gara-gara tidak ada spidol yang disiapkan sekolah?
Walaupun, guru dapat ditemukan di ruang, jarak, dan waktu manapun, tetapi pada kesempatan ini, bukan guru arti luas yang akan dibahas melainkan guru yang ada di sekolah. Karena itu, tidaklah naif jika dikatakan bahwa sosok guru dan sekolah itu bagaikan dua sisi mata uang. Guru itu sama dengan sekolah dan sekolah sama dengan guru.
Idealnya, hampir seluruh waktu guru seharusnya di sekolah, terutama kepala sekolahnya. Nah, barulah sekolah itu bisa maju. Jiwa, pikiran, dan naluri guru ada sekolah untuk merencanakan, merancang, dan melaksanakan inovasi-inovasi kecil untuk sekolah.
Semakin tercermin  hubungan emosional guru, siswa, dan sekolah itu pada pidato Menteri Pendidikan yang baru, Nadiem Anwar Makarim, pada hari Guru Nasional,  25 November 2019.
Beliau mengajak para guru untuk menjadi guru penggerak di manapun berada untuk melakukan perubahan kecil di kelas: 1) ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar, 2) berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas, 3) cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas, 4) temukan sesuatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri, 5) tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan.  
Kelima poin ini adalah refleksi sehari-hari guru yang ada di pelosok negeri ini, jauh dari penerangan PLN dan signal telepon. Menuju tempat tugas, harus menempuh dengan perahu motor atau alternatif lain melalui akses darat sepeda motor atau mobil penumpang yang jika sopirnya tidak menguasai medan, maka bukannya tiba di tempat tugas tetapi tiba di jurang yang sangat dalam.
    Sebenarnya Menteri Pendidikan, Pak Nadiem ini menyeru kepada guru di wilayah mana? Karena guru yang ada di tempat tugas seperti ini, telah lama dilakukan. Alhmdulillahnya, karena lokasi sekolah yang sangat luas. Apalagi di sekolah-sekolah di pelosok lainnya, yang terletak di pinggir hutan atau di pesisir pantai.

Jadi, tentang poin 3 itu sangatlah sering dilakukan. Apalagi sekolah yang berada di pesisir pantai, jika ada siswa yang alpa bersekolah karena kabarnya rumahnya, yang di bangun di atas pantai  itu rubuh, maka serta merta langsung direncanakan untuk sesegera berbakti sosial, melibatkan seluruh siswa dalam kelas maupun luar kelas. Ini salah satu contoh kecil saja dari jenis bakti sosial, yang telah dilakukan.

Demikian halnya pada poin 4, untuk pelaksanaannya, menemukan bakat dalam diri siswa itu, biasanya belajar di luar kelas. Namun, menurut pengamatan, hal ini akan menjadi berat dilaksanakan dalam proses pembelajaran pada sekolah-sekolah yang ada di kota-kota. Sekolah-sekolah yang pembatasnya dengan dinding-dinding tembok besar.

Di kota-kota besar, terdapat sekolah-sekolah yang dikelilingi dinding-dinding pembatas, di sisi-sisinya diberi hiasan bunga-bunga, kolam-kolam ikan, dan taman-taman yang imitasi. Dengan demikian untuk siswa dibawa ke luar ke alam bebas, tidaklah sebebas yang dialami di pelosok negeri ini. Intinya, pihak sekolah berupaya meng”ALAM”i atmosfir kehidupan di sekolah yang sudah mem”Batu”.

Pada poin 1, hal ini juga sering terjadi sebagai alternatif jitu dalam pelaksanaan pembelajaran di pelosok. Terkadang persiapan pembelajaran telah disiapkan, namun apa yang terjadi? Ternyata situasi dan suasana berbeda dari pembelajaran yang telah disiapkan. Misalnya, tiba-tiba hujan di pagi hari, sehingga beberapa siswa yang rumahnya di seberang teluk dan beberapa di pegunungan tidak dapat hadir. Dengan demikian, teknik pada poin 1 yang lakukan, terkadang dipadukan dengan poin 2 untuk menyiasati keadaan. Teknik pembelajaran yang sangat tepat dalam situasi seperti itu.  
Kembali tentang militansi guru. Selama ini guru dihadapkan dengan berbagai macam  administrasi. Benar, apa yang diungkapkan ketua IGI Pusat dalam pertemuan pengurus IGI Pusat, 13 November. IGI merekomendasikan 10 saran antara lain membahas tugas administrasi guru berupa RPP, PTK, dan lain-lain yang tidak ada dampaknya, kegunaannya, dan hubungannya semua aturan administrasi dengan pembelajaran murid serta prestasi siswa.
Jika PTK dan administrasi lainnya perlu ditinjau ulang atau bahkan boleh ditiadakan, tetapi untuk RPP tetap harus ada. Sebab, di dalamnya ada konten tentang indikator capaian pembelajaran. Indikator adalah ukuran pencapaian kompetensi atau dengan kata lain kemampuan yang dimiliki siswa setelah menempuh pembelajaran. Selanjutnya, ketercapaian indikator akan diukur dengan instrumen.
Nah, semua ini ada dalam RPP, termasuk pemilihan model pembelajaran. Dalam model pembelajaran ini, ada perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, sehingga jika tidak ada RPP, maka bisa jadi pembelajaran yang dilaksanakan guru akan “liar”.
Sebaiknya, ketentuan tentang jam wajib 24 jam pelajaran itu yang harus dipenuhi guru, perlu ditinjau ulang. Kenyataan di lapangan, setiap sekolah berbeda-beda jumlah rombelnya, sehingga akan menciptakan persoalan di kalangan guru dalam satu sekolah.
Guru yang belum cukup 24 jamnya, akan mencari sekolah lain untuk memenuhi jumlah jam mengajar ini. Hal ini akan mengakibatkan guru tidak fokus di sekolah induk. Bagaimanapun bentuk sistem pembelajaran sekolah yang dirancang oleh negara melalui menteri pendidikannya, jika diri gurunya tidak memiliki jiwa militansi, maka pendidikan itu akan begitu-begitu saja dari dekade ke dekade. (*)

St.Na’at
Guru SMP Negeri Warironi-Papua

Editor : Redaksi
Penulis : opini