Merevitalisasi Radikalisme dan Krisis Kemanusiaan - Malang Post

Sabtu, 23 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Jumat, 08 Nov 2019, dibaca : 771 , mp, opini

Keragaman adalah salah satu bagian hidup yang didalamnya memiliki sirkulasi yang aktif dalam pergerakannya. Dalam catatan sejarah  perjalanan hidup   manusia,  keberagamaan  berkembang sangat dinamis. Sejak masa purba, sistem religi menjadi faktor penting dalam hidup dan menentukan patron dalam beraktivitas.  
Tidak mengherankan apabila konsep agama yang dihasilkan dari penafsiran-penafsiran itupun kemudian jadi pedoman  untuk menjalani kehidupan yang mereka anggap sesuai dengan versi penciptanya. Dan secara terus-menerus beralterasi  menyertai  kelanjutan  situasi dan kondisi sosial masyarakat                      Komplimen  manusia terhadap keberagamaan mendorong  lahirnya sains dan teknologi yang membawa kepada hadirnya  masyarakat  modern. Akan tetapi  dalam genggaman  masyarakat modern, sains dan teknologi cenderung menjadi “agama pesaing” yang menjauh dari induknya.  
Pendek kata, mereka menyamakan konsep-konsep hidup buatan manusia yang hanya mampu mereka tafsirkan dengan konsep kehidupan manusia versi Penciptanya, tanpa mereka sadari bahwa hal itu pertanda umat manusia telah men-Tuhan-kan buatan mereka sendiri dan tanpa kita sadari pula hal ini pertanda umat manusia telah menjalani hidup yang menyimpang dari fungsi alamiahnya yang konotasi dari penyimpangan tersebut adalah ’Suatu bentuk perlawanan terhadap Penciptanya’.
Alhasil, modernisme dengan sains dan teknologinya tak kunjung mampu memberikan solusi bagi masalah-masalah kemanusiaan.    Kemanusiaan merupakan isu yang mendunia dan aktual yang selalu  menjadi ternding topic. Prinsip-prinsip keadilan, kebebasan, tanggung jawab, dan toleransi merupakan pilar tegaknya kemanusiaan.
Saat ini  manusia harus menghadapi problema hidup yang multi dimensi  yaitu krisis mentalitas, krisis ke-iman-an dan krisis moralitas yang telah mencapai titik sangat membahayakan serta mustahil untuk  diselesaikan menggunakan akal pikiran manusia. Bahkan, multi problema itu  telah membelenggu umat manusia sendiri  sehingga telah mengakibatkan manusia disatu sisi bertambah brutal meng-ekspresikan hidupnya.
Sementara disisi lain menjadi rapuh, lemah dan selalu pasrah dalam menghadapi kehidupan ini. Pada akhirnya, kedamaian hidup umat manusia kini hanya menjadi angan-angan belaka untuk diwujudkan akhirnya menjadi titik lemah tegaknya kemanusiaan.
Demikian itu terjadi karena selama ini  manusia tidak menjadikan ‘kebenaran yang sesungguhnya, sebagai barometer bagi kehidupan manusia di muka bumi.  Jika Hal ini dibiarkan terus-menerus , maka  akan berdampak fatal bagi kelangsungan hidup seluruh manusia yaitu, gagalnya misi umat manusia di bumi ini.                    
Aspek kemanusiaan  diatur oleh sistem dalam agama. Korelasi  dan integrasi dalam keberagamaan mengajarkan  fungsi kemanusiaan secara penuh sesuai  dasar untuk menjalani  hidup sesuai kehendak Sang Pencipta dalam konteks penciptaan manusia di bumi ini Mustahil menegakkan nilai-nilai  kemanusiaan  tanpa melibatkan agama, karena agama diturunkan untuk mengatur hubungan antar manusia dan menunjukkan jalan kemanusiaan.    Walau sering kali agama  dijadikan tunggangan oleh  pihak-pihak tertentu untuk kepentingan utilitarian bagi sebagian orang. Sehingga, agama terkesan sebagai penyulut  atas  timbulnya konflik-konflik kemanusiaan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang sejati (genuine values of humanity) yang terkandung dalam agama menjadi terkotori.            
Minimnya pengetahuan manusia akan dasar pengetahuan hidup yang sesungguhnya itu pun telah mengakibatkan manusia  tidak akan pernah sanggup mewujudkan  kedamaian hidup yang hakiki  memunculkan aksi-aksi radikalisme yang kontraproduktif dengan tujuan agama. Alhasil yang ada kekacauan, respons atas aksi-aksi semacam ini adalah aksi serupa yang tak kalah radikalnya yaitu mengabaikan aspek kemanusiaan    
Aksi dan reaksi yang melewati batas kemanusiaan akan  memupuk  gerakan-gerakan radikalisme dalam format dan motif yang kompleks. Kalau sudah seperti ini , kita dihadapkan dengan tatanan dunia yang diliputi degradasi dan terjerumus  ke jurang frustrasi sosial (social frustration), berdampak terabaikannya  nilai-nilai kemanusiaan.                 
Ada dua pokok masalah terkait krisis kemanusiaan. Pertama,  spiritualitas  yang diabaikan di alam kemanusiaan sehingga memunculkan   pokok masalah kedua, yaitu  salah paham kemanusiaan.                            Ada kecenderungan kita mengabaikan  spiritualitas dari kemanusiaan dengan anggapan akan memicu kreativitas optimal pada sains dan teknologi menuju puncak kedaulatan yang bertakhta di atas singgasana keangkuhan. Akibatnya, apa yang disebut keadilan, kebebasan, tanggung jawab, dan toleransi berbalik menjadi diskriminasi, kekangan, intoleransi, dan pembangkangan.    Kesalahpahaman dan kekacauan pada masyarakat modern merupakan  produk dari pengingkaran terhadap agama sebagai istana  kemanusiaan. Faktanya  spiritualitas adalah penghayatan keberagamaan menuju  sebuah perjalanan ke dalam diri manusia sendiri untuk menemukan hakikat kemanusiaannya.                                
Kekuatan paling besar untuk membangkitkan rasa kemanusiaan tempat ketenangan dan perlindungan yang menenteramkan hati pada hakekatnya terletak pada keragaman. Mustahil kita bisa menegakkan kemanusiaan dengan “melarikan diri” dari istana  kemanusiaan kita sendiri. Namun keberagamaan bukan satu-satunya  solusi bagi krisis kemanusiaan, diperlukan pula  elaborasi dengan perkembangan kekinian.            
Agama kini berhadapan dengan dua kekuatan yang pertama, ortodoksi  yang membaur antara fakta dan mitos, kedua, buaian akan modernisme. Ortodoksi  berupaya membangkitkan nostalgia tentang masa lalu dan menghambat kreativitas masa kini untuk masa mendatang. Sementara modernisme berupaya merobohkan  pilar agama dengan buaian  logika dan layanan  teknologi yang membiuskan.                        
Dua kekuatan yang dihadapi agama ini berkembang secara terpisah, namun saling merespons satu dengan yang lain, dan pada saat-saat tertentu menohok agama dari arah yang berlawanan.        
Ortodoksi  menjahanamkan  agama atas nama penegakan syariat demi mengembalikan kejayaan masa lalu yang sirna. Tradisi-tradisi agama di masa lalu yang dalam sejarahnya berhasil mengangkat kejayaan agama ke puncak kegemilangan yang mendorong umat beragama kepada kekaguman yang membiuskan.
Mereka  rela mencecap  kejayaan  masa lalu  dan  memunguti kristal-kristal peradaban yang tinggal serpihannya. Sesungguhnya kristal-kristal  itu adalah faktanya sejarah masa lalu yang tidak dapat dihapuskan, namun tanpa meramu  dengan fakta  masa kini, mustahil  melahirkan  keagungan yang mempesona.                            
Sedangkan modernisme menginvasi  agama melalui tangan-tangan para pemuja logika yang mengklamufasekan  sains dan teknologi. Mereka mengusung paham yang mengarah kepada  sekularisasi atas nama pemberadaban yang gemilang.                
Untuk itu  dibutuhkan  aksi  guna  terbukanya titian  bagi terwujudnya  dunia baru yang dapat  merevitalisasi aspek-aspek kemanusiaan,  termasuk agama sebagai ruh kehidupan sosial yang mewadahi paham-paham kemanusiaan. Agar umat manusia selalu sanggup menyesuaikan mekanisme hidupnya dengan konteks kehendak penciptanya. 
Artinya bila umat manusia  berpedoman  pada ”kebenaran yang sesungguhnya’’ yang ada pada diri setiap  (roh manusia), maka umat manusia akan menjadi sanggup menciptakan kesesuaian antara mekanisme hidup manusia dengan mekanisme kehidupan alam  sebagai habitat-nya. (*)

* Oleh : Ratnawati, S.Pd ( Pengajar Sejarah SMAN 1 Kota Malang )



Jumat, 22 Nov 2019

Infrastruktur berperspektif HAM

Jumat, 22 Nov 2019

Filosofi Busana

Loading...