Menyoal Defisit Transaksi Berjalan

Jumat, 18 Oktober 2019

Senin, 30 Sep 2019, dibaca : 321 , mp, opini

Beberapa waktu lalu nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, khususnya dollar AS mengalami depresiasi terendah sejak krisis 1998 silam. Rupiah juga melemah terhadap mata uang emerging market di kawasan Asia Tenggara, seperti ringgit Malaysia dan bath Thailand.
Beberapa ekonom menyatakan pelemahan rupiah tersebut sebagai respon terhadap sentimendefisit transaksi berjalan (Current Account Defisit/CAD). Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa yang tercermin melalui inflasi, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.
Berdasarkan publikasi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) per Agustus 2019defisit neraca transaksi berjalan meningkat dari US$7,0 miliar atau 2,6% dari PDB pada triwulan sebelumnya menjadi US$8,4 miliar atau 3,0% dari PDB.
Lalu bagaimana dampak dari CAD? Faktor apakah yang menyebabkan CAD semakin meningkat? Pertanyaan ini dijawab dengan dua komponen yang digunakan dalam defisit transaksi berjalan, yaitu defisit perdagangan yang berkaitan dengan aktivitas ekspor-impor dan investasi asing yang berkaitan dengan aktivitas penanaman modal asing.
Bank Indonesia dan Pemerintah berkoordinasi melalui Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah (Rakorpusda) yang menghasilkan langkah strategis untuk mendukung kinerja NPI yang lebih baik.

Defisit Transaksi Berjalan

Apa itu defisit transaksi berjalan? Sederhananya, defisit transaksi berjalan dapat dipahami sebagai kondisi keuangan negara dimana terjadi penurunan surplus neraca perdagangan barang sebagai akibat menurunnya ekspor dan/atau meningkatnya impor barang, defisit neraca jasa-jasa, dandefisit pada neraca pendapatan neto.
Impor dan ekspor merupakan instrumen dalam perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB). PDB sendiri merupakan tolak ukur dari laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. Semakin tinggi nilai PDB yang diperoleh, maka semakin baik laju perekonomian negara tersebut. Demikian pula sebaliknya.
Rasio defisit transaksi berjalan terhadap PDB digunakan untuk memberikan indikasi tingkat daya saing internasional negara tersebut.


Strategi Mengurangi Defisit Transaksi Berjalan

Strategi untuk mengurangi CAD saat ini terfokus pada perbaikan neraca perdagangan melalui upaya mendorong ekspor, substitusi impor, dan potensi jasa yang juga mendatangkan devisa ke dalam negeri khususnya pariwisata. Ekspor bisa ditingkatkan dengan mendorong komoditas dan industri yang memiliki kapasitas tak terpakai.
Sehingga, peningkatan produksi bisa dilakukan dengan cepat tanpa perlu menambah investasi baru. Substitusi impor barang konsumsi maupun bahan baku dapat menjadi opsi jalan keluar untuk menekan CAD.
Sementara itu, neraca jasa menjadi salah satu sumber untuk menekan CAD. Sektor pariwisata yang berada dalam neraca jasa merupakan sektor yang potensial. Perkembangan pariwisata ditunjukan oleh kontribusi dalam PDB, jumlah wisatawan, dan nilai penerimaan devisa.
Sektor pariwisata memberikan dampak langsung dan tidak langsung bagi perekonomian. Secara tidak langsung, pengembangan sektor tersebut mampu menyerap tenaga kerja sehingga berdampak kepada peningkatan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, secara langsung sektor pariwisata bisa meningkatkan aliran modal ke Indonesia.

Upaya KPw BI Malang

Klaster kopi di Kabupaten Malang dan Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu produk potensial yang berorientasi ekspor. Pendekatan end to end process atau dari hulu ke hilir diterapkan untuk mendukung pengembangan klaster kopi. KPw BI Malang bekerjasama dengan Komunitas Eksportir Muda Indonesia (KEMI) menyelenggarakan workshop ‘Ekspor ltu Mudah’ menuju UMKM-IKM Go Export  yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai informasi dan kesempatan untuk membuka pasar ekspor. Selain itu, Puslitkoka Jember digandeng sebagai tenaga ahli pelatihan dan pendampingan kepada Klaster Kopi.
Salah satu kelompok tani (Poktan) komoditas kopi binaan yang telah berhasil menembus pasar ekspor adalah Poktan Sumber Makmur Abadi di Kabupaten Pasuruan. Melalui MOU Kerjasama Ekspor Kopi dan Ubi Lembaga Rumah Dagang Indonesia  (LRDI), telah dilakukan ekspor green bean arabika dan robusta ke Perancis sebanyak 22 ton atau senilai Rp 1,8 miliar setiap 1 kali musim panen.
Selanjutnya, untuk pengembangan komoditas kopi agar produk lebih diterima pasar akan didorong untuk memperoleh sertifikasi SNI, UTZ, dan EU.
Dari sisi subtitusi impor, KPw BI Malang bersama dengan Poktan Tani Maju 01, Dinas Pertanian Kota Batu, dan Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu (PKPHT) Universitas Brawijaya mengembangkan  pembuatan lahan implementasi/demplot klaster bawang putih di Desa Tulungrejo Kota Batu. Bawang putih merupakan komoditas pertanian dengan komposisi impor yang cukup tinggi. Panen perdana telah dilakukan pada awal bulan September 2019 di lahan dengan hasil panen diperkirakan mencapai 12 ton/Ha.
Hal ini merupakan salah upaya untuk mengurangi ketergantungan impor bawang putih dalam jangka pendek, sehingga dapat menekan CAD dalam jangka panjang.
Peningkatan jumlah wisatawan khususnya mancanegara menjadi sumber pemasukan daerah sehingga dapat dijadikan faktor kunci dalam menekan CAD. Destinasi wisata prioritas yang berada di wilayah kerja KPw BI Malang, yaitu Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Perkembangan pariwisata di era digital direfleksikan bahwa 63% dari seluruh perjalanan dicari, dipesan, dibeli, dan dijual secara online. KPw BI Malang memfasilitasi balai besar TNBTS untuk mendorong penggunaan instrumen pembayaran non tunai sehingga dapat memudahkan wisatawan melalui layanan booking online.
Bagi wisatawan yang akan berkunjung dapat memesan tiket melalui website http://bookingbromo.bromotenggersemeru.org// yang akan dilakukan uji coba per 1 Oktober 2019.
Length of stay wisatawan dapat ditingkatkan melalui bundling paket wisata di kawasan wisata baru di sekitar TNBTS. Desa Wonokitri yang ditetapkan sebagai desa tematik edelweiss diharapkan mampu menjembatani kepentingan konservasi tumbuhan edelweis dengan kepentingan adat dan budaya Suku Tengger sebagai atraksi baru di kawasan TNBTS.
Dengan demikian, upaya untuk mengurangi CAD merupakan tanggung jawab seluruh pihak. Baik pemerintah pusat, daerah, maupun pelaku usaha dalam skala mikro kecil dan menengah. (*)

Oleh :Gustian Widyaningrum
Manajer Tim Advisory & Pengembangan Ekonomi
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang



Rabu, 16 Okt 2019

Polemik Batas Usia Nikah

Senin, 14 Okt 2019

Orkestrasi Buzzer

Loading...