Menunggu Bukti Atasi Banjir | Malang Post

Kamis, 14 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 06 Okt 2019, dibaca : 1362 , vandri, sisca

BANJIR perkotaan salah satu masalah yang tak pernah tuntas di Kota Malang. Puluhan miliran rupiah digelontor dalam dua tahun terakhir. Tapi hasilnya jauh dari harapan. Kini Pemkot Malang mengusulkan Rp 16 miliar untuk atasi banjir.

Tahun 2018 lalu, Pemkot Malang menganggarkan Rp 16 miliar untuk sejumlah proyek atasi banjir. Anggaran sebanyak itu diwujudkan dalam berbagai proyek drainase. Tahun anggaran 2019 juga dialokasikan Rp 16 miliar  untuk program mengatasi banjir.  Berarti sudah dua tahun anggaran Rp 32  miliar untuk atasi banjir.
Berdasarkan catatan Malang Post, Rp 4,6 miliar dari Rp 16 miliar pada tahun 2019 dialokasikan berdasarlan usulan musyawarah rencana pembangunan kelurahan (musrenbangkel). Sedangkan anggaran Rp 2,4 miliar direalisasi dalam wujud pengerjaan fisik. Salah satunya di Kecamatan Klojen, yakni pembangunan drainase Jalan Wilis hingga Jalan Ijen. Kemudian di Kecamatan Kedungkandang seperti di kawasan Jalan Kalianyar menuju Baran dan di kawasan RW 002 Kelurahan Wonokoyo. Proyek ini menghabiskan anggaran sekitar Rp 949 juta.
Kemudian di Kecamatan Blimbing terdapat pembangunan dan rehabilitasi drainase di Jalan Muharto Gang V,  RW 04 dan RW 06 Polowijen, Jalan A Yani Utara hingga Kali Mewek menelan anggaran Rp 1,1 miliar. Terakhir di Kecamatan Lowokwaru dilakukan pembangunan drainase di Jalan MT Haryono menelan anggaran Rp 201 juta.
Menurut catatan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) APBD Kota Malang, tahun anggaran 2020 terdapat lima program kegiatan prioritas berkenaan dengan perbaikan infrastruktur mencegah banjir atau munculnya titik genangan seperti tahun sebelumnya.
Jika ditotal anggaran atasi banjir dalam KUA PPAS  mencapai angka anggaran kurang lebih Rp 16,3 miliar.  Beberapa di antaranya program kegiatan prioritas pada rehabilitasi drainase sepanjang 10 kilometer Rp 200 juta. Selain itu, pemeliharaan rutin drainase Rp 6,572 miliar.
Ada juga program pemeliharaan insidentil drainase sepanjang 2 km dianggarkan sebesar Rp 4 miliar.  Pemkot Malang melalui DPUPR juga mengusulkan perencanaan infrastruktur Sumber Daya Alam (SDA) dan drainase  Rp 5 miliar. Selain itu ada juga pembangunan saluran drainase khusus di enam titik dianggarkan sebesar Rp 600 juta.
Anggota Komisi C DPRD Kota Malang Ahmad Fuad Rahman menjelaskan pihaknya sudah mengetahui anggaran yang disulkan DPUPR Kota Malang. Utamanya di kegiatan rehabilitasi atau pembangunan drainase untuk atasi banjir.
Politisi PKS ini menjabarkan perbandingan anggaran 2019 dan 2020 dinilai rasional. Karena berbagai kejadian banjir sebelumnya tidak boleh dilupakan. Dimana kurang lebih 20 titik banjir dan genangan air muncul saat musim penghujan.
Ia menegaskan hal inilah yang akan dilihat secara detail perencanaan anggaran dalam hearing minggu depan dengan DPUPR Kota Malang.
“Di KUA PPAS kita memang sudah lihat dan perhatikan anggran untuk antisipasi bencana banjir. Jumlahnya sekitar Rp 16,3 miliar. Kami perhatikan betul mana pekerjaan drainase yang akan dikerjakan akan kita lihat detail,” jelasnya.
Ia menegaskan Komisi C DPRD Kota Malang sudah sepakat untuk menekankan pengawasan pada beberapa kegiatan penanganan permasalahan infratstruktur Kota Malang. Yakni kemacetan, sampah dan banjir tentunya.
Salah satu cara atasi banjir yakni membangun saluran drainase. Kepala DPUPR Kota Malang Ir Hadi Santoso mengatakan, panjang drainase yang harus terbangun  sepanjang 1.785,69 kilometer.  “Capaian kinerja drainase di tahun 2018 sudah mencapai 82,73 persen,” katanya. Ia menjelaskan drainase dengan kondisi baik saat ini sepanjag 596,60 km, sementara dalam kondisi sedang sepanjang 881,24 km. Maka hingga akhir 2018 lalu drainase yang sudah terbangun sepanjang 1.477.24 km.
Pria yang akrab disapa Soni ini menjelaskan di tahun 2019 ini ditarget atasi 20 lokasi genangan air.  “Pada tahun 2020 akan kita kerjakan lagi di 26 lokasi. Sehingga penurunan titik lokasi genangan air bisa mencapai 100 persen,” tegasnya.
Ia mengakui antisipasi banjir ataupun genangan air memang difokuskan pada perbaikan atau rehabilitasi serta pembangunan jaringan drainase. Untuk itu selain menargetkan hal ini, setiap harinya tim satgas PUPR melakukan pembersihan rutin drainase.
Saat membersihkan saluran drainase, petugas temukan sampah menumpuk di sepanjang saluran utama. Inilah yang diakuinya menyebabkan genangan bahkan banjir hebat ketika musim hujan. Sementara itu di 2020 mendatang. Anggaran untuk mengantisipasi genangan atau banjir juga sudah disiapkan. (ica/van)



Loading...