MalangPost | Mengumandangkan Adzan Shallu fi Rihalikum

Minggu, 07 Juni 2020

  Mengikuti :


Mengumandangkan Adzan Shallu fi Rihalikum

Kamis, 02 Apr 2020, Dibaca : 4107 Kali

TANYA: Sebuah video beredar yang berisi kumandang adzan dari sebuah masjid di Timur Tengah dengan lafal “Shallu fi rihalikum.” Muadzin dalam video ini meminta siapapun yang mendengar adzannya untuk melakukan salat di rumah karena darurat Covid-19. Karena itu, sebagian masjid di Indonesia juga mengumandangkan adzan serupa. Pertanyaannya, apakah ada keterangan mengenai masalah ini?  

 

JAWAB: Pada awal 2020, masyarakat dunia, tidak terkecuali umat Islam, digemparkan dengan penyebaran Covid-19, sebuah virus mematikan yang dapat menular melalui kontak langsung. Umat Islam memutuskan untuk menghentikan sementara ibadah yang dilakukan secara bersama-sama seperti ibadah salat Jumat, salat berjamaah, dan peringatan keagamaan lain. Seperti haul, tabligh akbar, isra mi’raj, dan lain sebagainya.


Semua aktivitas ibadah terutama salat Jumat ditunda untuk sementara waktu, terutama pada zona merah Covid-19, dan salat berjamaah di masjid untuk dikerjakan di rumah. Adapun soal penambahan atau perubahan lafal adzan, kita menemukan dalam hadits nabi pelbagai lafal serupa, yaitu shallu fi rihalikum, shallu fi buyutikum, atau shallu fir rihal. Lafal tambahan atau perubahan lafal ini dikumandangkan saat uzur hujan, angin kencang, atau uzur lainnya.


Sahabat Ibnu Abbas RA dan Ibnu Umar RA melafalkannya secara berbeda. Sahabat Ibnu Abbas menyisipkan lafal “shall? fir rih?l” atau “shall? f? buy?tikum” sebagai pengganti seruan “hayya ‘alas shal?h.”
Sedangkan sahabat Ibnu Umar melafalkan “shall? fir rih?l” setelah semua lafal adzan dikumandangkan. Ketentuan penambahan menurut Ibnu Umar RA atau perubahan menurut Ibnu Abbas RA diangkat dalam fiqih mazhab Syafi’i antara lain.


Imam An-Nawawi mengulasnya dengan penjelasan yang hampir sama pada dua kitab berbeda. “(Kesepuluh) Imam As-Syafi’i RA mengatakan di akhir bab azan, jika malam hujan atau berangin dan gelap, muazin dianjurkan menambahkan lafal “Al? shallu fi rih?likum” setelah menyelesaikan lafal adzannya. Tetapi jika ia menyisipkannya setelah lafal hay‘alah (hayya alas shalah dan hayya alal falah). Demikian nash As-Syafi’i.


Nash ini dikutip dan diputuskan oleh Al-Bandaniji. Demikian juga As-Shaydalani, penulis Kitab Al-Uddah, As-Syasyi, dan ulama lain mengutipnya huruf per huruf persis seperti yang saya kutip. Mereka berhujah dengan hadits yang insya Allah akan saya sebutkan di depan. Imam Al-Haramain menganggap pendapat “disisipkan di tengah azan” terlalu jauh.


Menurutnya, perubahan atas lafal adzan tanpa sebab itu terlalu jauh sebagaimana disebutkannya pada bab salat jamaah. Padahal pendapat tersebut tidak jauh, bahkan benar dan sunnah sebagaimana didasarkan atas banyak hadits pada riwayat Bukhari dan Muslim perihal penambahan lafal di tengah azan berlangsung dan setelah azan selesai,” (Imam An-Nawawi, Al-Majmu’, Syarhul Muhazzab, [Beirut, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: 2010 M], juz III, halaman 119).


Pada Kitab Raudhatut Thalibin, Imam An-Nawawi menjelaskan dengan uraian serupa. Di sini ia mengatakan bahwa penambahan atau perubahan lafal adzan tidak merusak azan, tentu sejauh ada uzur atau hajat yang dibenarkan dalam syariat. “Dalam Kitab At-Tahdzib dikatakan, seandainya muazin menambahkan zikir pada lafal azan atau menambah bilangan lafal azan, maka tindakan itu tidak merusak adzan…


Penulis Kitab Al-Uddah mengatakan, bila malam hujan, berangin kencang, atau gelap kelam, muazdin dianjurkan menambahkan lafal “Al? shallu fi rih?likum” setelah adzannya selesai. Tetapi jika ia menyisipkannya setelah lafal hay‘alah (hayya alas shalah dan hayya alal falah), maka hal itu tidak masalah sebagaimana pendapat As-Shaydalani, Al-Bandaniji, As-Syasyi, dan ulama lain. Imam Al-Haramain menganggap pendapat terakhir terlalu jauh.
Padahal pendapat tersebut tidak jauh, bahkan benar dan sunnah sebagaimana nash Imam Syafi’i di akhir bab azan Kitab Al-Umm. Pendapat ini didasarkan pada hadits Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas RA” (Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa Umadatul Muftin,[Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H], juz I, halaman 231-232).


Adapun berikut ini adalah hadits riwayat Imam Muslim yang mengisahkan perintah Ibnu Abbas RA untuk menyisipkan “shall? f? buy?tikum” sebagai pengganti seruan “hayya ‘alas shal?h.”
 Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata kepada muazinnya pada hari hujan, ‘Bila kau sudah membaca ‘Asyhadu an l? il?ha illall?hu, asyhadu anna muhammadan ras?lull?h,’ jangan kau teruskan dengan seruan ‘hayya ‘alas shal?h,’ tetapi serulah ‘shall? fi buy?tikum.’’ Orang-orang seolah mengingkari perintah Ibnu Abbas RA. Ia lalu mengatakan, ‘Apakah kalian heran dengan masalah ini? Padahal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku. Sungguh Jumat itu wajib. tetapi aku tidak suka menyulitkanmu sehingga kamu berjalan di tanah dan licin.’” (HR Muslim).


Berikut ini adalah hadits riwayat Imam Muslim yang mengisahkan kumandang adzan Ibnu Umar RA untuk menyudahi seruan adzannya dengan “shall? f? rih?likum” karena pernah menyaksikan Rasulullah SAW dalam suatu ketika meminta muadzinnya berbuat serupa.
Artinya, “Dari Nafi‘, dari Ibnu Umar bahwa ia mengumandangkan azan pada malam yang dingin, berangin, dan hujan.


Di akhir adzan ia menyeru, ‘al? shall? f? rih?likum. Al? shall? fir rih?l.’ Lalu ia bercerita bahwa Rasulullah pernah memerintahkan seorang muazin ketika malam berlalu dengan dingin atau hujan dalam perjalanan untuk menyeru ‘al? shall? f? rih?likum,’” (HR Muslim). Demikian keterangan yang kita dapatkan perihal penambahan atau perubahan lafal azan dalam situasi tertentu, termasuk darurat penyebaran wabah Covid-19 pada awal 2020 ini. (nuo/udi)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : NUO