Menguak Jalur Lama KA di Malang Raya | Malang Post

Kamis, 14 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 29 Sep 2019, dibaca : 3120 , vandri, mp

MALANG RAYA punya sejarah panjang kereta api (KA). Selain alat transportasi populer sejak era kolonial, juga pemicu pertumbuhan kawasan. Lokasi jalur-jalur lama KA di Malang jadi buktinya. Hanya saja, seiring waktu aset-aset PT KAI itu berserakan bahkan hilang. Akibatnya sebagian jejak heritage lenyap.
Berdasarkan data sejarah kereta api yang dihimpun Malang Post dari berbagai sumber, Stasiun KA Gongdanglegi merupakan salah satu stasiun yang pernah ramai. Kini memang tak aktif lagi, bahkan sudah sulit menemukan keberadaan bangunannya. Lokasi persisnya sebenarnya berada di Jalan Suropati, Kampung Stasiun, Desa Gondanglegi Wetan, Kecamatan Gondanglegi.
Awalnya pembangunan Stasiun Gondanglegi bersamaan jalur KA Malang-Bululawang-Gondanglegi sepanjang 23 kilometer.  Pengerjaan jalur ini dilakukan Malang Stoomtram Maatschappij (MSM) pada tahun 1897, selesai tahun 1898. Stasiun dan jalur tersebut beroperasi pada tahun 1899.
Awalnya kereta api di kawasan ini berfungsi mengangkut tebu dari perkebunan menuju ke pabrik gula. Lambat laun berubah menjadi angkutan orang. Warga kala itu menyebut sebagai  trem.
Pada tahun 1973 jadwal keberangkatan trem dari Gondanglegi menuju Dampit pukul 04.00 WIB dan 12.00 WIB. Sebaliknya, dari Dampit menuju Gondanglegi terjadwal pukul 09.00 dan 16.00 WIB. Biayanya saat itu sebesar limangrepes atau Rp 5,- (lima rupiah).  
Koneksitas jalur trem dari Stasiun Gondanglegi menuju ke arah utara (Stasiun Malang Kotalama), ke arah barat (Stasiun Kepanjen), dan ke arah timur (Stasiun Turen maupun Dampit), menjadikan stasiun ini ramai setiap harinya.
Namun sayang, jalur trem itu sudah tidak aktif lagi (opgebroeken) sekitar tahun 1979 karena mulai sepi. Diperkirakan kalah bersaing dengan mobil angkutan umum.
Kini Stasiun Gondanglegi sudah tak tampak lagi. Bangunan stasiun yang berukuran 165 meter persegi sudah terkapling menjadi tempat tinggal sejumlah keluarga.  Tanah stasiun seluas 35.676 meter persegi juga sudah tidak kelihatan lintasan relnya alias raib. Itu karena telah berdiri kapling-kapling rumah di atasnya. Namun demikian masih dicatatkan sebagai aset milik PT KAI dengan nomor register 068/08.65174/GDL/ML.

Jalur Penting di Stasiun Turen
Hingga era tahun 1970-an, Turen punya stasiun KA. Tepatnya di Desa Talok, Kelurahan Sedayu dan Kelurahan Turen yang terbentang  rel kereta api zaman kolonial, yang terus beroperasi sampai sekitar  1970-an. Meskipun tidak panjang, kawasan ini termasuk area penting yang menyambungkan Stasiun Gondanglegi menuju Stasiun Dampit.
Saat ini, jalur-jalur tersebut tak lagi aktif, meskipun masih terlihat sisa-sisa peninggalannya. Rel kereta api  tampakdi pertigaan Talok menuju Gedok Wetan. Di jalur ini, tampak besi rel kereta api, menjalar diagonal memotong pertigaan yang juga sering dilewati wisatawan yang ingin menuju pantai Sendangbiru dan sekitarnya ini.
Menurut keterangan yang dihimpun, kawasan pertigaan inilah yang diperkirakan sebagai halte kereta api trem Talok. Tapi, saat ini bangunan halte tersebut sudah tidak ada.  Hanya tersisa rel kereta api yang tertutupi aspal. Ada dua lonjor rel kereta yang menggantung di atas sungai di pertigaan Talok.
Dari Talok, rel kereta api masih membentang ke timur hingga ke perbatasan dengan Rembun yang sudah masuk wilayah Kecamatan Dampit. Pada perbatasan Turen dan Dampit, terdapat jembatan yang berada di atas Kali Lesti, begitu masyarakat lokal menyebut sungai ini. Di sisi utara jembatan Lesti, terdapat dua pilar besar.
Pilar besar berwarna hitam inilah penanda paling nyata, operasional KA yang menghubungkan Turen dan Dampit pada era colonial. Selanjutnya, di kawasan Sedayu, terdapat jalur rel kereta api di sisi utara Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Sedayu. Kawasan sepanjang kurang lebih 2 kilometer ini hanya menyisakan beberapa jejak rel saja.
Tapi, di pertigaan Sedayu, tepatnya di halte PT Pindad Persero, terdapat sebuah papan KA berkarat. Plang ini tak pernah dipindah, dan berada di pertigaan Sedayu sampai sekarang. Plang inilah yang menandai bahwa kawasan pertigaan Sedayu, dulunya adalah jalur persimpangan kereta api. Sementara, jalur rel dari Sedayu ke Turen, sudah hilang sama sekali. Manajer Humas

Akhir Kisah di Dampit
Stasiun KA Dampit beroperasi pada tahun 1899. Stasiun ini  merupakan titik akhir jalur kereta api Malang–Gondanglegi–Dampit. Stasiun tersebut dibuka bersamaan jalur Talok–Dampit pada 14 Januari 1899.  
Operasional angkutan barang di jalur ini didominasi  tebu dan gula dari Pabrik Gula Kebonagung dan Pabrik Gula Krebet. Selain itu, untuk penumpang didominasi kaum pedagang.
Jalur ini dinonaktifkan pada tahun 1978 untuk layanan umum karena kalah bersaing dengan mobil pribadi dan angkutan umum. Penelusuran Malang Post, bangunan Stasiun KA Dampit
sudah berubah fungsi karena lahannya disewakan.
Arwoko dan Sri Isminati merupakan salah satu penyewa aset PT KAI di Dampit. Pasangan suami istri ini menyewa lahan seluas 2 x3  sejak tahun 1979 untuk usaha warung.
“Ya nyewa ke KAI, dulu bayarnya Rp 300 (tiga ratus rupiah) per tahun. Nah saya tahun 1993 ditagih bayar sebesar Rp 55 ribu,” ungkap Arwoko.
Ia mengaku kini memiliki tiga petak lahan seluas 3 x 5 meter untuk mengembangkan usahanya berdagang keperluan rumah tangga dan service kompor. Selain Arwoko dan istrinya, Nurhayati, warga lainnya juga menyewa lahan di bekas Stasiun Dampit untuk usaha. Ia kini memiliki kurang lebih lima bangunan gudang barang bekas (rongsokan) dengan ukuran masing-masing 4 x 6 meter persegi.
“Terakhir saya bayar ke PT KAI Rp 55 juta, itu akumulasi 15 tahunan. Saya bayar itu sekitar 2004 lalu. Sampai sekarang belum ada lagi tagihan,” ungkap Nurhayati.
Arwoko dan Nurhayati paham bahwa suatu saat nanti jika PT KAI menginginkan kembali lahannya itu,  mereka harus bersedia menyerahkan.   
Pantauan Malang Post, bekas stasiun sudah banyak tertutupi bangunan lain. Digunakan untuk usaha maupun rumah warga. Bahkan bagian depan bekas stasiun ini berdiri bangunan toko modern.
Menurut sejumlah warga sekitar, saat ini kurang lebih 30 sampai 40 petak lahan di areal bekas stasiun yang telah terbangun sederet bangunan. Sisa bangunan Stasiun Dampit yang bisa dilihat hingga kini hanya bangunan kecil di depan stasiun. Dulunya bangunan tersebut merupakan kantor stasiun. Kini terbengkalai begitu saja.  

Di Pakis Tak Berbekas
Senasib dengan stasiun non aktif lainya. Di Pakis sebenarnya pernah berdiri stasiun KA, persinya di Desa Pakis Jajar. Namun demikian, bangunan itu sudah tidak ada sekarang. Warsini, warga Desa Pakis Kembar mengakui cerita itu. Ia bahkan mengatakan, salah satu buktinya terdapat  gang di dekat rumahnya yang diberinama Gang PJKA. ”Sebelah namanya Gang Stasiun,’’ ungkapnya.
Selain bekas rel kereta api, di wilayah ini juga ada perumahan dinas untuk pejabat PT KAI. Ada tujuh unit rumah dinas, yang saat ini ditempati warga karena disewakan. ”Kalau wilayah ini hampir rata-rata merupakan aset PT KAI. Itu tandanya juga sudah dipasang. Kami hanya menyewa saja disini,’’ katanya.
Sementara salah satu pondasi jembatang kereta api, sekarang juga dimanfaatkan oleh pengembang property  Pakis Ville di Desa Pakis Kembar. Pondasi jembatan itu digunakan sebagai kantor pemasaran.
 
Bisniskan Aset
PT KAI Daop 8 memiliki tujuh  stasiun yang masih aktif di wilayah Malang Raya hingga sekarang. Ini merupakan aset penunjang moda transportasi kereta api yang memiliki relasi di beberapa daerah di Jawa Timur.
Humas PT KAI Daop 8 Suprapto menjelaskan dari tujuh  stasiun ini,  satu di antaranya merupakan Stasiun Besar Tipe B. Yakni Stasiun Kotabaru yang terletak di Kecamatan Klojen Kota Malang. Sementara stasiun lainnya bertipe stasiun sedang kelas I.
Menurut data Peta Jaringan Kereta Api Jawa dan Madura PT KAI Daop 8,  selain Stasiun Besar Kotabaru, sejumlah stasiun bertipe sedang lainnya tersebar di wilayah kota juga Kabupaten Malang. “Ada Stasiun Lawang, Singosari, Blimbing, Kotalama, Kebonagung hingga Stasiun Pakisaji,” jelasnya.
Berbagai aset PT KAI ini tidak hanya yang sebatas aktif dan masih beroperasi saja. Ada pula yang sudah tidak aktif. Kurang lebih terdapat 32 lintasan rel yang sudah non aktif. Suprapto mengatakan aset PT KAI di wilayah Malang Raya yang tercatat berupa bangunan stasiun dan juga lintasan rel.
Dijelaskannya, jalur kereta dan juga stasiun yang sudah non aktif  terdapat di tiga kawasan relasi. Pertama relasi Stasiun Blimbing yang memiliki lintasan rel dari Wendit, Bugis, Bunut, Pakis I, Pakis II, Pasir, Cokro, Jeru hingga Tumpang.
Kedua dari relasi Stasiun Kotalama. Yakni melintasi Lowokdoro Kacuk, Kendalpayak, Sempalwadak, Bululawang, Krebet, Bulupayung hingga berhenti di Ketawang.
Terakhir yang sudah nonaktif ada di jalur relasi Kepanjen. Dengan lintasan rel dari Panggungrejo, Mangir, Jenggolo, Sengguruh, Bumiayu, Jambergede, Kanigoro, Brongkol II, Brongkol I, Banjarejo I, Gondanglegi, Sepanjang, Sedayu, Rembun, Pamotan hingga berakhir di Stasiun Dampit.
“Aset-aset ini masih ada hingga saat ini sementara non aktif. Karena sudah lama tidak beroperasi alias ditutup karena berbagai alasan,” jelasnya.
Berbagai aset PT KAI yang kini non aktif difungsikan untuk bisnis persewaan pemanfaatan lahan atau aset.
Saat ditanya apakah ada kemungkinan merevitalisasi stasiun atau mengembalikan kembali jalur kereta api lawas,  Suprapto menjelaskan hal tersebut bukan ranah PT KAI. “Untuk pengaktifan kembali jalur rel yang sudah tidak aktif itu ranahnya Ditjenka (Direktorat  Jenderal Perkeretaapian, red),” tegasnya.
Ditjenka merupakan unsur pelaksana pada Kementerian Perhubungan. Salah satu tugasnya menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang perkeretaapian.  (fin/ica/ley/ira/van)



Minggu, 20 Okt 2019

The Heritage of Penang

Loading...