Mengintip kreasi dan aksi Makaryoman, band warga binaan LP | Malang Post

Minggu, 17 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 20 Okt 2019, dibaca : 828 , vandri, fino

ORANG bijak belajar dari kesalahan. Begitu juga, sembilan warga binaan Lapas Lowokwaru yang tergabung dalam Makaryoman Band. Grup musik menjadi salah satu jalan mereka lahir kembali selama dalam masa pembinaan di lapas peninggalan Belanda itu.
Suara Kalapas Klas 1 Malang, Yudi Suseno mengalun diiringi gitar ala reggae yang renyah, terlantun di Lapas Lowokwaru. Suara drum nan rancak tapi santai, tergebuk di kafe jamur lapas. Chord progresif dari bassist yang terdengar mantap, semakin menghidupkan suasana reggae.
“Kalau cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang. Kesedihan hanya tontonan, bagi mereka yang diperkuda jabatan. Wo o ya o ya o ya bongkar. Wo o ya o ya o ya bongkar,” nyanyi Yudi. Musik reggae yang ‘santuy’, dikombinasikan dengan lagu favorit Yudi, dibawakan dengan sangat apik oleh Makaryoman.

Baca Juga : Hasil Tes Urine BNN Malang Petugas Dua Lapas Bebas Narkoba


Ya, band bernama Makaryoman ini adalah band reggae Lapas Lowokwaru. Sembilan orang, yang mampu menyajikan performa musik ala profesional ini, adalah warga binaan Lapas Lowokwaru pimpinan Yudi Suseno.
Memang, saat ini mereka sedang menjalani masa hukuman atas kesalahan masa lalu.
Namun, bukan berarti tak bisa menyalurkan bakat dan kreativitas. Sebaliknya, Yudi menegaskan, Makaryoman terbentuk sebagai upaya Lapas Lowokwaru  mewadahi semangat dan niatan berkarya warga binaan. Apalagi, Yudi berani menjamin kualitas dan musikalitas para personel Makaryoman tidak kalah dari band profesional.
“Bisa dilihat sendiri, kualitas mereka tidak kalah dari band profesional di luar sana,” ujar Yudi saat mengundang Malang Post ke kafe jamur hasil produksi mandiri warga binaan lapas.
Dia mengatakan, Makaryoman merupakan ide yang lahir  untuk menjaga semangat kreasi,  dan bakat musisi potensial yang kebetulan menghuni Lapas Lowokwaru. Makaryoman  terdiri dari sembilan orang warga binaan lapas. Yaitu, Fikri, vokalis utama dan lead guitarist, Ajar bermain drum, Rizki pemain jimbe, Paul posisi di bass, Andhika pada keyboard dan Pungky vokal dua. Selain itu, Anton pada marakas, Alvianto vokal tiga atau rap, serta Saiful yang merupakan soundman.
Kepala Pengamanan Lapas Lowokwaru, Giyono menyebutkan band ini berawal dari spirit mengasah bakat. “Serta mewadahi minat dan kreasi warga binaan. Personel dikumpulkan, lalu kami memberikan fasilitas alat musik untuk mereka mulai latihan,” kata Giyono.
Reggae dipilih sebagai genre utama dari Makaryoman sesuai kegemaran para personelnya.  
Sebelum menghuni lapas, mereka adalah musisi yang sudah mencicipi dunia profesional dan tak gamang saat manggung.  
“Kami percaya bahwa semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar. Kami sekarang beri mereka kepercayaan dan kesempatan, untuk mengaktualisasikan bakat, dan bisa dijajal, mereka punya kualitas musik yang bisa diadu,” tandas Giyono.
Terbaru, Makaryoman tampil di Festival Band HUT ke-41 FKPPI yang dihelat di GOR Ken Arok Malang, 17 Oktober 2019. Dengan style yang unik, mereka membuat cover semua lagu dari berbagai genre dan artis, menjadi lagu bernuansa reggae yang asyik dipakai untuk bergoyang ala rasta.
Tak hanya itu, sebelumnya pada 15 Oktober lalu, Sosiologi UB, Arek Reggae Malang dan d’Kross menghelat konser reggae dalam  Lapas Lowokwaru. Makaryoman, sebagai tuan rumah, tampil membanggakan dengan style reggae yang kental. Keseharian para personel Makaryoman adalah latihan.
Saat tidak ada jadwal tampil di dalam Lapas Lowokwaru atau pun di luar, mereka mendapatkan kesempatan untuk berlatih. Dalam latihan ini, biasanya mempelajari semua lagu, serta mengaransemen ulang musiknya dengan reggae. Lagu pop, rock, dangdut dan genre lainnya, dipermak dengan gaya reggae.
Sehingga, referensi musik populer dan lawas terus ditambah oleh Makaryoman. Tujuannya  untuk semakin memperkaya permainan musik reggae yang mereka pilih sebagai jalur berkarya. Tak hanya itu, para personel Makaryoman, juga diberi kesempatan brainstorming, untuk menciptakan lagu orisinil mereka sendiri.
“Dengan dukungan kepada mereka, kami berharap bisa memicu potensi positif, utamanya dalam hal seni, kreasi dan inovasi. Tak hanya itu, kami pun berharap, setelah keluar dari lapas, mereka bisa menjadi lebih baik dan punya bekal dalam hidup bermasyarakat,” tutup Giyono.(fino yudistira/van)



Loading...