Mengharukan, Teatrikal Santri SMA Sabilillah | Malang Post

Rabu, 29 Januari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Rabu, 23 Okt 2019,

MALANG - Intimidasi dan penindasan oleh Pasukan kolonial Belanda membuat para santri Jawa Timur turun membela rakyat. Pertempuran berdarah pun tak terhindarkan. Korban dari kedua belah pihak berguguran. Pemandangan itu terlihat di Lapangan Kampus 2 Sabilillah, saat peringatan Hari Santri Nasional 2019, Selasa (22/10).
Sejumlah siswa SMA Islam Sabilillah menampilkan teatrikal yang memukau. Mereka menceritakan perjuangan para santri dalam merebut kemerdekaan bangsa Indonesia, khususnya Jawa Timur berupa penampilan teater.
Kisah perjuangan hidup dan mati para santri yang gugur sebagai syuhada ditampilkan begitu apik oleh siswa. Mereka menceritakan Resolusi Jihad yang dikobarkan oleh para Laskar Sabilillah, dalam mengusir penjajah di masa lalu.
Berkat semangat dan fatwa Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari, para santri yang tergabung dalam Laskar Sabilillah bergerak dari Malang ke Surabaya. Mereka bergabung dengan para pejuang bangsa yang ada di Kota Pahlawan.

Baca Juga : Unisma Persembahkan Buku Acuan untuk PTNU
Berkat kegigihan dan perjuangan yang ikhlas, dilandasi dengan semangat jihad fii Sabilillah para santri dan pejuang bangsa, berhasil memukul mundur para penjajah. Dalam teatrikal siswa Sabilillah tersebut, puncak kemenangan dalam pertempuran sengit itu ditandai dengan penyobekan warna biru pada bendera Belanda, hingga menjadi bendera Merah Putih.
Waka Kesiswaan dan Humas SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School, Agus Budiono, S.Pd, mengaku merasa terharu dan sempat tertegun melihat aksi teatrikal siswa.
"Saya sangat bangga, dan merasa terharu. Karena anak-anak berhasil menceritakan perjuangan luar biasa oleh para santri di masa lalu," ucapnya kepada Malang Post.  
Teatrikal siswa yang tergabung dalam kelompok Pramuka SMA Islam Sabilillah tersebut, membuka mata masyarakat bahwa peran santri sangat besar terhadap kemenrdekaan Bangsa Indonesia. Tidak banyak yang tahu bahwa kekuatan besar yang berhasil mengusir penjajah di Jawa Timur berasal dari kalangan santri.  
Hal itu tidak lepas dari pengajaran dan pencerahan para ulama saat itu. Dimana rasa dan sikap Cinta Tanah Air, merupakan bagian dari keimanan seseorang. Hingga lahirlah Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Ulama Besar, Pendiri Nahdhatul Ulama KH. Hasyim Asy'ari.
Menurut Agus, penampilan anak didiknya sarat akan makna bagi para pemuda khususnya kalangan santri saat ini. Setiap langkah pengorbanan para pejuang di masa lalu diharapkan menjadi pembelajaran bagi generasi bangsa. "Banyak yang bisa kita pelajari, mulai semangat dan keteguhan hati para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan NKRI," terangnya.
Masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Karena kedaulatan bangsa Indonesia bergantung pada generasinya. "Inilah tugas santri saat ini, mereka punya peran besar untuk terus menjaga kedaulatan bangsa dengan semangat, keterampilan dan pengetahuannya," tukasnya.

Hari Santri, Perkuat Dua Komitmen Kebangsaan dan Keagamaan
Sementara itu, ribuan santri juga berkumpul di Halaman Balai Kota Malang, Selasa (22/10). Mengenakan pakaian putih dan bersarung, para santri mengikuti upacara peringatan Hari Santri. Hadir dalam kegiatan ini Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Malang. Selain melakukan upacara, juga ada penyerahan beasiswa dari Baznas untuk beberapa santri dan juga ustadz/ustadzah. Serta pemberian penghargaan kepada santri berprestasi..
Dalam upacara tersebut, para santri diajak mengingat kembali peran santri untuk menjaga keutuhan NKRI pasca kemerdekaan.
“Maka, dengan peringatan Hari Santri ini, semakin membuat kita bersemangat untuk mengisi kemerdekaan Indonesia,” terang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang, KH. Baidlowi Muslich.
Dengan adanya peringatan tersebut, pia berharap, para santri harus memiliki dua komitmen yang kuat, yakni keagamaan dan kebangsaan. Sebab, kalau hanya satu saja, akan berpotensi menimbulkan konflik. Seperti radikalisme dan lainnya.
“Kita harus cetak mereka dengan dua komitmen tadi. Sehingga, mereka mampu menjaga keutuhan NKRI,” jelas dia.
Wali Kota Malang, Sutiaji menambahkan, momentum Hari Santri menjadi starting poin untuk menjaga keutuhan NKRI. “Saat ini, tantangannya semakin berat, tidak seperti dulu. Sebab, akselerasi budaya lebih cepat,” jelas dia.
Untuk itu, pihaknya meminta para santri untuk memegang teguh ikrarnya. Sehingga mampu membangun keutuhan bangsa dan negara.
“Sesuai dengan amanat undang-undang, membangun keutuhan bangsa harus dimulai dari diri sendiri, termasuk para santri,” tandas dia.(imm/tea/ary)

Editor : bagus
Penulis : imam






WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...