Menggali Kearifan Lokal Santri | Malang Post

Kamis, 14 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Selasa, 22 Okt 2019, dibaca : 498 , mp, opini

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 22 Oktober 2015 dimaksudkan untuk meneladankan semangat jihad kepada para santri tentang keindonesiaan yang digelorakan para ulama. 
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Aizzudin Abdurrahman (Gus Aiz) dalam momentum menjelang Hari Santri Nasional (HSN) 2019 mengingatkan para santri agar dapat percaya diri dengan segala tantangan di depan. Santri harus lebih percaya diri dan meningkatkan kapasitasnya bukan hanya sebagai santri tapi sebagai apapun (Bisnis.com, 17/10/19).
UU Pesantren, kata dia, kini menjadi payung hukum bagi pemerintah untuk memajukan ponpes. Maka dari itu, harus disambut dengan baik, terlebih tantangan santri makin kompleks di tengah perkembangan teknologi yang dinamis. 
Pada ulang tahun santri yang keempat ini, tidak dapat dipungkiri santri telah memiliki kontribusi dan dampak positif yang besar dalam ranah bangsa yang pluralis. Dalam kompleksitas pasca reformasi, santri harus berusaha menghindarkan diri dari berbagai jebakan romantisme sejarah dan rutinitas kegiatan yang akan berujung pada kejenuhan berorganisasi. Sebab, dalam faktanya memang masih banyak agenda-agenda kebangsaan, keumatan, dan kemanusiaan yang butuh uluran perhatian dan tindakan. 
UU Pesantren, kata dia, kini menjadi payung hukum bagi pemerintah untuk memajukan ponpes. Maka dari itu, harus disambut dengan baik, terlebih tantangan santri makin kompleks di tengah perkembangan teknologi yang dinamis. 
Meski reformasi telah berlangsung hampir satu dasawarsa, perkembangan bangsa ini belum sepenuhnya membaik. Adegan oknum elite pejabat muslim dalam kasus yang terjerat ranah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan hilangnya nilai-nilai kearifan local.
Ibarat “Buruk muka, cermin dibelah” itulah pepatah memalukan yang masih membalut wajah bangsa. Tokoh yang semestinya menjadi panutan dan memberi ketauladanan bagi umat sebaliknya justru menjadi badut yang dipertontonkan. 
 Secara definitif santri tidak lahir dari ruang hampa, namun terbalut kompleksitas ketimpangan sosial dan distorsi akidah, fikih dan teologi, kemiskinan yang menggurita, serta keterbelakangan pendidikan. Sementara secara holistis, tekanan penindasan Belanda dan Jepang sempat mewarnai corak keberagaman yang disuguhkan kaum santri. 
Kaum santri pada masa kini dapat berperan di berbagai bidang dan terbukti saat ini kalangan pesantren dapat menjadi ekonom, politikus, intelek, pengusaha, dan sebagainya. 
Sebaliknya saat ini amar ma’ruf  nahi munkar adalah sebagai pijakan kuat untuk mengikis kaum populis terdidik yang masih “tamak” keduniaannya sehingga telah meninggalkan platform intelektualitas bermoral agamis. Oleh karena itu, ke depan wawasan imajinatif ini harus dibangun sembari menyiapkan kandidat embrio santri menjadi pimpinan yang berakhlak karimah, dapat menjadi publik figur pada masyarakat.
Saat ini, persoalan besar yang dihadapi santri adalah dihadapkan pada ideologi neo-liberalisme dan kapitalisme global. Kebodohan dan keterbelakangan alamiah sebagai faktor korelatif pemicu kemiskinan. Namun, hal yang lebih memprihatinkan adalah pudarnya nilai-nilai budaya alamiah. Budaya “rasa” dan “isin” yang kini hampir pudar, terutama seperti yang terlihat dalam praktik penyelenggaraan negara. 
Dunia pendidikan sebagai pencetak intelektualitas justru mendapat tamparan yang memalukan. Tokoh-tokoh politikus dan birokrat yang dipercaya mengarsiteki lini penting pelayanan masyarakat terbukti justru mencontohkan praktik-praktik korupsi dan makelar kasus hingga penggelapan uang pajak mililiaran rupiah.  Itukah sepak terjang keilmuan santri yang berorientasi pada platform politik dan bertendensi pada pilar agama? 
Kontradiksi atas tujuan profesionalitas yang terlalu tajam dan kegalauan yang muncul atas eksodusnya santri, khususnya kaum proletar, sudah terbukti. Kondisi ini memprihatinkan karena tokoh-tokoh yang menjadi panutan dan pijakan kaum proletar sudah terimbas pada eksistensi individualisme yang keluar dari rel pondok pesantren. Sudah banyak kaum populis yang kehilangan arah sebagai hilangnya nilai-nilai komtimen yang telah lama dibangun dan diyakini warga pesantren. 
Dalam kiprahnya, proses gerakan ini jelas cenderung kaku dalam polarisasi pemikiran secara mondial. Revitalisasi persoalan keumatan seharusnya direspons kaum santri dengan menghadirkan metodologi baru jika cikal bakal Islam, yaitu santri masih ingin tetap survive dalam memberikan layanan sosial (welfare society) yang masih sehati dengan para heterogenitas aqidah lainnya di Indonesia. 

Hermeneutika 
Kelangsungan perjalanan bangsa ini sebagaimana yang dicita-citakan founding fathers sangat dikhawatirkan. Kalau krisis multidimensional ini tidak dapat (segera) diatasi, maka keadaan bangsa ini di waktu mendatang akan lebih parah lagi. 
Terkait dengan hal itu, metodologi yang patut ditawarkan adalah “hermeneutika” sebagai tool of analysist merevitalisasi “kearifan lokal” di tengah modernisasi masyarakat dewasa ini, meski lagi-lagi perlu ditekankan di sini bahwa hukum adat atau kearifan lokal di instrumen juga memiliki corak beragam. 
Menghadirkan metodologi hermeneutika dengan menggali konteks kearifan lokal niscaya untuk membangun relasi yang harmonis. Orang Jawa membatinkan perintah dasar untuk mencegah konflik sebagai sesuatu yang positif dan belajar memahami struktur hierarki masyarakat. 
Bahkan, Weber pernah menyarankan dikembangkannya etika persaudaran (brotherly love) untuk mengatasi merajalelanya hedonisme. Hanya dengan menggali, menekuni, dan menerapkan kembali tuntutan kearifan lokal yang positif, yang akan menempatkan kembali komunitas manusia Jawa terhormat di antara komunitas lain. 
Pemikiran intelektual melalui metode hermeneutika adalah sebuah obsi untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal yang berwawasan imajinatif, intelektual, cerdik cendekia, dan spiritualisme dalam penalaran religiusnya pada aplikasi umat Islam. Dengan demikian, santri harus dapat mewarnai bahkan menjadi salah satu faktor penting agar perkembangan saat ini tidak menjadi mudarat atau kerusakan akan tetapi sebagai manfaat bagi kemanusiaan. 
Dalam perannya pada era masa kini, identitas santri harus tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai seorang yang dapat menempatkan nasionalisme dan agama dalam satu tarikan nafas. Identitas santri sebagai ciri khas kearifan lokal harus tetap melekat karena merupakan martabat santri yang sesungguhnya. (*)


Oleh : Djajusman Hadi
Inventor dan Penyunting Majalah Komunikasi Universitas Negeri Malang (UM)



Rabu, 13 Nov 2019

Branding Kreatif

Loading...