Mengenal Makam Mr dan Mrs X TPU Sukorejo Kota Malang | Malang Post

Sabtu, 07 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Kamis, 26 Sep 2019, dibaca : 1080 , bagus, sisca

Pernah bertanya-tanya di mana atau kemanakah jenazah-jenazah orang yang disebut sebagai Mr dan Mrs X? Mereka warga tak dikenal yang meninggal di waktu dan tempat yang jauh dari tempat hidupnya, tanpa membawa identitas. Di Kota Malang para Mr dan Mrs X tersebut disemayamkan di Tempat Pemakaman Umum Sukorejo.

Orang-orang sekitar sering menyebut makam ini sebagai makam prodeo. Tidak jelas mengapa warga sekitar menyebutnya dengan Makam Prodeo.  Arti kata prodeo sendiri ada dalam Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia No 1 Tahun 2014 tentang Pedoman Pemberian Layanan Hukum Bagi Masyarakat Tidak Mampu Di Pengadilan. Prodeo adalah proses berperkara di pengadilan secara cuma-cuma dengan dibiayai negara melalui anggaran Mahkamah Agung RI.
Pemakaman Mr dan Mrs X, karena tidak menjadi tanggung jawab warga masyarakat karena tidak ada yang mengklaim maka menjadi tanggungan negara.  Lalu berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Penyelenggaraan Pemakaman pada Pasal 8. Disebutkan bahwa Pemerintah Daerah berkewajiban mengurus dan melaksanakan pemakaman bagi jenazah orang tidak dikenal atau jenazah yang tidak diakui keluarga atau ahli warisnya atas beban biaya daerah.
Maka makam prodeo disematkan bisa jadi atas dasar tanpa tanggungan biaya bagi warga. Dan negara yang menanggungnya. Malang Post mengunjungi TPU Sukorejo ini. Lokasinya di Jalan Muharto Gang VIII Kota Malang, suasananya seperti pada TPU umumnya. Sepi jika tidak ada prosesi pemakaman.
Yang jelas berbeda adalah nisannya. Di TPU ini, mereka yang tanpa identitas dimakamkan lalu diberikan nomor sandi saja tertulis pada nisannya yang terlihat seperti batu bata putih.
Hariani, Administrasi UPT Pemakaman Umum Nasrani Sukun menjadi salah satu petugas yang kerap melaksanakan prosesi pemakaman bagi mereka yang tanpa identitas. Ia pun sempat menceritakan pengalamannya memakamkan orang-orang yang tidak dikenal di sana.
“Ya sepi. Prosesi pemakaman itu begitu sederhana, hanya dihadiri oleh petugas dari UPT Pengelolaan Pemakaman Umum sekaligus yang mengurus kelengkapan jenazah berupa nisan, telisik, kain kafan dan lainnya. Tanpa ada istri, suami, orang tua, handai taulan, orang terdekat, sahabat atau tetangga,” papar Hariani saat menceritakan.
Sebelum dilakukan pemakaman , jenazah yang sebagian besar adalah korban tabrak lari, sakit, bayi yang dibuang, korban pembunuhan, gelandangan, pengemis ini sudah diproses oleh pihak kepolisian.
Kemudian kepolisian akan menyerahkan pada pihak rumah sakit, biasanya RS Saiful Anwar untuk mengotopsi jenazah. Hariani menjelaskan, apabila dalam kurun waktu dua hari atau lebih pihak keluarga tidak ada yang mencari maka pihak rumah sakit akan menghubungi petugas TPU Sukorejo untuk menyiapkan prosesi pemakaman.
“Sebenarnya TPU Sukorejo ini adalah pemakaman umum. Dan untuk yang tidak dan identitasnya ada lahan yang memang disiapkan,” paparnya.
Sebelumnya di sekitar tahun 1970, lanjut Hariani, tempat makam bagi jenazah tanpa identitas berada di TPU Samaan yang berada di Jalan Tawangwangu. Akan tetapi, lambat laun, kebutuhan lahan TPU Samaan semakin tinggi. Hingga di akhir 1970, makam prodeo ditempatkan di TPU Sukorejo tepatnya di Blok V seluas 2.500 meter persegi.
Turut menambahkan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Malang Takroni Akbar mengungkapkan, memang salah satu blok di TPU Sukorejo dibuat untuk pemakaman jenazah tanpa identitas.
Meski begitu, lanjut Takroni, ketika jenazah dimakamkan tanpa identitas, petugas selalu memberikan nomor registrasi. Dengan pendataan lengkap mulai dari tanggal, jam maupun tahunnya sebagai informasi atau keterangan jika nantinya suatu saat diperlukan manakala terdapat orang yang mencari.
Dikatakannya, Pemkot Malang memang telah menunjuk rumah sakit untuk mengirimkan jenazah-jenazah Mr X ke TPU Sukorejo ini. Bahkan sekali mengirimkan, pernah sampai 10 jenazah secara langsung yang dikuburkan. Hingga kini ratusan jenazah tanpa identitas sudah dimakamkan di sana.
"Untuk biaya pemakaman, seperti penggalian, kain kafan dan lainnya memang ditanggung oleh pemerintah daerah," jelas Takroni.
Jika nantinya makan ini sudah over capacity, tentunya sistem tumpuk akan diberlakukan, lanjutnya. Hal ini dianggap tidak maalah karena dalam rentan waktu dua tahun jenazah sudah hancur.
Maka jika ada jenazah baru datang akan kembali diisi di liang lahat yang sudah pernah diisi sebelumnya. (Sisca Angelina/ary)



Kamis, 05 Des 2019

Kelola Dua Bisnis di Kepanjen

Loading...