Mengenal Briptu Devyan Wildan Arif, Anggota Sipropam Polres Malang | Malang Post

Senin, 18 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Kamis, 12 Sep 2019, dibaca : 5799 , bagus, agung

Devyan Wildan Arif, adalah anggota Sipropam Polres Malang. Polisi berpangkat Brigadir Polisi Satu (Briptu) ini, ternyata seorang atlet binaraga. Ia juga menyabet peringkat IV nasional body kontes pada tahun 2018 lalu.

Postur tubuhnya ramping. Badannya sangat kekar. Orang lain yang melihat, terutama kaum hawa pasti akan kepincut. Apalagi meski terlihat garang dengan body tubuh yang padat, Devyan orangnya kalem dan sopan.
Pria kelahiran Malang 28 Desember 1992 ini, tercatat sebagai anggota Polri sejak tahun 2013. Ia mengawali dinas di Kepolisian di Polda Jawa Timur, sejak 2014 lalu setelah menjalani pendidikan.
Warga Desa Sumbermanjing Kulon, Kecamatan Pagak ini, memulai start latihan fitness sejak 2014. Awal latihan hanya sekadar mencari kegiatan positif. Sekaligus ingin memiliki postur tubuh yang ideal.
"Sewaktu awal jadi Polisi, saya kan menetap di barak Polda Jatim. Ketika lepas dinas, dari pada hanya tidur saja, akhirnya mencari kesibukan positif. Apalagi usai pendidikan, postur tubuh saat itu juga kurus," ucap Devyan.
Untuk menjadikan tubuh yang ideal, Devyan pun akhirnya berlatih fitness. "Saya awalnya hanya iseng-iseng saja untuk mengisi waktu luang. Sekaligus ingin menaikkan berat badan usai pendidikan," katanya.
Kemudian pada tahun 2015, Devyan pindah ke Polres Malang. Ia kembali menggeluti latihan fitness bersama dengan anggota lainnya. Setahun kemudian, pada 2016 Devyan mencoba mengikuti body kontes lokal Jawa Timur di Kediri.
"Tetapi saat itu, saya tidak menang karena baru pemula. Apalagi, belum tahu bagaimana cara diet yang benar," tutur pria berusia 26 tahun ini.
Gagal menang pada body kontes pertama yang diikuti, tidak membuat Devyan patah semangat. Dia terus berlatih sendiri secara otodidak. Kemudian pada 2017 kembali mengikuti kontes di Semarang. Devyan pun berhasil meraih juara VII.
Keberhasilan meraih penghargaan pertama itu, lantas membuat Devyan semakin bersemangat. Ia terus berlatih untuk bisa menjadi yang terbaik. Selanjutnya pada November 2018 kembali mengikuti body kontes tingkat nasional dalam kompetisi Atlas Battle Of Muscle di Surabaya.
Devyan turun di kelas Middle Muscle. Pesertanya berjumlah 450 orang dari seluruh Nusantara. Termasuk ada peserta dari Malaysia dan Brunai Darussalam. Hasilnya Devyan keluar sebagai juara IV nasional.
"Saya mendapatkan uang Rp 2 juta serta beberapa peralatan dan keperluan fitness. Namun sebenarnya bukan hadiah yang saya cari, tetapi sebuah kepuasan dan kebanggaan," tuturnya.
Keberhasilan Devyan menjadi juara IV nasional, semakin menambah semangatnya. Pada November 2019 nanti, ia akan kembali mengikuti kompetisi body kontes tingkat nasional lagi, yang akan diselenggarakan di Bandung dan Surabaya. Rencananya akan turun di kelas tertinggi yakni Pro Muscle.
"Sekarang saya sudah mulai mempersiapkan diri. Sebab, lawan yang akan saya hadapi di kelas tertinggi nanti jelas sangat berat. Tetapi saya optimis bisa bersaing, meskipun selama ini hanya berlatih sendiri secara otodidak tanpa ada pelatih," jelasnya.
Devyan mengurai, selama ini terus berlatih. Sepekan 4 sampai 5 kali, ketika tidak ada event. Namun ketika mendekati kompetisi, 5 sampai 6 kali dalam sepekan. Setiap kali berlatih sekitar 2,5 jam.
Begitu juga dengan makan, juga harus teratur. Sehari makan tujuh kali. Pertama pukul 06.30, kemudian jam 09.00, lalu jam 12.00. Selanjutnya sebelum latihan pukul 14.00, dan setelah latihan pukul 17.00.
Malam harinya makan lagi pukul 19.00 dan pukul 22.00. Menu makanannya pun tidak sembarang. Harus disesuaikan dan setiap kali makan tidak sama. Bahkan makan nasi hanya sekali pukul 17.00, itupun hanya 75 gram saja.
"Kalau pagi biasanya makan kue dari gandum dan buah pisang. Ditambah dengan satu kuning telur dan 4 putih telur serta daging dada ayam," ungkapnya.
Kalau malam biasanya hanya makan dada ayam dan sayur. Ditambah dengan buah-buahan. "Kalau buah paling hanya nanas, pepaya dan pisang. Proteinnya kalau tidak dada ayam, ya ikan tuna. Dada ayam 3 kilogram tanpa kulit dan tulang itu, habis hanya untuk dua hari," paparnya.
Selain menu makanan yang memang khusus untuk menjaga stabilitas badannya, Devyan setiap hari juga mengkonsumsi obat suplemen protein dan pembakar lemak. Suplemen tambahan itu, untuk menjaga supaya otot tetap kencang dan tidak sampai ada lemak.(Agung Priyo/ary)



Loading...