Menengok Saksi Bisu Letusan Merapi | Malang Post

Jumat, 13 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Sabtu, 31 Agu 2019, dibaca : 885 , Muhaimin, agiem

Panorama Gunung Merapi masih menjadi daya tarik wisatawan. Sisa-sisa dampak letusan Gunung Merapi menjadi saksi biksu yang masih bisa dirasakan sampai saat ini. Musnahnya perkampungan di sekitar lereng gunung tersebut akibat letusan beberapa tahun silam, kini menjadi berkah sumber pencaharian bagi masyarakat sekitar lerengnya.
Kali ini, tim Malang Post berkesempatan untuk menengok langsung saksi bisu dahsyatnya letusan Sang Merapi beberapa waktu lalu. Perjalanan dimulai dari menyusuri salah satu reruntuhan rumah terjangan wedus gembel, bunker kali adem, hingga menyusuri kali Gendol. Sepanjang kawasan lereng gunung yang masih dekat dengan perkampungan penduduk, sangat mudah menemukan panduan paket perjalanan menggunakan kendaraan Jeep menuju tempat-tempat tersebut.
Setiap kendaraan Jeep mampu menampung empat wisatawan. Sang supir sekaligus berperan sebagai 'tour guide', yang sejak dimulainya perjalanan langsung menjelaskan kisah dibalik sejumlah tempat yang akan dikunjungi.
Ketika kendaraan Jeep semakin menanjak membelah jalan terjal lereng Merapi, debu vulkanik pekat berhamburan ke sana kemari. Sepanjang jalan pepohonan dan tumbuhan hijau memang banyak menjulang, namun hampir setiap helai daunnya tertutup debu vulkanik tersebut. Menurut Adi, supir yang membawa Tim Malang Post beserta rombongan, letusan Gunung Merapi telah meluluh lantakkan semua lahan pertanian warga, tapi kini sudah banyak tumbuhan yang kembali hidup subur.
"Sekarang sudah banyak ditanami pohon kayu keras. Beberapa kali sudah terlihat dipanen. Tapi paling banyak ada rumput liar untuk pakan ternak, makanya banyak masyarakat di bawah beternak di lereng yang banyak rumputnya," jelasnya.
Lanjutnya, lereng hingga radius sepuluh kilo meter kini sudah tak dihuni oleh warga. Mereka umumnya mencari peruntungan di lereng merapi untuk mencari rezeki, baik itu beternak, hingga berdagang ditempat wisata. Namun, mereka tidak tinggal di radius tersebut. Menjelang petang, mereka akan turun dari lereng dan kembali ke rumah mereka di pemukiman bawah lereng Merapi.
Letusan dahsyat Gunung Merapi beberapa tahun silam telah meluluh lantakkan peradaban manusia di sekitar lerengnya. Terakhir pada tahun 2010, awan panas atau wedus gembel membinasakan sejumlah perkampungan dengan radius belasan kilo meter.
Pemberhentian pertama perjalanan adalah ke reruntuhan rumah bekas terjangan wedus gembel yang disebut milik seorang dokter yang mendonasikannya sebagai museum mini. Rumah tersebut menjadi satu-satunya rumah di kawasan tersebut yang terlihat cukup utuh dibanding dengan reruntuhan lain di sekitarnya.
Pada rumah tersebut, dapat ditemui berbagai barang yang terkena paparan wedus gembel. Mulai dari barang-barang rumah tangga yang meleleh, hingga tulang beluluang hewan ternak. Salah satunya adalah jam dinding yang berada di salah satu dinding rumah tersebut, yang disebut baru behenti ketika wedus gembel mengenainya.
"Jam dinding ini tepat behenti pukul 24.15, jarumnya masih terlihat. Walaupun bingkainya sudah meleleh. Bisa dibayangkan bagaimana dahsyatnya," sambungnya.
Kemudian perjalanan dilanjutkan menaiki lereng yang lebih tinggi untuk mencapai bunker kali adem. Pada letusan Gunung Merapi tahun 2006, bunker tersebut telah menelan korban dua orang relawan yang berniat menyelamatkan diri dari terjangan lahar.
"Dua relawan itu masuk bunker. Mereka pikir Merapi hanya mengeluarkan awan panas, tapi ternyata keluar lahar luapan dari kali Gendol. Mereka ditemukan tewas, salah satunya di bagian kamar mandi bunker," kisahnya.
Tak jauh dari bunker kali adem, terdapat kali Gendol yang merupakan kali luapan lahar Gunung Merapi. Letusan pada 2006, kali gendol ternyata tak mampu menahan luapan lahar merapi, meskipun kedalamannnya mencapai puluhan meter dari permukaan yang juga menjadi lokasi bunker Kali Adem.
"Sekarang, hampir ratusan truk setiap hari keluar masuk Kali Gendol untuk membawa pasir. Kabarnya, pasirnya dikirim hingga kawasan Solo dan Semarang," pungkasnya.
Letusan Gunung Merapi menyisakan duka mendalam bagi masyarakat yang menjadi korban, atau mereka yang kehilangan pemukiman akibat bencana tersebut. Namun kini, banyak hikmah yang dapat dipetik. Mulai dari bagaimana kita mengingat kekuasaan Tuhan dalam mengendalikan seisi bumi, hingga sisa bencana yang ternyata kini mampu memberikan penghidupan bagi masyarakat sekitar Merapi.(mg3/aim)



Loading...