Menelusuri Bangunan SDN Dinoyo 1 Kecamatan Lowokwaru | Malang Post

Sabtu, 07 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Sabtu, 28 Sep 2019, dibaca : 1434 , halim, asa

MALANG - Jika dilihat sekilas, bangunan SDN Dinoyo 01 Kecamatan Lowokwaru ini terlihat tak berbeda dengan bangunan sekolah pada umumnya. Namun siapa sangka, lokasi berdirinya bangunan ini diduga merupakan pusat peradaban masa Kerajaan Kanjuruhan di masa lalu. Menurut arkeolog Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono, sebelum berubah nama, bahkan SDN Dinoyo 1 memiliki nama sebagai Sekolah Kanjuruhan.
Jika berdasar pada pengetahuan taponimi, umumnya asal usul nama sebuah tempat diberikan sesuai dengan tokoh masyarakat atau peradaban yang menghuni lokasi tersebut. Namun nama SDN Dinoyo 1 sendiri kemudian disematkan lantaran terdapat ketentuan penyesuai administrasi era Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto.
"Dinoyo sendiri kisahnya panjang, disebutkan telah menjadi pusat peradaban sejak abad ke 8 pada masa Kerajaan Kanjuruhan. Menariknya, setelah ditelusuri, SDN Dinoyo 1 dahulu namanya adalah 'Sekolah Kanjuruhan'. Kalau tidak salah mulai berubah sejak masa Orde Baru. Pemberian nama tentu erat kaitannya dengan sejarah tempat tersebut," paparnya.
Apalagi, belum lama ini, sekolah yang terletak disebelah barat Unisma tersebut kembali menemukan temuan benda purbakala yakni sebuah Yoni, yang ditemukan hanya beberapa cm dari Yoni lama yang sudah ditemukan pada awal tahun 2000 an. Temuan kedua tersebut tentu memperbesar kemungkinan bahwa masih banyak benda purbakala lain yang terpendam di bawah bangunan sekolah.
Sayangnya, temuan Yoni-yoni di SDN Dinoyo 1 berada pada himpitan bangunan tepatnya ruang kepala sekolah dan pagar sekolah yang langsung berhadapan dengan Jalan Raya Dinoyo. Bahkan bangunan sekolah juga sudah dicor, lantaran bangunannya juga menyambung hingga lantai dua. Sedang sebelah barat dari temuan Yoni tersebut merupakan tandon air milik PDAM Kota Malang.
Sebelumnya juga sempat ditemukan perhiasan kalung dan anting berbahan perunggu di bawah bangunan yang saat ini sudah menjadi bangunan dua lantai. Selain itu, Museum Empu Purwa milik Disbudpar Kota Malang sudah pernah berupaya memindahkan temuan Yoni pertama, namun gagal lantaran ukuran Yoni yang tak bisa terangkat oleh alat berat.
Kembali meruntut pada pendapat Dwi Cahyono, jika melihat ukuran Yoni di SDN Dinoyo 1, maka ukuran bangunan candinya bisa seukuran Candi Badut. Sebab, Yoni merupakan pusat dari sebuah bangunan suci sekte Hindhu Shiwa yang ada pada abad ke-8 pada masa Kerajaan Kanjuruhan. Kemudian melihat lokasi sumber air (tandon air) yang tepat berada di sebelahnya, menguatkan dugaan bahwa lokasi tersebut merupakan pusat peradaban di masa lalu.
"Lokasi temuan Yoni menjadi pusat sebuah bangunan suci, kalau dilihat dari ukurannya kurang lebih seperti yang ada di Candi Badut.  Kemungkinan luas bangunan Candinya seluas Candi Badut. Mungkin berada tepat di bawah bangunan ruang Kepala Sekolah. Kalau luas situsnya bisa sampai tandon air sebelah baratnya. Jadi pas, bangunan suci yang dekat dengan sumber air," ujarnya.
Ditambahkan oleh Dwi, lokasi bangunan suci dahulu menjadi pusat peradaban dari masyarakat agraris. Bangunan suci yang bersebelahan dengan sumber air sering digunakan untuk ritual meminta kesuburan pada tanaman, hingga untuk melihat posisi matahari guna menghitung waktu yang tepat untuk menanam tanaman bagi masyarakat yang ketika itu mayoritas merupakan petani.
Usai penemuan Yoni kedua kali ini, Dwi Cahyono mengapresiasi pihak sekolah SDN Dinoyo 1 yang telah berinisiasi untuk mengeksplorasi lebih dalam setelah penemuan Yoni pertama. Menurutnya kecenderungan masyarakat sekarang tak terlalu peduli dengan benda-benda purbakala, dan mengacuhkan nilai historis yang terkandung dalam benda-benda tersebut.
Bisa dibayangkan, bangunan sekolah SDN Dinoyo 1 yang berada pada sudut bagian barat pertigaan jalan yang memisahkan dengan kampus Unisma merupakan pusat dari sebuah kehidupan di masa lalu. Tak menutup kemungkinan sekitar wilayah tersebut juga masih ditemukan benda purbakala lainnya. Pada lokasi tak jauh dari SDN Dinoyo 1, tepatnya di Merjosari, juga ditemukan dua buah Yoni, namun tak sebesar ukuran Yoni di SDN Dinoyo 1.
Kepala Sekolah SDN Dinoyo 1 Nurul Hidayatus, S.Pd menyampaikan bahwa pihaknya berencana untuk menjadikan temuan Yoni di sekolahnya sebagai sumber pembelajaran sejarah kepada para siswa. Tidak hanya bagi siswa SDN Dinoyo 1 namun juga terbuka bagi siswa atau masyarakat secara umum. Mengingat nilai sejarah di balik penemuan tersebut harus diketahui oleh masyarakat.
"Rencananya kita akan jebol tembok ruang Kepala Sekolah bagian selatan yang menghadap ke Jalan Raya Dinoyo, kemudian kita ganti dengan kaca. Ruanganmya juga akan kita fungsikan sebagai museum mini yang berisikan informasi -informasi sejarah di balik penemuan ini," jelasnya.(asa/lim)



Loading...