Mendunia Melalui Lukisan | Malang Post

Selasa, 12 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Kamis, 17 Okt 2019, dibaca : 453 , bagus, fino

Kota Batu melahirkan seniman di bidang seni rupa yang diperhitungkan secara nasional dan internasional. Berkat keindahan dan kenyamanan kota ini mereka melahirkan karya-karya. Pelukis Koeboe Sarawan, Slamet Hendro Kusumo dan Iwan Rusdin Yusuf menghasilkan masterpiece yang mengharumkan nama Kota Batu.

Dengan kesunyian Kota Batu malam hari yang dingin, Koeboe Sarawan memulai proses kreatifnya untuk menghasilkan karya. Atmosfer Batu dengan secangkir kopi, di studio lantai tiga rumahnya, melengkapi rasa Koeboe dalam menerjemahkan semua inspirasi dan keresahannya ke dalam kanvas.
“Batu semakin larut, linier, nyaman dan hening, harus ada kopi. Saya dapatkan trance itu, saya kawinkan rasa dan pengalaman batin ini dengan semua keresahan saya, serta pengalaman sosial yang ada di sekitar saya,” ujar Koeboe kepada Malang Post.
Jika proses ini terjadi, maka Koeboe bisa melukis dari malam sampai pagi. Namun, andai dia mendapatkan rasa untuk melukis saat pagi hari, dia memilih menikmati dulu matahari dan udara pagi Batu yang sejuk. Tak lupa, secangkir air putih lalu disambung kopi, disesap sebelum akhirnya menuangkan rasanya dalam warna.
“Contohnya lukisan saya Imaji Wayang tahun 2011, yang saya buat di studio saya di rumah, dan sekarang lukisan itu dipamerkan di Hungaria,” tegas Koeboe.
Koeboe ikut mengharumkan nama Kota Batu di kancah internasional. Saat ini, lukisannya berjudul Imaji Wayang, dengan media cat air di atas kanvas berukuran 54 x 74 sentimeter, sedang dipamerkan di Hungaria.
“Karya Imaji Wayang 2, dengan media cat minyak di atas kanvas ukuran 120 x 100 sentimeter, masih dalam proses kreatif,” ujar Koeboe kepada Malang Post, ditemui di kediamannya di Jalan Darsono Barat, Ngaglik.
Sebelum ini, Koeboe juga sudah menelurkan karya yang tersohor sampai Cina dan Singapura. Koeboe berharap, di ulang tahun Kota Batu, Pemkot bisa merangsang pertumbuhan seni budaya dengan kearifan lokal, dan disimbolkan lewat ruang representatif seperti art center.

Karya Slamet Hendro Kusumo Dikoleksi Pejabat Pentagon AS
Proses kreatif pelukis Slamet Hendro Kusumo hampir sama dengan Koeboe. Ia terbiasa melukis di antara dinginnya Batu saat subuh, sekitar pukul 03.00 sampai 04.00 WIB. Dia melukis di kediamannya di kawasan Bumiaji yang asri dan lengang. Namun, dia memiliki ‘ritual’ tersendiri untuk mendapatkan klik dalam rasanya. Dia melakukan pendekatan ilmu pengetahuan, membaca buku, berdiskusi dengan rekannya tentang antropologi, geografi, sosiologi, sejarah bahkan semiotika simbol.
“Tiap pelukis punya sendiri-sendiri, saya lebih banyak pendalaman sains, contohnya semiotika. Sebelum melukis saya diskusi dengan yang paham semiotika, walaupun saya paham juga, tapi itu untuk pendalaman. Saya melukis dari subuh sampai sore. Dan saya terapkan disiplin mengatur waktu, pikiran dan rasa,” tambahnya.
Karya lukisan masterpiece, dibuat tahun 2005, berjudul Dinamika Ekspresi dan Akibat lahir dari proses kreatifnya di kediaman di Bumiaji. Lukisan itu masih tergantung di ruang tamu Omah Budaya Slamet sampai sekarang.
Slamet Henkus, sapaan akrabnya, menelurkan karya cat minyak di atas kanvas yang telah beredar di Amerika Serikat, Perancis, Jepang hingga Cina.
Disamping karyanya yang telah dikirim ke berbagai negara, lukisan Dinamika, Ekspresi dan Akibat yang masih dipajang di Omah Budaya Slamet itu, diapresiasi dari tamu luar negeri. Tamu dari Singapura, Taiwan, Malaysia, Jepang, Inggris, Perancis, Finlandia, Jerman sampai Cina, datang ke Omah Budaya Slamet dan mengapresiasi karya-karya bapak tiga anak ini.
“Sementara dari Amerika ada perwakilan Universitas Tutts, Uw Medison, George Washington, The Ohio State Univ, North Western Univ,Iowa Univ, Cornell Univ, Berca College, Uva Univ, Indiana Univ, Duike Univ hingga Arizona Univ datang ke sini untuk mengetahui proses kreatif karya lukis,” urai Slamet yang baru saja mengirim karya lukis kepada pejabat Pentagon AS.
Dalam momentum HUT Kota Batu, Slamet memberi kritik terhadap minimnya kontribusi Pemkot Batu untuk kantong-kantong pergerakan budaya di desa-desa. Slamet meminta, Pemkot Batu menyetop pembangunan perkotaan, dan mulai serius menyuntik stimulus bagi pertumbuhan desa dan kantong pergerakan budaya.
“Pemerintah Kota Batu, harus mulai fokus berkontribusi terhadap kantong pergerakan desa budaya, bergerak membangun infrastruktur di desa,  membuat denah serta penunjuk jalan spesifik bagi desa budaya, jalan yang sempit dilebarkan,” tutupnya.

Iwan Rusdin Yusuf
Iwan Rusdin Yusuf menjalani proses kreatifnya di studio lukis yang berada di ketinggian Bulukerto Bumiaji yang dingin dan damai. Saat malam, dia sekarang jarang melukis. Iwan lebih sering berkarya dengan udara pagi Bulukerto sampai sore hari.
“Saya peka dengan suara, kalau musiknya pas, bisa langsung mulai. Saya setel musik instrumental. Suasana itu sangat pengaruh dan menjadi pemicu. Di mana saya melukis, seperti dengan pemandangan Batu dari atas ini, berpengaruh dengan proses saya. Lukisan itu pasti jadi, tinggal hasilnya saja, bagus atau jelek,” urai Iwan, sapaan akrabnya.
Dengan suasana dingin Bulukerto, Iwan mengaku paling puas melukis karya Instalasi Lukisan dan Cermin. Lukisan ini berjudul Musuh Dalam Cermin yang dibuatnya tahun 2011. Temanya tentang pertarungan dua sifat baik dan buruk yang selalu terjadi di dalam manusia.
Iwan menaruh harapan besar bagi pemerintah Kota Batu di usia 18 tahun, agar menggeser haluan dan pandangan pariwisatanya. Iwan menyebut konsep pariwisata artifisial digantikan dengan pariwisata yang menonjolkan konten seni dan budaya serta edukasi dan alam.
“Luas geografis kota Batu yang terhitung kecil,  seni dan budaya cocok untuk diterapkan sebagai konsep pariwisata Kota Batu. Karena seni budaya tidak membutuhkan ruang yang luas dan menonjolkan konten,” terang Iwan.
Konsep pariwisata berkonten seni budaya yang menurutnya cukup ideal, adalah pariwisata New Zealand dan Venice Italia. Dia menyebut, pariwisata seni budaya, bisa mendorong peningkatan kualitas segmen pasar. Sebagai seniman Batu, dia resah karena konsep pariwisata artifisial, berpegang pada keberhasilan peningkatan kuantitas.
Tapi, mengorbankan kota yang menjadi crowded, lalu lintas macet, pemukiman berceceran, tata kota tumpang tindih, sampah iklan, serta udara dan keaslian lingkungan yang tercemar. Iwan menyebut wisata artifisial, berpotensi menimbulkan kerugian yang akan dibayar mahal di masa yang akan datang.
“Kota Batu ini istimewa, histori dan geografinya spesial. Segmen pasar pariwisata seni dan budaya maupun pariwisata alam, bagi saya adalah orang-orang yang menghargai dan menjaga konsep tersebut dan mau membeli serta melindungi kelestarian kota ini,” tutup Iwan.
Ia menambahkan contoh solusi. Yakni Pemerintah kota garus mewajibkan industri bisnis pariwisata di Batu memberi ruang program seni dan budaya minimal setahun sekali. Lalu Pemerintah kota mempromosikan dengan brand kota yang lebih menitik beratkan ke wisata seni dan budaya.
“Sehingga pariwisatanya yang datang lebih menyiapkan dirinya untuk menyerap konten pariwisata seni dan budaya, bukan hanya datang membuang penat.  Supaya seni dan budaya bukan hanya pelengkap sektor wisata umum, dan memposisikan seni dan budaya tanpa arti dan menjadi tak bernilai," tandasnya.(fin/ary)



Kamis, 17 Okt 2019

Kompak dalam Senam Mubeng Batu

Loading...