Menari Menjadi Bagian dari Hidup Rahmadiar Kautsar | Malang POST

Senin, 17 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Minggu, 01 Des 2019,

SIAPAPUN bisa menari, termasuk penyandang tunarungu. Seperti yang dialami Rahmadiar Kautsar. Diar, sapaan akrabnya telah membuktikan diri bahwa keterbatasan bukan penghalang meraih pretasi, asal ada kemauan dan semangat tinggi mewujudkannya. Bahkan, menari adalah bagian dari Rahmadiar Kautsar, yang sudah ditekuninya sejak 2013 silam.
Selama kurun waktu tersebut,  Diar kerap diundang tampil menari khususnya di acara-acara yang diselenggarakan oleh Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin). Bahkan pada 2014 lalu, mahasiswa Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UM sempat mengikuti ajang Indonesia Deaf Talent (IDT). “Di tahun 2014 belum dapat juara, kemudian ikut IDT lagi di tahun 2015, Alhamdulilah dapat juara III,” kata Diar.
Dikatakan, hobi menari tersebut sudah disukainya sejak kecil, bahkan tahun 2001 Diar sudah pernah tampil di suatu acara. Hanya saja kala itu masih ada rasa malu, akibatnya ada gerakan yang salah. Setelah kejadian tersebut ia vakum menari,  dan kembali mengasah kemampuannya pada 2013, dengan bimbingan seorang guru tari. Meski tunarungu nyatanya Diar mampu menampilkan tarian dengan lues mengkuti irama musik.
“Menarinya menggunakan feeling, makanya harus sering latihan untuk menguatkan feeling tersebut, tetapi sempat lama tidak latihan karena gurunya menikah dan melahirkan,” urainya.
Ia melanjutkan, penampilan maksimalnya saat diundang menari oleh salah satu ajang bersama Komunitas Difable Malang yang berlangsung di Matos awal 2019 lalu. Sebelum tampil ia rutin latihan sehingga mampu tampil sempurna tanpa kesalahan sedikitpun.
Pada November lalu, ia turut ambil bagian menyemarakkan Dies Natalis 10 Pendidikan Luar Biasa FIP UM dengan menampilkan tarian rampak. “Besok (Hari ini, red) tampil di acara peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) di Surabaya,” terang pemuda kelahiran Malang 11 Mei 1995 ini.
Anak ketiga dari Siti Nuryati dan Dodid Edi Jogawidada ini selain hobi menari juga pandai bersosialisasi. Tak heran apabila Diar memiliki banyak teman dari kota-kota di Indonesia, bahkan ia juga akrab dengan salah satu staf khusus kepresidenan, Angkie Yudistia.
Sementara, Yetti sapaan akrab Siti Nuryati, menambahkan, sebagai orang tua ia dan suami selalu mendukung secara maksimal apa yang diinginkan sang anak. Termasuk mendukung pilihannya untuk menari.
“Diar juga bercita-cita ingin menjadi guru luar biasa untuk anak-anak tunarungu, makanya dia ingin sekali kuliah di UM dan tahun 2019,  Alhamdulilah bisa masuk ke universitas tersebut,” paparnya.
Sebagai orang tua, ia sempat khawatir anak bungsu dari tiga bersaudara tersebut tidak mampu beradaptasi. Pasalnya selama ini Diar selalu sekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan kuliah tersebut pertama kalinya ia berbaur dengan pelajar-pelajar normalnya.
Keinginan kuliah yang tinggi tersebut kemungkinan juga termotivasi dari sang kakak yang menempuh pendidikan S1 dan S2. Untuk masuk perguruan tinggi yang diinginkan Diar bahkan harus belajar satu tahun.
“Lulus SMA tahun 2019, dan masuk kuliah tahun 2019, memang agak terlambat sekolahnya karena Diar tidak hanya tunarungu tetapi juga ada kelainan jantung dan mengharuskannya operasi jantung di tahun 2005 di Jakarta, karena di Malang tidak ada dokter jantung kala itu,” kisah Yetti kepada Malang Post.
Penanganan operasi jantung tersebut sedikit terlambat lantaran Yetti pada saat itu hanya fokus di tunarungunya. Sesaat setelah menjalani operasi, Diar kembali didiagnosis Skioliosis, yakni kelainan yang menyebabkan tulang punggung melengkung.
Itulah yang menyebabkan orang tua Diar sedikit was-wasan ketika masuk ke perguran tinggi. Bahkan untuk memastikan sang anak berada di lingkungan yang aman, Yetti mengundang teman-teman kuliahnya ke rumah.
“Diar baru sekarang ini bergaul dengan teman-temannya yang bukan tunarungu, ternyata teman-temannya cukup memberikan perhatian, waktu saya undang mereka ke rumah, saya ajak ngobrol dengan papanya ternyata mereka oke banget peduli dengan kaum disabilitas,” terang pemilik rumah makan Ayam Goreng Tenes tersebut.
Sebagai orang tua Yetti dan Dodid berupaya mendukung penuh apa yang diinginkan sang anak. Kedepan ia berharap Diar mampu menjadi orang yang mandiri akan hidupnya sendiri. Memiliki bekal yang cukup ketika nanti harus terjun ke masyarakat. (lin/udi)

Editor : Mahmudi
Penulis : Linda



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...