Membangun Startup yang Tepat | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 03 Nov 2019, dibaca : 627 , bagus, asa

MALANG - Memasuki era Industri 4.0, umat manusia menghadapi perubahan ekstrem ke arah digitalisasi di segala bidang kehidupan. Maka muncul banyak startup yang memanjakan kebutuhan manusia. Kuliner, teknologi, obat dan kesehatan, jasa hingga material baju dan bahan bakunya. Namun, ternyata membangun startup tak bisa sembarangan, harus lewat riset mendalam agar tepat sasaran.
Harus diakui, untuk memenuhi kebutuhannya, manusia mulai menyerahkan diri pada digitalisasi. Perkembangan startup juga mampu mengubah pola kehidupan masyarakat. Lihat saja dari pola konsumsi yang berubah dari lahirnya Gojek, Grab hingga bukalapak. Baik dari pola konsumsi hingga pola hidup secara menyeluruh.
Langkah dari para perintis usaha berbasis teknologi tersebut, seolah menjadi kiblat atau tren para generasi muda. Mereka terinspirasi untuk mendirikan startup, ketimbang bekerja sebagai karyawan di suatu perusahaan. Tas dasar hal itu, Universitas Brawijaya (UB) menaruh perhatian besar untuk mengawal mahasiswanya dalam mendirikan startup.
Direktur Utama Badan Inkubator Wirausaha (BIW) UB (Universitas Brawijaya), Dr. Ir. Setyono Yudo Tyasmoro, MS menyebut bahwa sejak berdirinya BIW pada 2007 silam, tren kewirausahaan mahasiswa semakin meningkat seiring dengan kemajuan Teknologi Informasi (TI).

   Baca juga : Rawat Kebhinnekaan, Pusat MPK UB Selenggarakan Moral Camp
Sebab sebelum memasuki era digitalisasi seperti sekarang, belum banyak mahasiswa yang merintis usaha. Karena besarnya modal yang harus dihimpun, atau besarnya biaya untuk promosi produk maupun jasa.
"Sejak 2010 saya di BIW, perubahannya pesat sekali. Karena kita sudah masuk era industri 4.0, jadi mereka bisa gunakan TI sebagai sarana untuk promosi atau menjajakan produknya. Bahkan bisa dengan cakupan yang lebih luas," terang pria yang akrab disapa Yudo ini.
Para mahasiswa yang akrab dengan TI, makin banyak yang memperkaya kreativitas dan inovasi untuk mendukung bisnis yang sedang mereka rintis. TI informasi mereka gunakan baik untuk membuat, mengemas hingga memasarkan produk. Hal tersebut juga berlaku untuk startup bidang jasa, mereka menggunakan TI untuk menjadi sarana promosi atau bahkan mencari pelanggan.
Lantas dijelaskannya juga, bahwa sejauh ini terdapat perbedaan mencolok antara bisnis konvensional dengan startup di era industry 4.0. Perbedaan tersebut yakni pada riset mendalam untuk membuat sesuatu produk yang dibutuhkan oleh pasar tertentu. Jadi startup tidak bisa sembarang ide, atau sekadar bisnis yang direalisasikan. Namun harus memiliki pasar yang jelas memiliki potensi.
“Startup harus dikembangkan berdasarkan pasarnya, harus manjawab tantangan pasar. Tentu itu bisa didapat melalui riset pasar,” tegas pria yang juga Dosen Fakultas Pertanian UB ini.
Maka dari itu, saat ini terdapat berbagai bidang startup yang terus melaju pesat. Karena dilakukan sesuai dengan kebutuhan pasar, yang diketahui melalui riset. Jika startup mulanya banyak dikenal pada bidang yang berbasis IT. Namun saat ini startup sangat beragam, karena memang didirikan sesuai dengan pangsa pasar masing-masing.
“Sekarang ini beragam sekali, sulit kalau menentukan tren mana yang cenderung diminati. Karena startup sekarang berdasar riset itu tadi, persoalan yang dihadapi pasar hampir semuanya berpeluang besar menjadi startup sukses,” papar pria yang sudah mengabdi di UB sejak 1986 ini.
Seperti sekarang jika dilihat di kawasan Malang saja, startup terkhusus milik anak muda terdiri dari beragam jenis. Saat ini yang sering ditemui adalah startup makanan dan minuman kekinian. Kemudian juga banyak startup bidang jasa seperti pencucian sepatu hingga barbershop.
Mereka umumnya juga menggunakan internet untuk promosi produk pada cakupan yang lebih luas. Lalu juga mulai banyak startup teknologi seperti aplikasi untuk belajar bahasa daerah, aplikasi desain grafis hingga aplikasi untuk mempermudah jual beli barang bekas.

   Baca juga : Kisah Letkol Pnb Suryo Anggoro, Komandan Skadron 32 Lanud Abd. Saleh
UB Seleksi 90 Startup Mahasiswa
Untuk UB sendiri, awal tahun ini mengadakan semacam kompetisi startup yang bertujuan untuk mendukung mahasiswanya menggeluti bidang wirausaha. Pada seleksi tahapan akhir, UB mendapat 30 tim yang berhak untuk mendapat pendanaan dan pendampingan dalam mengembangkan startup mereka. Dari 30 tim tersebut ada 10 startup bidang kuliner atau makanan, 12 startup teknologi, 5 obat dan kesehatan, kemudian terdapat 3 startup yang membidangi jasa, material baju, dan bahan baku.
Sementara itu dijelaskan olehnya bahwa startup sendiri memiliki prospek yang baik di masa mendatang. Karena startup memiliki tujuan memudahkan manusia dengan memecahkan persoalan-persoalan dan menjadikannya sebagai peluang bisnis. Namun demikian, startup harus terus berkembang mengikuti perkembangan zaman dan juga kebutuhan manusia,
“Karena startup memang didirikan sesuai dengan riset kebutuhan pasar, maka ke depannya akan memiliki potensi yang semakin baik. Maka dari itu kita terus berupaya mendukung dan menginkubasi mahasiswa kita ke arah sana,” tutupnya.(asa/ary)



Jumat, 06 Des 2019

Cegah Radikalisme Sejak PAUD

Loading...