Malang Post - Melihat Kisah Perjuangan Anggota PMI Kabupaten Malang Berperang Melawan Corona

Jumat, 03 April 2020

  Mengikuti :


Melihat Kisah Perjuangan Anggota PMI Kabupaten Malang Berperang Melawan Corona

Jumat, 27 Mar 2020

KETIKA warga lain memilih berdiam diri dalam rumah dan menghindari kerumunan, anggota PMI Kabupaten Malang justru memilih keluar rumah di tengah merebaknya virus Corona. Bukan nongkrong atau berkumpul dengan rekan-rekannya, tetapi membantu pemerintah melawan Covid-19. Sekalipun sadar nyawanya menjadi taruhan, tetapi pekerjaan tersebut dilakukan dengan ikhlas.


Muhammad Yunus salah satunya. Pemuda asal Kecamatan Poncokusmo, Kabupaten Malang ini sejak Selasa (17/3) lalu ikut kegiatan PMI melakukan penyemprotan. “Pertama menyemprot di kantor Dinas Perhubungan, setelah ada permintaan,” ucap Yunus, yang mengaku semula pekerjaan dilakukan biasa tanpa ada rasa was-was.


Pria berusia 33 tahun ini, baru mulai khawatir setelah mendapat informasi ada pasien positif Covid-19 meninggal dunia. Kecemasannya bertambah, setelah ia mendapat tugas menyemprot disinfektan di rumah satu keluarga warga Kecamatan Dau, yang salah satu anggota keluarganya positif terpapar Covid-19.
“Sabtu (21/3) lalu saya ditelepon oleh koordinator penyemprotan disinfektan yaitu pak Amirul Yasin, supaya segera ke markas PMI untuk kemudian melakukan penyemprotan ke rumah salah satu warga positif  Covid -19. Sempat khawatir saat itu, tetapi rasa takut tersebut langsung saya hilangkah karena demi keselamatan banyak orang,” terangnya.
Bersama koordinator lapangan Amirul Yasin, serta tiga temannya yang lainnya yakni  Yanuari, Bahrul Ulum dan Amin Makruf, mereka berangka ke Dau. Sebelum berangkat, seluruh badan mereka disemprot disinfektan dulu. Termasuk juga dilengkapi alat pelindung diri (ADP).
“Tetapi alat pelindung dirinya hanya seadanya, karena memakai jas hujan rangkap dua. Pakai masker rangkap dua, memakai kacamata dan sarung tangan,’’ ujar Yunus semnari mengingat-ingat.
Selama di dalam rumah, Yunus dan teman-temannya berusaha tidak menyentuh benda apapun. Kalaupun menyentuh, sebelumnya benda itu disemprot dulu dengan disinfektan.
“Kalau mau memindahkan barang, kami menggunakan stik spray disinfektan,’’ tuturnya.
Butuh waktu sekitar satu jam untuk menyemprot ruangan satu rumah. Ketika keluar, mereka kembali disemprot dengan disinfektan, baik saat masih menggunakan APD maupun  setelah melepasnya. Setelah itu, APD yang digunakan mereka langsung dibakar.
Setelah penyemprotan itu, Yunus mengaku kondisi badannya baik-baik saja. Bahkan masih terus melakukan penyemprotan di beberapa tempat. Semuanya dilakukan dengan tulus, karena ingin menolong warga. “Saya ini ingin bermanfaat bagi orang lain. Itu saja tidak ada yang lain,’’ katanya singkat.
Demi menjalankan misi manusiawi ini, Yunus sampai rela tidak pulang ke rumah. Terlebih dirinya kini masuk dalam kategori orang dengan risiko (ODR). Sehingga dia memilih tidak pulang ke rumahnya di Poncokusumo.
“Ada beberapa dari kami yang memilih untuk tinggal di markas PMI. Kami sadar masuk kategori ODR, sehingga sampai dengan Covid -19 ini berakhir, tidak pulang dulu supaya keluarga kami juga sehat,’’ bebernya.
Sebagai penghilang rasa rindu kepada keluarga, Yunus memanfaatkan teknologi. “Kebetulan saya belum memiliki istri. Paling rindunya sama ibu dan bapak serta anggota keluarga lainnya. Kalau rindu tinggal telepon atau video call,’’ urainya sembari mengaku kalau dirinya selalu menyempatkan pamit dan meminta doa restu pada orangtuanya, setiap mau menjalankan tugas.
Bagi Yunus, aksi kemanusiaan bukan kali pertamanya. Bersama PMI Kabupaten Malang, dia beberapa kali terlibat kegiatan. “Waktu peristiwa Gunung Merapi saya ke Jogjakarta, untuk mengirim bantuan serta membantu di sana. Termasuk beberapa waktu lalu di Kelud dan Poso juga ke sana. Alhamdulillah semua lancar dan saya senang karena bisa membantu sesama,’’ pungkasnya.(ira/agp)

Editor : Agung Priyo
Penulis : Ira Ravika

  Berita Lainnya





Loading...