Masterpiece from Batu, Butuh Ruang yang Lebih Representatif | Malang Post

Selasa, 12 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Rabu, 16 Okt 2019, dibaca : 390 , bagus, fino

BATU – Selama tiga dekade, Kota Batu telah melahirkan seniman yang karyanya mendunia. Sebut saja Koeboe Sarawan, Slamet Hendro Kusumo dan Iwan Rusdin Yusuf. Kontribusi mereka untuk Batu tak perlu dipertanyakan lagi. Demi regenerasi, Pemerintah harus memberikan ruang yang lebih representatif untuk para seniman, layaknya Taman Ismail Marzuki di Jakarta.
Pelukis Koeboe Sarawan, kepada Malang Post mengatakan bahwa  saat ini Batu terlanjur populer dengan tempat wisata alam dan buatan. Tapi, museum atau ruang representatif seni rupa dan budaya, dirasa belum muncul. Padahal, menurut Koeboe, selama tiga dekade, Batu terus melahirkan seniman-seniman yang karyanya mendunia.
Koeboe sendiri, lewat Pondok Seni, mendorong misi regenerasi seniman Batu, terutama anak-anak muda. Anak muda yang dulunya berkegiatan negatif, didorong belajar seni lukis, dan seni lainnya, serta menjadi edukasi bagi generasi penerus Batu.
“Kehidupan berkesenian di Batu sangat solid. Namun, hal ini perlu ditularkan kepada generasi penerus. Karena itu, ruang seni yang representatif, diperlukan untuk edukasi pelajar Batu. Ruang seni yang ideal ini, akan menjadi alat ukur dan parameter pertumbuhan seni Batu,” tutur Koeboe.
Dia mencontohkan, Jakarta memiliki Taman Ismail Marzuki yang digagas dan diresmikan oleh Gubernur DKI saat itu, Ali Sadikin. Lewat Taman Ismail Marzuki, seniman dari berbagai disiplin, berkumpul menjadi satu dan sekaligus menjadi laboratorium seni. Lewat Taman Ismail Marzuki, dialog seni terpicu dan akhirnya menghidupkan seni budaya di ibu kota.
Sementara itu, seniman lukis Slamet Hendro Kusumo, kegelisahannya terhadap situasi Kota Batu sekarang, dilampiaskan dalam lukisan dan pergerakan. Lewat pergerakan, Slamet membangun Omah Budaya Slamet yang berembrio sejak tahun 1996, untuk membangun kesadaran soal kelestarian kearifan lokal.
“Bahwa proses kreatif saya tak lepas dari fenomena arus bawah yang terjadi di sekitar saya. Semua karya saya, selalu terinspirasi dari kejadian di Batu,” papar Slamet kepada Malang Post, ditemui di Omah Budaya Slamet Jalan Imam Bonjol, Kota Batu.
Lukisan berjudul Dinamika, Ekspresi dan Akibat, yang dituang dalam cat minyak di atas kanvas 4 x 4 meter, tahun 2005, adalah gambaran fenomena agraria dan tanah bengkok desa di Batu. Dimensi agraris, sosiologis dan antropologis digambarkan oleh Slamet.
“Penciptaan karya seni saya, berangkat dari ilmu pengetahuan. Sementara, Omah Budaya Slamet, ingin mengimpartasikan spirit kearifan lokal, membangun kantong-kantong budaya, yang menghargai dan melestarikan kearifan lokal di Batu,” tandas mahasiswa S3 jurusan Sospol UMM tersebut.
Terpisah,  Iwan Rusdin Yusuf, seniman lukis Batu, sudah beberapa kali membuat pameran soal keresahannya melihat kondisi Kota Batu. Pada tahun 2012, dia menyelenggarakan pameran tunggal instalasi ‘Bayi Angsa’ dengan bahan patung lilin dan sampah plastik di atas Gunung Banyak, lokasi Paralayang di Kota Batu.
Iwan juga melahirkan karya Instalasi Urat Nadi. Dia menggelar pameran soal air tanah Sumber Air Gemulo. Sebab, air adalah urat nadi kehidupan manusia. Konsep lukisannya, menggambarkan sungai sebagai nadi yang mengalirkan air kehidupan dan tidak akan tergantikan dengan apapun. Pameran ini dihelat pada 2016.
Terbaru, tahun 2019, Iwan menghelat Instalasi Mina Padi di Studio Jaring, yang mengkolaborasikan bentuk instalasi ikon agraris yaitu padi, dan ikon maritim yaitu perahu. Karya ini lebih menusuk rasa nasionalisme dan pemahaman soal kebangsaan serta makna tanah air.
“Selama tiga tahun terakhir, saya juga aktif mengusung konsep dan mewujudkan September Open Studio dan September Art Month (SAM) se-Malang Raya,” ujarnya.(fin/ary)



Kamis, 17 Okt 2019

Kompak dalam Senam Mubeng Batu

Loading...