Masalahnya Sudah Bertahun-tahun | Malang Post

Kamis, 12 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Minggu, 06 Okt 2019, dibaca : 1923 , vandri, sisca

SEBENTAR lagi hujan, banjir pun mengancam. Warga Kota Malang bagai diteror banjir setiap jelang musim hujan.  Entah bagaimana caranya, harus ada solusi. Setidaknya tahun ini tak sampai seperti tahun lalu.
Sejumlah kawasan di kota pendidikan ini langganan banjir. Mulai dari pemukiman hingga jalan raya. Warga dan pengendara hilang kenyamanan karena banjir rutin  yang tak kunjung teratasi setiap musim hujan.  
Jalan Soekarno Hatta contohnya, saat turun hujan seketika itu pula berubah jadi sungai. Belum tuntas diatasi, tahun ini diprediksi banjir bakal berkembang ke sejumlah kawasan lain jika tak ada solusi.
Mengacu catatan Malang Post, pada bulan terakhir musim hujan 2019 lalu sekitar Maret dan April,  hujan mengakibatkan banjir di sejumlah kawasan. Setidaknya terdapat tujuh  kawasan baru yang ikut kebanjiran. Di antaranya ada di Jalan Mawar, Jalan Candi Kalasan, Jalan Plaosan Barat, Jalan Bungur, Jalan Pekalongan Dalam, Jalan Simpang Setaman  dan Jalan Selorejo.
Beberapa kawasan lain yakni  halaman parkir dalam Malang Town Square dan juga perumahan. Perumahan Cempaka Putih I salah satu contohnya. Perumahan yang terletak di RW 05 Kelurahan Arjowinangun, Kedungkandang ini awalnya bukan berada di kawasan rawan banjir. Tapi Maret 2019 lalu digenangi air akibat hujan deras.  
Ketua RW 05 Arjowinangun, Supriadi menjelaskan hal ini terjadi karena drainase lebih tinggi dari badan jalan. Akibatnya air dari drainase dengan mudahnya meluber ke jalan lalu menggenangi rumah warga. Persoalan makin pelik karena tak kunjung dibenahi lantaran fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) belum diserahkan ke Pemkot Malang.  
Berdasarkan data Malang Post, beberapa kawasan yang mengalami banjir bukan karena drainase tersumbat juga ada. Di antaranya Kawasan Galunggung hingga kawasan Jalan Bondowoso.    
Kawasan Jalan Galunggung-Jalan Bondowoso dan sekitarnya akan terus mengalami banjir di musim hujan. Hal ini dikarenakan lanskap kawasan tersebut termasuk di titik rendah Kota Malang. Sudah begitu, terdapat penyempitan saluran drainase.
Pakar Tata Kota ITN Malang,  Ir Budi Fathoni MT mengatakan banjir parah yang biasa terjadi di kawasan Jalan Galunggung diperparah dengan adanya penyempitan drainase seiring pembangunan yang semakin berkembang di kawasan tersebut. Pembangunan fondasi ataupun infrastruktur bangunan menekan luasan dari saluran air sendiri.
“Banjir di kawasan itu kan datang dari atasnya yaitu berawal dari kawasan perempatan ITN, karena mengalir terus sampai ke wilayah yang lebih rendah yakni kawasan Jalan Galunggung. Air tidak lagi mengalir dari sana karena banyak saluran air yang tertutup,” paparnya. Ia mengatakan seharusnya saluran air mengakses ke sungai yang berada di belakang ruko kawasan Jalan Galunggung.
Selain itu, kawasan banjir lainnya Jalan Bareng gang IV hingga gang VI. Lantaran di kawasan tersebut terdapat aliran sungai yang kerap meluap ketika banjir. “Ketika hujan deras, sering terjadi banjir hingga lutut orang dewasa. Namun, ketika hujan reda, surutnya cepat,” ujar Sri Rahayu, salah seorang warga.
Lokasi tersebut lanjut dia, kerap menjadi langgangan banjir. Padahal di kawasan itu  sudah dibangun gorong-gorong. Sementara, di kawasan Jalan Letjen Sutoyo juga senasib dengan wilayah lain yang sering banjir. Apalagi di Jalan Letjen Sutoyo  GangIII hingga Jalan Selorejo terdapat aliran sungai.
“Kalau hujan deras, airnya meluap. Kemudian terjadi genangan air hingga ke rumah warga,” jelas Soedarsono, salah satu warga. Sementara  banjir juga berefek di kawasan jalan Letjen S. Parman. “Satu kampung dipenuhi air setinggi satu meter. Kami sampai pindah ke tempat yang lebih tinggi,” tandas Sugeng, salah satu warga.
Sementara itu, menurut catatan Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Karangploso, dalam situs resminya, diprediksi musim hujan di wilayah Malang bakal terjadi di pekan pertama November 2019. Intensitas hujan yang turun normal yakni 100-300 mm per hari. Sementara puncak hujan akan berlangsung di bulan Januari hingga Februari 2020. Sementara itu diperkirakan curah hujan tertinggi bisa mencapai 2.000 mm.
Prakirawan klimatologi BMKG Karangploso, Ahmad Lutfi mengatakan, prakiraan musim hujan akan terjadi minggu kedua November 2019. Sedangkan bulan ini masuk dalam masa peralihan musim.
"Bulan ini masih masuk masa perlaihan musim. Sehingga di Malang Raya berpotensi angin kencang. Meski begitu sudah turun hujan di Malang Raya beberapa waktu lalu. Tapi tidak merata dan bersifat sporadis," papar Lutfi kepada Malang Post.(ica/tea/eri/van)   



Loading...