Masa Depan Atlet Dipertaruhkan, KPAI Angkat Polemik Berdasar Persepsi

Senin, 21 Oktober 2019

Selasa, 24 Sep 2019, dibaca : 6237 , bagus, asa

Rencana hengkangnya Perkumpulan Bulu Tangkis (PB) Djarum dari audisi umum masih jadi pembahasan menarik. Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kota Malang Malang Heri Mursyid bahkan memberikan sindiran serius. Bulu tangkis adalah olah raga yang membutuhkan kompetisi, sejauh ini PB Djarum yang serius menyelenggarakannya.
Heri melontarkan pernyataan yang serius dalam diskusi bertajuk “Pembinaan Atlet Bulu Tangkis” di Graha Malang Post Jumat (20/9). Ia menyebut, bahwa KPAI mengangkat polemik dengan PB Djarum hanya berdasar pada persepsi. Menurutnya berbagai persoalan anak yang terdapat di Indonesia masih banyak yang membutuhkan perhatian lebih.
Pendapat tersebut disampaikan di hadapan para peserta diskusi lainnya, yakni Ketua KONI Kabupaten Malang Imam Zuhdi, Ketua KONI Kota Batu Mahfud, Bambang Suhariadi Ketua Bidang Anggaran KONI Kota Malang, PBSI Kabupaten Malang Imam Ismiadi, PBSI Kota Malang Sigit Permadi Wijaya dan pelatih dari Kota Malang Rizki Alan F.
Menurut Heri, KPAI cenderung kontraproduktif terhadap persoalan anak-anak Indonesia yang sangat banyak. Persoalan anak ada yang jauh lebih urgent dibanding dengan klaim eksploitasi anak yang dituduhkan kepada PB Djarum.
“Kalau kita lihat argumen mereka tentang merek Djarum yang digunakan oleh peserta audisi. Mereka ini sekolah bulu tangkis, tahunya itu merek bulu tangkis, kalau tanya ke perokok ya baru tahu kalau itu merek rokok," jelasnya.
Lebih lanjut disampaikannya bahwa KPAI mengangkat polemik dengan PB Djarum dengan judul yang sangat ekstrem. Seolah-olah Indonesia sudah sangat baik dalam menangani persoalan anak secara umum. Ia menyesalkan persepsi KPAI yang secara mentah membahasakan bahwa PB Djarum telah melakukan eksploitasi terhadap anak peserta audisinya.
"Kenapa tidak diurusi yang jelas-jelas terlihat kekerasan lebih dulu. Banyak sekali contoh kasusnya yang baru-baru ini juga sering terjadi, banyak korbannya sampai ngeri-ngeri. Kesannya KPAI mengangkat polemik dengan PB Djarum ini hanya berdasar pada persepsi. Seolah-olah negara kita sudah sempurna dalam penanganan persoalan anak," pungkasnya.
Selain itu, Ketua KONI Batu, Mahfud berharap ada kesadaran dari pihak-pihak yang berpolemik. Agar menyadari bahwa mencari perusahaan yang mau berkomitmen membangun olahraga sangat tidak mudah. Terlepas Djarum memang merupakan pabrik rokok yang mungkin lebih mudah mencari untung. Tapi sejauh ini memang sulit mencari perusahaan yang mau berkontribusi.
“Ini sama saja mempertaruhkan masa depan para atlet," jelasnya.
Sementara itu, perwakilan PBSI Kabupaten Malang Imam Ismihadi menjelaskan bahwa terdapat realita bahwa cabor bulu tangkis bukanlah olah raga yang terukur. Untuk menemukan bibit-bibit muda berbakat sangat membutuhkan mekanisme seleksi dadi sebuah sistem yang sudah memiliki pengalaman atau riwayat yang mumpuni. Menurutnya, bahkan pemerintah sejauh ini juga belum terlalu mampu menjaring atlet berbakat secara konsisten seperti PB Djarum.
"Sengketa dari djarum menjadi kekhawatiran di daerah. Kenyataannya bulu tangkis bukan olahraga yang terukur, banyak yang harus dijaring melalui event-event turnamen. Anak-anak (bibit atlet muda) ini perlu melalui jam terbang cukup untuk bisa menjadi atlet profesional," tandasnya.(asa/ary/bersambung)



Loading...