MalangPost | Mario Gomez dan Charis Disanksi

Sabtu, 06 Juni 2020

  Mengikuti :


Mario Gomez dan Charis Disanksi

Kamis, 02 Apr 2020, Dibaca : 2712 Kali

MALANG - Komite Disiplin PSSI memberi hukuman kepada Arema FC setelah melakukan sidang disiplin terkait dua pekan terakhir Liga 1 Indonesia 2020 sebelum dihentikan. Empat sanksi diberikan kepada klub berjuluk Singo Edan. Dua di antaranya, dikenakan kepada Mario Gomez, pelatih kepala Arema FC, dan asistennya Charis Yulianto.


Dalam sidang Komite Disiplin PSSI, Gomez dihukum dengan teguran keras, saat protes berlebihan kepada wasit cadangan ketika PS Tira menjamu Arema FC, 2 Maret 2020. Sanksi teguran keras tersebut tak hanya dirasakan oleh Gomez. Charis sebagai asisten, juga dikenai hukuman.
“Ofisial Arema FC Charis Yulianto, dalam kompetisi Liga 1 2020, pertandingan PS Tira Arema FC, tanggal 2 Maret 2020, jenis pelanggaran, protes berlebihan kepada wasit cadangan. Hukuman, teguran keras,” ujar Komdis PSSI dikutip dari putusan sidang disiplin yang dirilis akhir Maret 2020.


Selain hukuman sanksi keras, denda uang juga dikenakan kepada Arema akibat pelanggaran di pertandingan lain. Tepatnya, saat Arema FC menjamu Persib Bandung pada 8 Maret 2020. Dalam pertandingan tersebut, Arema melakukan pelanggaran yang berbuah lima kartu kuning dalam satu laga.
Akibatnya, Komdis PSSI memutuskan mendenda Arema dengan nilai Rp 50 juta. Selain itu, Arema juga dinyatakan bersalah karena ada pelanggaran suporter yang melempar botol ke dalam lapangan. Suporter juga masuk ke dalam lapangan dalam pertandingan melawan tim berjuluk Maung Bandung di Stadion Kanjuruhan. Dendanya adalah Rp 50 juta.


Media Officer Arema, Sudarmaji yang diminta tanggapan terkait hukuman ini, menyebut bahwa klub menerima hukuman dari Komdis PSSI. Tapi, dia juga meminta semua pihak terkait, untuk tidak melupakan sanksi komdis ini. Jangan sampai pelanggaran serupa, terjadi di masa depan.
“Semoga sepakbola diliburkan jadi momen intropeksi agar sanksi serupa tidak terjadi lagi,” tegas Sudarmaji.


Dia juga mengajak semua elemen, baik klub, pemain dan pelatih,  suporter dan panpel, untuk bersama-sama membangun iklim sepakbola yang meriah tapi tidak kebablasan. “Ayo jangan menyerah untuk berbenah. Tidak ada kata terlambat untuk berubah,” tutupnya.(fin/jon)

Editor : Jon Soeparijono
Penulis : Fino Yudistira