Mala, Si Anak Indigo | Malang Post

Kamis, 14 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Sabtu, 05 Okt 2019, dibaca : 1668 , halim, mp

Bagi sebagian orang, pasti tidak akan mempercayai adanya hal-hal ghaib. Begitu pula yang terjadi pada Winaya. Winaya dan Nawai adalah sepasang suami istri yang memiliki anak bernama Mala. Mala, seorang anak kecil yang masih berusia enam tahun. Mala bukanlah anak yang biasa. Dia adalah anak yang sangat ‘istimewa’. Sejak kecil, Mala selalu terobsesi dengan ensiklopedia bahkan ia sangat suka menyusun buku satu hingga buku terakhir dari sisi kiri ke sisi kanan. Mala hanya tinggal di rumah bersama orang tuanya tetapi ia selalu melihat enam sosok yang hidup bersamanya di rumah. Enam sosok itu yaitu Satira, Wilis, Ana, Abuela, dan si Kembar.
Buku ini menceritakan mengenai daya khayal yang dimiliki oleh anak kecil. Banyak orang yang menganggap bahwa Mala adalah anak indigo. Hal ini dapat dilihat dari kejadian Mala yang tiba-tiba berada di atas genteng saat tengah malam. Selain itu, Mala juga selalu senang bermain sendiri, merasa tidak menyenangi dunia yang tidak sesuai dengannya, tak sedikit juga yang bilang bahwa Mala memiliki ‘teman’ yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata tetapi tentu saja ibunya tidak mempercayai hal itu. Ibunya meyakini bahwa Mala baik-baik saja.
Awal mula ibunya tidak percaya apabila Mala memiliki ‘teman’ tak kasat mata. Namun, seiring berjalannya waktu ia tersadar bahwa ada sosok lain yang mulai menampakkan dirinya. Terlihat dari lukisan ibunya yang terdapat coretan yang bukan berasal dari tangannya, beberapa kali ibunya juga mendengar tangisan yang berasal dari lemari, dan masih banyak lagi.
‘Teman’ Mala ini sering diduga hantu oleh ibunya tetapi saat ibunya mencoba untuk menyentuh salah satu wujud ‘hantu’ ini, bentuknya sama persis dengan manusia. Badannya tebal, memiliki daging, dan bisa berkomunikasi. Ibunya semakin heran dengan wujud ‘teman’ dari anaknya ini. Ia berusaha untuk bisa berteman dan berdamai dengan kondisi yang dialami oleh anaknya namun apa yang diinginkan ibunya ternyata salah.
Semenjak ibunya mendapatkan berbagai masalah dengan tetangganya, Raihan dan pacarnya Alegra, hingga ia jatuh sakit, ‘teman-teman’ anaknya ini berhasil merasuki tubuhnya. Ia beberapa kali mengganggu tubuh dan jiwa ibu Mala. Saat itu juga, Nawai (ibu Mala) dibawa ke salah satu psikiater. Menurut psikiater, Nawai mengalami penyakit kejiwaan dan wujud dari ‘hantu’ tersebut sebenarnya tidak ada, hanya saja itu kepribadian yang ada di dalam diri Nawai yang menjelma seperti hantu.
Kelebihan dari buku ini adalah Ruwi Meita sebagai penulis mampu membawa cerita ini dengan berbagai plot dan berusaha menarik pembacanya untuk dapat ikut merasakan ceritanya. Ruwi Meita juga mampu membelokkan alur cerita di dalam buku ini. Alur cerita ini juga tidak mudah untuk dipahami, begitu pula dengan akhir ceritanya.
Sayangnya, kekurangan dari buku ini adalah pemahaman terhadap cerita ‘thriller’ yang dibuat oleh Ruwi Meita. Bagi orang awam, terutama pembaca yang belum pernah membaca mengenai cerita seperti ini tentu mereka akan bingung akan dibawa kemana sebenarnya arah cerita ini karena konflik yang disuguhkan sangat banyak. Tokohnya juga banyak bahkan membingungkan pembaca, belum lagi ketika dihadapkan dengan tokoh-tokoh yang tak kasat mata. Pembaca dituntut untuk memiliki imajinasi yang sangat tinggi.(*/lim)



Loading...