Malang Post - Mahathir Mundur, Malaysia Bisa Punya PM Perempuan Pertama

Senin, 30 Maret 2020

  Mengikuti :


Mahathir Mundur, Malaysia Bisa Punya PM Perempuan Pertama

Selasa, 25 Feb 2020

KUALA LUMPUR - Perdana Menteri MalaysiaMahathir Mohamad, dilaporkan mengirimkan surat pengunduran diri kepada Raja (Yang Di Pertuan Agung) Malaysia, Abdullah, Senin (24/2). Jika hal itu terjadi, maka sang wakil, Datuk Seri Dr. Wan Azizah Wan Ismail, bakal menjadi perempuan pertama yang menjabat perdana menteri di Negeri Jiran.
"Wan Azizah menjadi perdana menteri interim," kata seorang sumber seperti dikutip Malay Mail.
Kini, seluruh pihak menantikan keputusan Raja Abdullah yang kemungkinan besar akan dibacakan pada petang hari waktu setempat. Apakah dia akan mengabulkan atau menolak pengunduran diri Mahathir.
Kendati begitu, sumber menyatakan Raja Abdullah tidak bakal menyetujui langkah Mahathir.
"Yang Dipertuan Agung akan menolaknya dan mengatakan Mahathir didukung penuh oleh parlemen," kata sumber tersebut seperti dilansir Straits Times.
Kabar pengunduran diri Mahathir muncul setelah Ketua Partai Keadilan Rakyat (PKR), Anwar Ibrahim, beserta istri, Wan Azizah Wan Ismail, serta Menteri Keuangan sekaligus Ketua Partai Aksi Demokratis (DAP), Lim Guan Eng, datang ke Kantor Perdana Menteri di Putra Perdana untuk rapat pada pukul 09.26 waktu setempat. Namun, mereka meninggalkan kantor tersebut pada pukul 10.25 waktu setempat, dan diduga menuju kediaman Mahathir di Mines, Kuala Lumpur.
Diduga mereka hendak membahas soal gagasan Mahathir yang hendak merombak kabinet dan koalisi. Politikus berusia 93 tahun itu dilaporkan hendak menggandeng partai oposisi, Partai Islam SeMalaysia (PAS) dan Partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), ke dalam koalisi.
Hal ini diduga dipicu akibat keretakan di dalam tubuh Pakatan Harapan dan partai utama koalisi tersebut, PKR. Anwar sebagai ketua PKR berseteru dengan wakilnya, Muhammad Azmin Ali.
Azmin dilaporkan bertemu dengan sejumlah petinggi PAS dan UMNO pada Minggu kemarin. Pertemuan itu diduga bagian dari rencana untuk memuluskan gagasan Mahathir.
Pergolakan politik di Negeri Jiran meski Najib Razak tumbang dan Mahathir kembali berkuasa. Masalah yang selalu diangkat adalah soal kebijakan kabinet, lambatnya pertumbuhan ekonomi dan janji Mahathir untuk yang tidak akan menyelesaikan masa jabatannya, dan menyerahkannya kepada Anwar.
Masalah itu juga membuat koalisi Pakatan Harapan retak. Imbasnya adalah mereka kalah dari pihak oposisi dalam sejumlah pemilihan umum daerah yang dianggap sebagai lumbung suara. Hal ini membuat langkah mereka menuju pemilu pada 2023 mendatang dikhawatirkan semakin berat.

 

PM Kontroversi dan Berprestasi

 

Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad mengirim surat pengunduran diri dari jabatannya kepada Raja Malaysia pada hari Senin (24/2/2020). Selama menjabat dua kali sebagai PM, Mahathir banyak melancarkan pernyataan kontroversi dan capaian yang ciamik.

"Surat pengunduran diri itu disampaikan ke [Raja Malaysia] Yang di-Pertuan Agong pukul 1 siang," kata Kantor Perdana Menteri (PMO), sebagaimana dilaporkan Strait Times.

Rencana mengundurkan diri ini sebenarnya bukan hal baru. Mahathir, yang pernah menduduki posisi perdana menteri selama 22 tahun sejak 1981-2003, memang telah mengumumkan rencana pengunduran diri sejak awal menjabat lagi di 2018.

Ia bahkan telah menyatakan akan menunjuk mantan wakil perdana menteri dan musuhnya, Anwar Ibrahim sebagai penggantinya, setelah menjabat sebagai PM.

Langkah penunjukan Anwar itu bukan tanpa alasan. Mahathir menunjuk Anwar karena pendiri Partai Keadilan Rakyat (PKR) itu telah membantunya membongkar kasus pencucian uang 1MDB yang dilakukan mantan PM Najib Razak. Terbongkarnya kasus ini sendiri merupakan salah satu pencapaian membanggakan yang dilakukan Mahathir selama memerintah.

Berikut merupakan sederet gebrakan dan hal kontroversi yang ditorehkan perdana menteri tertua di dunia ini, antara lain:

Kebijakan Air dengan Singapura

Perdana menteri kelahiran 10 Juli 1925 itu pada saat menjabat pernah mengatakan ingin menaikkan harga pasokan air mentah ke Singapura menjadi lebih dari 10 kali lipat. Tujuannya untuk menutupi biaya hidup yang lebih tinggi.

Di bawah kesepakatan tentang air saat ini, yang berakhir di tahun 2061, Singapura diperbolehkan mengambil air mentah hingga 250 juta galon per hari dari Sungai Johor. Sementara setiap hari Johor berhak memperoleh 5 juta galon air yang sudah disuling dari Singapura.

Singapura membayar 3 sen per 1.000 galon air mentah, kemudian menjual air yang sudah disuling ke Johor senilai 50 sen per 1.000 galon. Singapura mengatakan harga ini sangat tersubsidi dan berada di bawah ongkos penyulingan air.

Malaysia memilih untuk tidak meninjau ulang harga tersebut ketika diberi kesempatan di tahun 1987. Namun, diskusi dilakukan ketika Mahathir, yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri, mengangkat isu ini di tahun 1998. Sayangnya, diskusi itu tidak menghasilkan kesepakatan baru.

Namun, sejak kembali menjabat di 2018, Mahathir kembali mengkritisi kesepakatan tentang air di tahun 1962. Ia menyebutnya "terlalu mahal" dan "konyol". Ia mengatakan akan melakukan pendekatan dengan Singapura untuk menegosiasikan kembali ketentuan kesepakatan.

Operasi Lalang

Menurut laporan Today Online, di bawah kepemimpinan Mahathir, pemerintah Barisan Nasional berhasil menindak lawan politiknya Partai Aksi Demokratis (DAP). Akibat langkah Mahathir, para pemimpin partai itu termasuk Lim Kit Siang, Lim Guan Eng dan almarhum Karpal Singh pernah ditahan di bawah Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri selama Operasi Lalang pada tahun 1987.

Kemudian pemimpin Parti Islam se-Malaysia (PAS) Mohamad Sabu, yang sekarang menjadi presiden Amanah dan menteri pertahanan, juga terperangkap dalam jaring politiknya.

Mahathir juga pernah memenjarakan Anwar Ibrahim yang saat itu menjabat sebagai wakilnya. Anwar dituduh melakukan korupsi dan sodomi. Akibat itu, Anwar dijatuhi hukuman penjara enam tahun dan vonis kedua selama sembilan tahun penjara.

Memangkas Biaya Proyek Kereta Cepat

Selama menjabat, Mahathir telah berhasil membuat China sepakat untuk memangkas hampir sepertiga biaya pembangunan proyek East Coast Rail Link (ECRL) di semenanjung Malaysia. Pada Juli lalu, pemerintah Malaysia mengumumkan biasanya telah berhasil dikurangi menjadi hanya sekitar RM 44 miliar, dari RM 65,5 miliar.

Proyek yang telah mandek selama setahun itu sebelumnya pernah hampir dibatalkan. Namun, karena kesepakatan pembiayaan baru itu, proyek akhirnya kembali dilanjutkan. Memangkas biaya ini merupakan salah satu janjinya dalam pemilu, yaitu untuk menegosiasikan kembali atau membatalkan proyek-proyek mega China yang "tidak adil", yang telah disetujui oleh pendahulunya, Najib Razak.

Proyek ECRL yang dijalankan dengan China Communications Construction sebagai kontraktor utamanya itu, akan menghubungkan Port Klang di Selat Malaka dengan Kota Bharu di semenanjung timur laut Malaysia, menurut Channel News Asia.

Perjanjian baru ini bahkan berhasil meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap Malaysia, kata duta besar China untuk Malaysia pada upacara di distrik pesisir Dungun.

Ekonomi Tumbuh Pesat

Selama masa jabatan pertama Mahathir sebagai perdana menteri, Malaysia dilaporkan mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, menikmati peningkatan pendapatan dan peningkatan standar hidup, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.

Menurut The Global Job, di bawah kepemimpinan Mahathir, ekonomi Malaysia tumbuh pada tingkat lebih dari 8% per tahun hingga pertengahan 1997, ketika krisis mata uang di negara tetangga Thailand menyebabkan krisis keuangan Asia hingga menjerumuskan seluruh Asia Tenggara ke dalam resesi.

"Malaysia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat sejak 1980-an. Setelah depresi pasar properti 1985-1986, pertumbuhan kembali hingga pertengahan 1990-an," tulisnya.(cni/cnbc/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Net

  Berita Lainnya





Loading...