Mahasiswa STIKES Kendedes Teliti Cuka Apel | Malang Post

Rabu, 29 Januari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Rabu, 23 Okt 2019,

Mahasiswa STIKES Kendedes saat berada di home industry Griya Terapi Detoks Batu dalam rangka belajar cara membuat Cuka Apel.

MALANG- Mahasiswa Program Studi Keperawatan STIKES Kendedes melakukan studi kasus terhadap cuka sari apel. Belakangan diketahui bahwa cuka sari apel memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Untuk mengetahui lebih dalam terhadap khasiat tersebut, para mahasiswa didampingi Dosen Keperawatan berkunjung  ke Griya Terapi Detoks, sebuah usaha home industry pembuatan cuka apel  di wilayah Junrejo, Batu. 
Dosen Keperawatan STIKes Kendedes Malang Erwanto, S. Kep. Ners, MMRS, mengatakan belakangan ini cuka menjadi trending topic karena manfaatnya yang dinilai sangat banyak. Diantaranya untuk meredakan penyakit batuk dan pilek. "Ada dokter asal Yunani Hippocrates yang merekomendasikan cuka untuk sakit batuk," ujarnya. 
Selain itu, lanjut Erwanto juga ada seorang dokter berkebangsaan Italia bernama Tommaso Del Garbo, yang merekom agar sering mencuci tangan, wajah dan mulut menggunakan cuka. 
"Setelah diteliti ternyata manfaatnya  untuk mencegah infeksi," kata dia. 
Ia menjelaskan, cuka dan air sudah menjadi minuman yang menyegarkan dari zaman tentara Romawi. Bahkan atlet juga meminumnya untuk menyegarkan tubuh. Dengan demikian, budaya kuno sudah menemukan manfaat dari rasa asam cuka. 
Erwanto menambahkan, meskipun banyak rekam sejarah terkait cuka, penelitian baru saat ini masih perlu dilakukan untuk menemukan dan mengungkap manfaat lain dari cuka. 
“Salah satu yang menjadi bukti paling dapat diandalkan cuka bagi kesehatan, yaitu mengenai studi cuka sari apel ini,” kata dia.
Ia menuturkan, sebuah studi menunjukkan bahwa cuka sari apel bisa menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian dilakukan terhadap 11 orang pra diabetes yang meminum sekitar 20 mililiter air ditambah dengan satu sendok makan cuka apel. “Ternyata, cuka apel bisa menurunkan tingkat gula darah 30 sampai 60 menit setelah makan,” terangnya. 
Pada studi lain, lanjut Erwanto, cuka apel diberikan kepada orang kelebihan berat badan atau obesitas. “Mereka mengalami penurunan berat badan, masa lemak, dan trigliserida secara signifikan,” imbuhnya. 
Hingga saat ini belum ada bukti mengonsumsi cuka apel bisa berbahaya, kecuali mengonsumsinya dalam jumlah banyak atau dengan konsentrasi asam asetat tinggi. Dengan manfaat yang begitu banyak, mahasiswa STIKES Kendedes menjadi semakin ingin tahu tentang cuka apel, lebih dari yang selama ini banyak diketahui oleh masyarakat. 
“Harapannya tidak hanya berhenti pada proses kunjungan saja, tetapi mahasiswa juga membuktikan khasiat dari cuka apel itu sendiri untuk dikonsumsi setiap hari,” tandasnya.
Di tempat dan hari yang sama, mahasiswa juga mengikuti kegiatan pengenalan mekanisme dan manfaat totok punggung. Dibantu oleh pemilik sekaligus pengelola Griya Terapi Detoks, Hendi Nurhendi, para mahasiswa STIKes Kendedes mendapatkan banyak informasi dan pelajaran baru. (imm/oci)

Editor : rosi
Penulis : imam






WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...