Mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Brawijaya Ciptakan Startup Bahasa Bugis | Malang Post

Senin, 16 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Minggu, 03 Nov 2019, dibaca : 1254 , bagus, sisca

Berawal dari keprihatinan atas pergeseran budaya yang berdampak pada minimnya minat belajar bahasa daerah, mahasiswa S2 Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (UB) ini membuat aplikasi untuk mempermudah belajar bahasa Bugis, yang diberi nama Lontara-AR.
Teknologinya pun juga sudah menggunakan Augmented Reality (AR), yang semakin mempermudah pembelajaran dengan visualisasi yang lebih mendetail.
"Ide awalnya karena ada pergeseran budaya di Makassar atau malah di Indonesia, orang cenderung sudah tidak tertarik dengan bahasa," pungkas penggagas Lontara AR, Muhammad Hasbi kepada Malang Post.
Lontara-AR sendiri merupakan sebuah aplikasi untuk belajar bahasa daerah dan aksara Bugis yang dikenal memiliki tingkat kesulitas yang cukup tinggi.
Aplikasinya pun sudah dapat diunduh di perangkat android secara umum dan gratis. Namun untuk aplikasi dengan teknologi AR, pengguna harus melakukan pembelian kartu bar code khusus terlebih dahulu.
Menariknya, Lontara-AR sendiri sudah diuji cobakan pada 90 siswa-siswi di tiga sekolah SD yang ada di Makassar. Hasilnya, model pembelajaran menggunakan aplikasi tersebut memberikan dampak positif terhadap pembelajaran siswa. Alhasil, aplikasi tersebut juga sudah mulai dilirik oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Rencananya digunakan di sekolah-sekolah secara masal.
"Ada peraturan pemerintah dalam hal ini dari Gubernur yang mewajibkan belajar bahasa Bugis dari SD hingga SMA. Makanya kita mulai jajaki kerjasama dengan pemerintah, karena model pembelajarannya cukup sulit. Kita buat aplikasi memudahkan itu," jelasnya.
Menurutnya, bahkan guru masih cukup banyak yang kesulitan mengajarkan aksara Bugis ke para siswa, khususnya untuk guru tingkat sekolah dasar.
Melalui model pembelajaran yang menarik, aplikasi tersebut dianggap sangat tepat untuk membantu siswa belajar bahasa Bugis sejak tahapan dasar. Pengamatan penggunaan aplikasi ini juga akan menjadi bahan riset untuk jurnal internasional.
Namun demikian, Muhammad Hasbi juga memaparkan, bahwa ada tiga faktor utama yang mendorongnya untuk terus mengembangkan aplikasi ini selama kurang lebih enam bulan.
Pertama adalah karena kepedulian pelestarian bahasa. Kedua, kebijakan pemerintah yang mewajibkan belajar bahasa Bugis. Serta yang terakhir adalah karena adanya naskah terpanjang di dunia yang ternyata menggunakan bahasa Bugis.
"Ada naskah terpanjang di dunia berbahasa Bugis namanya I La Galigo, sekarang ada di Universitas Leiden Belanda dan itu belum selesai dibaca sampai sekarang," ungkapnya.
Untuk itu, melalui aplikasi ini ia berharap agar masyarakat suku Bugis mampu lebih optimal untuk mempelajari bahasa daerahnya. Selain itu, selain suku Bugis pun juga bisa dengan lebih mudah mempelajari bahasa dan aksara Bugis melalui aplikasi ini.
Ke depan, aplikasi ini akan dikerjasamakan lebih lanjut dengan pemerintahan Kabupaten Maros Sulawesi Selatan melalui Dinas Pendidikan Kab Maros.(ica/ary)



Minggu, 15 Des 2019

Jangkauan Pembeli Lebih Luas

Loading...