Magic Pen, Persembahan untuk Tuna Daksa Belajar Kelistrikan | Malang Post

Jumat, 13 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Kamis, 26 Sep 2019, dibaca : 474 , imam, imam

Muhammad Alim Majid dan Muhammad Ismail Umar, siswa MTs Negeri 1 Kota Malang bersama Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifudin di Kompetisi Madrasah Young Research (Myres) 2019.

MALANG - Satu karya hebat berupa produk inovatif terlah diciptakan oleh dua siswa MTs Negeri 1 Kota Malang. Mereka berhasil membuat magic pen, sebuah alat yang berisi tinta elektrolit untuk membuat sirkuit listrik. Karya mereka ini dipersembahkan untuk anak-anak tuna daksa yang ingin belajar tentang kelistrikan. 
Karya ini telah mengantarkan dua siswa pencipta alat tersebut, menjadi Juara 1 Tingkat Nasional Kompetisi Madrasah Young Research (Myres), yang digelar oleh Kementerian Agama RI, beberapa hari yang lalu di Kota Manado. Mereka adalah Muhammad Alim Majid dan Muhammad Ismail Umar. Keduanya membawa medali emas dari bidang matematika, sains dan pengembangan teknologi. 
Muhammad Alim Majid mengatakan pembuatan magic pen berawal dari keprihatinannya kepada anak-anak tuna daksa yang merasa kesulitan belajar kelistrikan. Misalnya dalam rangkaian listrik sederhana terdapat sirkuit yang menghubungkan sumber tegangan dengan lampu. Sirkuit tersebut biasanya berupa kabel yang disambungkan dengan beberapa komponen listrik.  
Sementara anak tunadaksa dengan keterbatas fisik mereka, merasa kesulitan harus menyambung dan memotong kabel. “Maka kami mencoba membuat magicpen, yang tintanya bisa berfungsi sebagai kabel. Jadi mereka tidak repot lagi menyambung dan memutus kabel,” katanya kepada Malang Post.
 
Tinta magic pen, dibuat dari larutan elektrolit. Uniknya, larutan tersebut mereka buat dari bahan alami sehingga tidak membahayakan. Yaitu dari sari cairan blimbing wuluh. 

Alim mejelaskan, blimbing wuluh mengandung vitamin C yang tinggi. Perbandingannya mencapai 35 miligram per 100 gram. Selain itu jumlah blimbing wuluh yang melimpah di masyarakat, membuat buah ini mudah di dapat. 

Ditambah belum banyak masyarakat yang menggunakannya dengan maksimal sementara pohon blimbingberbuah sepanjang tahun, tidak bergantung musim. “Dalam satu pohonnya bisa 1500 buah per tahun. Tidak sebanding dengan pemanfaatannya, maka kami mencoba berinovasi dengan bahan tersebut,” ungkap siswa kelas 8 ini. 

Muhammad Ismail Umar menambahkan, Magic Pen telah teruji dan diaplikasikan di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Kota Malang. Dengan rangkaian listrik sederhana menggunaka lampu LED. Dari hasil pengujian, alat tersebut berhasil dan bekerja sesuai yang diharapkan. 

Hanya saja kata dia, untuk menggunakan peralatan listrik yang besar seperti kipas angin, membutuhkan sumber tegangan yang lebih tinggi. “Kami sudah mengalikasikan ke lampu LED dan berhasil. ‘Kalau untuk kipas dan bazer, masih bisa karena membutuhkan tegangan yang lebih tinggi,” katanya. 

Ia menjelaskan, larutan elektrolit yang menjadi tinta magic pan merupakan vitamin C yang mengandung asam askorbat. Semakin tinggi asam askorbatnya maka semakin bagus tingkat kelistrikannya. “Asam ini merupakan salah satu jenis asam yang memiliki kemampuan untuk menghantarkan listrik yang baik,” terangnya. 

Alim maupun Ismail, merasa bersyukur karya mereka lolos dari 1018 proposal siswa seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut disaring menjadi 54 proposal, yang selanjutnya dikembangkan menjadi penelitan dan menghasilkan satu produk karya ilmiah. Dan karya mereka menjadi yang terbaik di bidang matematika, sains dan pengembangan teknologi. (imm/)



Loading...