Luruskan Pemahaman Keliru, Perhatikan Lima Tanda Bahaya Tubuh

Jumat, 18 Oktober 2019

Rabu, 09 Okt 2019, dibaca : 663 , bagus, asa

SALAH kaprah tentang olahraga dan risikonya kerap terjadi di masyarakat. Sebagian orang bahkan tak peduli alarm tubuh ketika olahraga melebihi kapasitas. Akibatnya terjadilah sederet risiko yang membahayakan tubuh. Dokter olahraga, dr. Nanang Triwahyudi Sp.KO dan dokter spesialis emergensi dr Henry Kasudarman Sp. EM mengulasnya dalam seminar Emergency in Sport Injury
Dokter olahraga, dr. Nanang Triwahyudi Sp.KO dalam seminar yang digelar Persada Hospital bekerjasam dengan Malang Post, Selasa (8/10) kemarin meluruskan berbagai pemahaman keliru yang kerap terjadi dalam olahraga. Satu-satunya dokter spesialis olahraga di Jatim ini mengatakan, kasus-kasus fatal sering terjadi karena risiko di lapangan yang sering disepelekan. Selain itu belum dipahami  masyarakat.
"Kasus-kasus yang sering terjadi pada saat berolahraga sering berakibat fatal. Saya ingin kita bisa memahami risiko seperti apa di lapangan ketika berolahraga," kata dr. Nanang dihadapan peserta seminar yang digelar di Srikandi Hall Persada Hospital Malang itu.
Apalagi belakangan, beberapa jenis olahraga sedang tren di kalangan masyarakat. Mulai dari lari marathon hingga bersepeda. Namun sayangnya mereka tak memahami risiko terhadap tubuh ketika melakoni olahraga tersebut. Bahkan cenderung mengabaikan, dan lebih fokus pada capaian hasil olahraga seperti medali dari event, atau berkurangnya berat badan.
Tak hanya itu, ada juga pemahaman yang lebih ekstrem lagi bahwa semakin banyak atau semakin keras berolahraga maka akan semakin banyak manfaat yang akan didapat. Ternyata hal tersebut termasuk pemahaman yang menyesatkan. Sebab dr. Nanang menyebutkan, manfaat  berolahraga akan cenderung tetap atau bahkan menurun jika dilakukan dengan lebih keras atau dalam jangka waktu yang lebih lama.
"Semakin kita meningkatkan intensitas olahraga, manfaat yang kita terima itu flat, bahkan cenderung turun. Banyak yang salah paham tentang itu, jadi banyak yang justru semakin keras berolahraga. Padahal manfaatnya berkurang dan malah meningkatkan risiko dalam berolahraga," paparnya.
Dokter Tim Arema FC ini menyebut, dahulu prinsip yang dipegang atlet atau olahragawan, ‘No Pain No Gain’. Jadi jika ingin jadi atlet yang kuat dan hebat harus berani membuat tubuh merasa sakit. Padahal hal tersebut justru menjadi boomerang terhadap tubuh. Bahkan akan memberikan dampak jangka panjang yang kurang baik.
“Dulu atlet prinsipnya ‘No Pain No Gain’, kalau mau otot besar yang harus berani merasa sakit. Seperti itu untuk atlet usia muda biasanya akan berdampak kurang baik pada proses pertumbuhan. Makanya biasanya saya kalau dampingi atlet sepak bola junior selalu dipantau secara berkala,” lanjutnya.
Di hadapan para peserta seminar, ia memaparkan bahwa setidaknya terdapat lima tanda-tanda yang dirasakan, ketika tubuh sedang mengalami situasi gawat saat sedang berolahraga. Pertama ialah dada berdebar-debar, yang menjadi salah satu indikasi sesuatu berbahaya terjadi pada tubuh. Kedua, merasakan sesak napas, yang menjadi indikasi gangguan pada jantung.
Kemudian tanda ketiga adalah kepala terasa pusing. Sedang tanda keempat yakni  keluar keringat dingin, yang menandakan bahwa terjadi sirkulasi udara yang kurang baik di dalam tubuh.
Sedangkan tanda yang kelima yakni rasa nyeri yang semakin parah, khususnya di sekitar dada. Meskipun disampaikannya, bahwa rasa nyeri merupakan berkah dari Tuhan. Karena tubuh masih memberikan sinyal, ketika suatu gangguan sedang terjadi.
"Kalau merasakan tanda-tanda itu lebih baik berhenti, apa sih yang mau dikejar. Lebih berharga tubuh kita ketimbang medali, yang sering terjadi olahragawan atau atlet memaksakan diri menyelesaikan olahraga karena merasa gengsi untuk berhenti. Apalagi kalau olahraga bareng teman-teman yang sering bilang,  ah tinggal sedikit lagi, ayo terus saja," paparnya.
Selain itu, kasus yang umum terjadi ialah olahraga yang perlu diperhatikan para pengidap diabetes. Untuk para pengidap diabetes sangat dianjurkan untuk berolahraga untuk menormalkan kadar gula dalam darah. Namun sangat dilarang  olahraga pada malam hari menjelang waktu tidur.
“Kasus umum lainnya ada pada pengidap diabetes, olahraga untuk mereka sangat baik untuk menormalkan kadar gula dalam darah serta mengurangi penggunaan dosis obat,” katanya. “Tapi sangat tidak dianjurkan olahraga malam hari sebelum tidur, karena pengurangan kadar gula masih mungkin terjadi hingga kurun 3-4 jam setelah olahraga. Kalau pas tidur gula darah drop itu bahaya,” sambungnya.
Direktur Persada Hospital, dr. Kushandayani MMRS menyambut baik gelaran seminar
Emergency In Sport Injury yang bekerjasama dengan Malang Post. "Event seperti ini sudah sering kami gelar, menjadi bentuk komitmen kami, sebagai layanan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Semoga bisa bermanfaat untuk kita semua, dan mungkin berlanjut dengan kerjasama,"  katanya.
Direktur Malang Post Dewi Yuhana menyampaikan, seminar ini merupakan upaya mengajak masyarakat untuk hidup sehat melalui olahraga yang minim risiko."Hari ini peserta datang dari berbagai kalangan, kami ingin semuanya sehat. Sehingga Indonesia bisa maju dan unggul. Semoga seminar ini benar-benar bermanfaat," ungkapnya.
Perempuan yang akrab disapa Hana ini menjelaskan sebelumnya Malang Post dalam diskusi rutin pada Agustus lalu, membahas tema "Lari Sehat Minim Risko". Ketika itu berkumpul komunitas pelari, atlet lari, hingga dokter pakar olahraga, mulai dari dokter tim Arema FC dr. Nanang Triwahyudi Sp.KO dan ahli jantung senior Prof.Dr.dr. Djanggan Sargowo, Sp.PD,SPJP(K) FIHA.
"Kematian adalah takdir dan kuasa Tuhan, tapi  kita tentu ingin mengantisipasi jangan sampai ada korban yang jatuh saat berolahraga, karena olahraga harusnya menyehatkan," kata Hana yang juga Pemred Malang Post ini.
Hingga usai diskusi tersebut, muncul gagasan untuk menyebarkan pengetahuan secara lebih luas ke masyarakat melalui seminar kali ini.

Harus Tahu Cara Menanganinya.
Dokter spesialis emergensi dr. Henry Kasudarman, Sp.EM menjelaskan tentang  penanganan ketika menemui seseorang yang tengah mengalami situasi darurat atau sedang tidak sadarkan diri ketika olahraga. Pengetahuan ini penting, sebab penanganan dalam keadaan darurat menjadi penentu keselamatan hidup orang tersebut.
"Beberapa kejadian sering terjadi tapi kita tidak tahu harus ngapain. Atau justru memberikan pertolongan tapi asal-asalan. Jadinya bukan menolong tapi malah memperparah kondisi korban," ujar dr. Henry.
Informasi dan pengetahuan lengkap hal tersebut ikuti ulasannya di Malang Post edisi besok.(asa/van/bersambung)



Loading...