Lima Mahasiswa UB Ciptakan Teknologi Planet Terra | Malang Post

Senin, 09 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Kamis, 14 Nov 2019, dibaca : 999 , bagus, linda

Lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya menciptakan Teknologi Planet Terra (Plasma Electromagnetic Water Treatment). Mereka adalah Ahmad Raihan Darmawan, Ichi Fiaqi Hamada, Fikar Razani, Atikah Sekar Wulandari dan Xavier Adli. Di Kompetisi Internasional World Invention Competition and Exhibition (WICE) Segi College, Subang Jaya, Malaysia, teknologi mereka meraih tiga penghargaan.
Tiga penghargaan tersebut antara lain, medali emas di kategori Environmental and Biology, IYSA Special Award dari Indonesian Young Scientist Association dan Leading Innovation Award dari Association of British Inventors and Innovators. Planet Terra yang diciptakan lima mahasiswa itu, untuk mengurangi limbah yang dibuang ke sungai untuk digunakan kembali.
Anggota tim, Ichi Fiaqi Hamada mengatakan, teknologi tersebut berfungsi membersihkan air limbah domestik sehingga dapat dibuang dengan aman ke sungai. Planet Terra bekerja dengan empat proses.
"Pertama air limbah akan masuk ke filter kasar untuk menyaring material kasar yang masuk ke inlet sehingga magnet bersifat tolak-menolak dan mendestabilisasi elektron pada air agar pembentukan flok (gumpalan partikel yang mengotori air, contohnya tanah, pasir, Red) pada proses plasma menjadi lebih mudah," urai Ichi, sapaan akrabnya.
Kedua, air diproses oleh plasma dengan tujuan membunuh mikroba-mikroba dengan lecutan listrik yang berasal dari generator listrik 640V/5W. Plasma juga berfungsi untuk destabilisasi logam berat pada air limbah yang akan membentuk flok dan menjadi lebih mudah disaring.
Ketiga, air menuju ke proses ozonasi dengan menggunakan generator ozon untuk membunuh sisa-sisa mikroba dari proses plasma. Lalu diproses ozonasi terdapat magnet bersifat tarik menarik menstabilkan kembali elektron pada air. Proses terakhir dilakukan filter halus untuk memfilter air agar lebih bersih.
Setelah melewati empat proses tersebut, Planet Terra menghasilkan air bersih kelas III. Berdasarkan Undang-Undang No. 82 Tahun 2001, air bersih kelas III adalah air yang dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, mengairi pertanaman dan peruntukan lain. Tentu peruntukan yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Sementara itu, Ahmad Raihan Darmawan menambahkan, apabila ada pendanaan Planet Terra akan dikembangkan ke tingkat komersil. Hanya saat ini masih dalam bentuk prototype dan dalam waktu dekat menuju pengembangan versi compact.
"Dengan bentuk compact harapannya lebih user friendly, kalau dijual komersil perkiraan harganya bisa di bawah Rp 2 juta," terang Raihan.
Planet Terra sangat efektif dalam mengelola limbah domestik dengan ukuran 150 liter mampu diproses dalam waktu 30 menit. Selain itu hasilnya juga sesuai dengan baku mutu sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan manusia khususnya dalam pertanian. Limbah domestik itu antara lain, air parit, air mandi, air cuci piring, air kencing dan air yang dihasilkan oleh aktivitas rumah tangga lainnya. Limbah ini tidak termasuk, maaf, limbah BAB (buang air besar).
Cara pemakaian alat ini yakni air limbah disedot dengan pompa. Lalu masuk tahapan satu agar difiltrasi partikel-partikel besarnya seperti pasir dan lainnya. Kemudian disetrum dengan tegangan tinggi 10 kv di tahapan II. Ini supaya terbentuk plasma yang membunuh bakteri serta mengoksidasi polutan organik. Sehingga partikel padatnya menggumpal dan gampang disaring.
Kemudian air tersebut masuk ke tahapan III yakni ozonasi untuk disinfeksi, membunuh mikroba di air dengan cepat tanpa residu. Dan tahapan terakhir di filter halus sehingga air menjadi lebih bersih.
"Setelah keluar dari filter tersebut, air dimasukkan lagi ke ke proses semula selama 30 menit agar hasilnya maksimal, jika sudah 30 menit air yang keluar bisa langsung ditampung dan siap digunakan," tegasnya.
Raihan melanjutkan, Planet Terra dirancang untuk memberikan solusi alrernatif dalam pengelolaan limbah domestik yang memberikan dampak pada pencemaran lingkungan. Terlebih kebutuhan air bersih terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk yang terus bertumbuh 1,2 persen per tahunnya.
"Pencemaran lingkungan ini didominasi oleh limbah cair domestik atau limbah cair rumah tangga yang dibuang langsung ke sungai, berasal dari penggunaan untuk kebersihan yaitu gabungan limbah dapur, kamar mandi, toilet, cucian, dan sebagainya," urainya.
Komposisi limbah cair rata-rata mengandung bahan grey water dan senyawa mineral yang berasal dari sisa makanan, urin dan sabun. Sebagian limbah rumah tangga berbentuk padat dan sebagian dalam bentuk bahan terlarut. Di kota besar misalnya beban pencemaran organik (organic load) limbah cair domestik dapat mencapai sekitar 70 persen. Ini dari beban pencemar total limbah cair yang ada di kota tersebut.
Plasma adalah suatu gas yang terionisasi dengan listrik bertegangan tinggi. Teknologi plasma dapat digunakan untuk mengolah limbah cair, padat maupun gas dengan proses tanpa menggunakan bahan kimia serta tidak membutuhkan lahan luas. Proses penguraian senyawa organik oleh plasma juga berlangsung cepat serta spesies aktif yang dihasilkan (OH, O, H, O3, dan H2O2) yang dapat bereaksi dengan senyawa industri yang terkandung di dalam air limbah.
"Teknologi plasma juga dapat dikombinasikan dengan metode pengolahan lainnya sehingga mampu mengolah air limbah menjadi lebih bersih lagi dan dapat dikategorikan sebagai air bersih," tandas Raihan.
Ia dan tim berharap Planet Terra dapat menjadi solusi baru bagi masyarakat dengan desain alat sederhana serta penggunaan yang mudah dan harga terjangkau.(Linda Epariyani/ary)



Kamis, 05 Des 2019

Kelola Dua Bisnis di Kepanjen

Loading...