Libatkan Pengunjung Jadi Kunci Dongkrak Angka Kunjungan Museum | Malang POST

Minggu, 23 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Libatkan Pengunjung Jadi Kunci Dongkrak Angka Kunjungan Museum

Selasa, 24 Des 2019,

Malang Raya memiliki tak kurang dari 21 Museum. Banyak yang sistem pengelolaannya harus ditata lebih optimal, agar semakin bermanfaat  dan mendongkrak angka kunjungan. Hal Ini yang menjadi pokok pembahasan dalam Focus Group Discussion Brand, Promotion and Participatory Design for Museum di Kantor Malang Post.
Acara itu diikuti pengelola museum se Malang Raya dan menghadirkan akademisi dari Bandung dan Jogjakarta. Pakar desain komunikasi visual Universitas Telkom Bandung Maharani Budi M. advtg, yang tampil sebagai pembicara pertama. Ia menjelaskan bahwa branding dan promosi menjadi kunci segalanya.
“Branding itu cara pemasaran suatu produk yang berkaitan erat dengan komunikasi pengalaman personal konsumen dengan produk tersebut. Sedangkan promosi adalah kegiatan pemasaran yang bertujuan menginformasikan produk itu. Ini bisa dilakukan untuk mempromosikan museum,” papar Maharani.
Beberapa cara promosi dijelaskannya adalah pengelola museum bisa mengadakan program membership, open donation, paket tur, hingga menciptakan merchandise unik. Lalu untuk melakukan branding bisa dilakukan dengan event seperti kegiatan sosial, lomba atau kompetisi hingga story telling dan konser.
Kedua-duanya sama pentingnya untuk dipahami pengelola museum. Hal ini dapat dilakukan dengan mengerti kondisi museumnya sendiri. Ada juga cara menarik pengunjung dengan cara melibatkannya. Misalnya pengunjung diberi kertas, mereka dipersilakan untuk mengisi dengan harapan atau cita-cita mereka.
“Jika saat ini misalkan museum anda sedang berjuang untuk menghadirkan pengunjung dalam waktu singkat maka lakukan promosi. Tetapi jika persepsi anda ingin mendatangkan lebih banyak pengunjung ke depannya lakukan lah branding,” tegas Maharani.
Narasumber lain yang juga berasal dari Universitas Telkom Bandung, Erica Albertina M.I.Kom menjelaskan juga tentang pentingnya menguasai sosial media untuk melakukan branding dan promosi di era saat ini.
Erica menyarankan satu platform media sosial yang akan memberikan banyak benefit jika dimaksimalkan pengelolannya. Yakni Instagram.
“Karena Instagram selain lagi tren. Dia punya banyak jenis media untuk menginformasikan sesuatu. Ada feed, story/highlight dan Live Instagram. Semuanya dapat digunakan dengan kondisi tertentu,” paparnya.
Jika ingin memamerkan koleksi museum agar bisa dilihat kapan saja bisa mengunggah di konten feed. Jika memiliki acara yang saat itu sedang berlangsung pakai Live Instagram. Agar suatu saat mereka yang tidak dapat melihat langsung bisa melihatnya di kemudian hari, karena live tersebut bisa dilihat dan disimpan.
Pada intinya, menggunakan sosial media adalah cara paling tepat karena memiliki prinsip penggunaan yang Low Budget, High Effect tegasnya.
“Konten apa saja yang kemudian baik untuk dipromosikan di sosial media? Banyak kan misalkan peristiwa yang ada, artefak, event, giveaway, sampai bisa membuka open donations,” tegasnya.
Erica menjelaskan pula bahwa penting untuk memperhatikan bahasa dalam keterangan foto (caption) yang mendukung materi unggahan. Bahasa yang digunakan jika targetnya adalah anak muda bisa dipakai bahasa sehari-hari alias bahasa yang lagi nge-tren.
Jangan lupa pula menggunakan Teknik seperti hashtag dan keywords. Karena sistem metrik dari Instagram memberikan kesempatan orang mencari sesuatu menggunakan tagar dan kata kunci tadi.
Penjelasan ini kemudian mendapatkan tanggapan dari pendiri Museum Musik Indonesia (MMI) yang turut hadir dalam FGD, Hengki Herwanto. Ia menanyakan bagaimana menentukan spesifikasi usia, agar tertarik mengunjungi museum.
Maharani, salah satu narasumber tadi menjawab jika saat ini masalah usia dirasa tidak usah menjadi hal yang dikhawatirkan saat ini.
“Kalau pertanyaan itu ditanyakan 25 tahun lalu saya bisa bilang untuk semua usia bisa karena dulu media informasi satu yaitu TV. Sekarang sosial media merajai sekarang siapa yang tidak punya gadget. Itu mengapa yang disasar bukan usia tapi karakter target,” paparnya.
Maka dari itu penting rasanya pengelola museum melakukan promosi dan branding dengan target umur yang spesifik. Dengan cara promosi yang berbeda-beda sesuai spesifikasi.
FGD ini dihadiri puluhan pengelola museum seperti Indonesian Heritage Museum, Museum Tubuh, Museum Pembelajaran UM, Museum Pendidikan, Museum HAM Munir, Museum Ganesya, Museum Musik Indonesia serta dari Filateli Pos, Museum Panji, Museum Mpu Purwa, Museum Pendidikan, hingga Museum Peradaban Universitas Brawijaya (UB).
Pengelola-pengelola museum ini juga diharapkan dapat menghasilkan sebuah program paket tur yang menarik. Hal ini dibahas oleh Tim Penyusun Storytelling Legenda Borobudur Universitas Gadjah Mada Jogjakarta, Muhammad Ahlul Amri Buana, SH., BA., Adv. LL.M yang juga hadir sebagai narasumber. Ia datang bersama timnya, para dosen dari UGM. Di antaranya, Dr. Dianary Mami SIP, M. HUM, Muhamad Sidiq Wicaksono, S.E., M.Sc,  Ayudhira Pradati, Akbar Muhibar.
Ia menjelaskan pengalamannya membantu promosi wisata wilayah Magelang dengan keberadaan Candi Borobudur. Yang ternyata selama ini belum memberikan dampak ekonomi besar bagi masyrakat di Magelang.
“Kami mencari tahu dari sekian ribu cerita di relief candi Borobudur mana yang bisa dijadikan dikembangkan. Kita temukan ada cerita fable (cerita tentang binatang). Ada cerita relief namanya Sasa Jatakan dan kisah cinta Nini Brayut dan Kuntha Bima,” papar Ahlul sapaan akrabnya.
Cerita Sasa Jatakan menceritakan tentang kisah Siddharta Gautama yang pernah menjadi binatang yakni kelinci. Cerita ini dikembangkan menjadi paket tur storytelling kepada pengunjung anak-anak atau siswa sekolah.
Yang setelah diceritakan ini mereka akan dibawa menuju kampung sekitar yang membuat gerabah. Di sana anak-anak bisa membuat gerabah kelincinya sendiri. Sedangkan cerita tentang cinta Nini Brayut dan Kuntha Bima menjadi paket tur yang dinamakan Sudhana Kinari, paket untuk mereka pasangan yang sedang bulan madu.
“Hal-hal seperti ini yang bisa digunakan untuk menciptakan tur di museum anda masing-masing. Dengan ini akan lebih menarik dan pengunjung bisa ditarget dengan paket yang spesifik,” pungkasnya.(ica/ary)

Editor : Bagus
Penulis : Sisca

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...