Latih Kemandirian Siswa Dengan Perkajusa | Malang Post

Minggu, 17 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Rabu, 02 Okt 2019, dibaca : 426 , rosida, imam

MALANG - Berkemah menjadi salah satu momentum yang menyenangkan bagi sebagian orang. Salah satunya bagi pelajar. Beberapa hal yang sudah pasti didapat siswa dalam kegiatan ini yakni kesederhanaannya, kemandirian dan kekompakan. Karena biasanya saat berkemah, segala sesuatunya terbatas.

Berbeda dengan tinggal di rumah. Berbagai fasilitas tersedia, hampir semuanya mudah didapatkan. Maka dari itu, kegiatan berkemah memberikan kesan tersendiri bagi yang menjalaninya.

Seperti itulah yang dirasakan oleh, Graciella Jehovany Yoesa Igas, siswi kelas VI SDK Mardi Wiyata 2 ini merasa senang dengan kegiatan  Perkemahan Kamis Jumat Sabtu (Perkajusa), yang diikutinya akhir pekan lalu. Meskipun jauh dari orang tua, ia dapat menikmati kegiatan yang berlangsung hingga tiga hari tersebut. "Senang bisa belajar hidup mandiri. Bersama teman-teman bisa saling membantu, jadi tidak kesulitan meskipun tidak bersama orang tua," ujarnya.

Pekan lalu, SDK Mardi Wiyata 2 menggelar Perkajusa untuk Penggalang. Bertempat di Bumi Perkemahan Yayasan Mardi Wiyata Karangwidoro Tidar, Perkajusa diikuti oleh puluhan siswa dari kelas 5 dan 6.

Perkajusa dikonsep dengan sangat menarik. Sehingga siswa tidak merasa jenuh yang akhirnya membuat mereka tidak betah. Ada game, kunjungan ke museum, penjelajahan digital dan bahkan ada penampilan seni budaya di akhir acara.

Dalam Perkajusa juga ada perlombaan. Salah satunya lomba Mading 3 Dimensi. Lomba tersebut mengangkat beberapa tema, salah satunya  tentang lingkungan. "Intinya mengajarkan kita untuk pandai melestarikan lingkungan, agar terhindar dari kerusakan yang membahayakan," terang Graciella.

Waka Kesiswaan SDK Mardi Wiyata 2, Supriadi, S.Pd., menuturkan selain tentang lingkungan tema Mading 3D juga ada tentang energi, transportasi, flora dan fauna , polusi dan sampah. "Kita undi, masing-masing regu mendapatkan satu tema untuk dibuat madingnya dari bahan daur ulang," katanya.

Adapun kriteria penilaian dari Mading 3D tersebut antara lain proses pembuat, hasil karya dan presentasi. Penilaian presentasi diukur dari keberanian siswa dalam menyampaikan pesan dari mading yang dibuat. "Jadi lomba ini melatih anak untuk berani, kreatif dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan," terang Supriadi.

Selanjutnya di hari kedua Perkajusa, seluruh peserta berkunjung dan melakukan pengamatan terhadap jenis hewan di  Museum Zoologi Frater Vianney. Mereka belajar mengklasifikasi hewan berdasarkan cirinya. Seperti ikan, mamalia, reptil, serangga dan burung. "Tujuannya untuk memperkuat pemahaman mereka terhadap pelajaran IPA yang mereka pelajari," imbuhnya.

Dan yang tak kalah menarik, dalam Perkajusa tahun ini, para pembina memberikan tantangan penjelajahan yang tidak biasa bagi peserta. Jika biasanya peserta menggunakan petunjuk rute dengan sandi atau tanda alam, tapi kali ini menggunakan GPS.

Dengan satu perangkat smart handphone untuk satu regu, mereka menelusuri rute penjelajahan dengan menscan barcode yang disediakan pada tiap pos. "Di era saat ini anak-anak tidak bisa terhindar dari teknologi yang kian berkembang. Maka meskipun ini Pramuka kita mencoba memadukan nilai kepramukaan dengan sistem digital yang kian canggih," pungkasnya. (imm/sir/oci)



Loading...