Lakukan CPR saat Seseorang Mendadak Henti Jantung

Jumat, 18 Oktober 2019

Kamis, 10 Okt 2019, dibaca : 300 , vandri, asa

PENGETAHUAN dasar tentang penanganan darurat karena cedera akibat olahraga atau aktivitas lain harus dimiliki siapa pun. Sebab penanganan darurat jadi penentu kondisi lanjutan korban. Apalagi kasus henti jantung yang bisa saja terjadi akibat olahraga berlebihan.  
Dokter spesialis emergensi Persada Hospital dr. Henry Kasudarman, Sp.EM mengulas tentang pengetahuan dasar penanganan ketika menemui seseorang yang mengalami situasi darurat. Contohnya tak sadarkan diri karena henti jantung.  
Pengetahuan dasar tersebut penting diketahui sebab penanganan dalam keadaan darurat turut
menjadi penentu keselamatan hidup. "Beberapa kejadian sering terjadi tapi kita tidak tahu harus ngapain. Atau justru memberikan pertolongan tapi asal-asalan sehingga bukan menolong tapi malah memperparah kondisi korban," papar Henry dalam seminar yang digelar Persada Hospital bekerjasama dengan Malang Post, Selasa (8/10).  
Umumnya disebut sebagai basic life support atau bantuan hidup dasar, bisa dikatakan wajib diketahui oleh setiap orang. Bantuan hidup dasar ini merupakan aspek mendasar dalam menangani korban ketika tidak sadarkan diri lantaran mengalami henti jantung. Ada sejumlah aspek utama dalam bantuan hidup dasar. Mulai dari pengenalan sedini mungkin kondisi henti jantung, hingga aktivasi sistem bantuan emergensi.
Terdapat berbagai hal yang harus dipahami ketika menemui seseorang yang tidak sadarkan diri karena mengalami henti jantung,  termasuk saat berolahraga. Pertama, memastikan masih berada dalam kondisi sadar atau tidak. Caranya memanggil dan menepuk-nepuk pundaknya. Jika tidak ada respon harus dipastikan orang tersebut masih bernapas atau tidak. Kemungkinannya adalah henti jantung atau juga serangan jantung.
"Ketika dipanggil sudah tidak merespon, baru dipastikan napasnya. Caranya look, listen, and feel, atau lihat, dengar, dan rasakan. Untuk orang awam, kita sangat tidak sarankan untuk mengecek denyut nadi. Setelah itu baru minta orang sekitar memanggil ambulans," jelasnya.
Berdasar hal tersebut, Henry menyarankan setiap orang menghafal nomor rumah sakit yang paling dekat dengan  kediamannya. Semakin dekat rumah sakit akan semakin cepat pertolongan ambulans dan pihak medis. Sebab waktu cepat tidaknya penanganan berpengaruh besar terhadap keselamatan jiwa korban.
"Tunjuk orang sekitar untuk hubungi rumah sakit terdekat, ketika menunggu pertolongan medis datang,” katanya. Jika korban belum sadarkan diri,  bisa dilakukan kompresi dada dan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) sesuai ketentuan.
Terdapat sejumlah informasi wajib yang harus diberikan kepada rumah sakit, ketika meminta bantuan datangnya ambulans. Yakni identitas penelepon, apa yang terjadi pada korban, pertolongan apa yang sudah diberikan, alamat rinci yang dituju, hingga nomor telepon yang dapat dihubungi kembali oleh pihak rumah sakit atau sopir ambulans.
"Tunjukkan arah yang jelas, dan berikan nomor yang mudah dihubungi. Karena pasti sopir ambulans tidak mudah menemukan alamat lokasi kejadian," lanjut dia.
Kompresi dada dan  CPR adalah pertolongan paling dasar yang bisa dilakukan oleh orang awam. Karena tidak membutuhkan peralatan apa pun. Semua orang setidaknya bisa melakukan kompresi dada, jika menemui seseorang yang tak sadarkan diri karena henti jantung. Hal tersebut bisa terus dilakukan sembari menunggu tim medis datang.
"Intinya kita harus melakukan sesuatu (pertolongan dasar), karena kalau tidak korban sudah pasti meninggal. Maka dari itu, pengetahuan dasar ini mau tidak mau harus dimiliki oleh semua orang," tandasnya.
Kompresi dada sebisa mungkin dilakukan oleh lebih dari satu orang, bergantian tiap dua menit sekali dengan ritme kecepatan 100 hingga 120 per menit, serta kedalaman 5 - 6 cm.
Dalam seminar, Henry lalu mengajak peserta praktik melakukan kompresi dada melalui alat peraga manekin. "Kompresi dada yang benar itu jangan menggunakan otot lengan, tapi menumpukan berat tubuh kita ke tubuh korban. Karena kompresi dada  capek sekali, satu menit saja pasti sudah ngos-ngosan," imbuhnya.
Peserta seminar mempraktikkan cara melakukan kompresi dada yang benar sesuai ketentuan, dan langsung didampigi Henry. Perwakilan tim fisioterapi Persada Hospital, Asep Tri Hastuti AMF juga membagikan pengetahuan terkait fisioterapi untuk penanganan cedera olahraga. (asa/van)



Loading...