MalangPost - Kuncinya Memperlancar Air Mengalir, Kawasan Sempadan Dijadikan Taman

Kamis, 13 Agustus 2020

  Mengikuti :

Kuncinya Memperlancar Air Mengalir, Kawasan Sempadan Dijadikan Taman

Rabu, 04 Mar 2020, Dibaca : 9972 Kali

Banyak solusi mengatasi longsor di Kota Malang, utamanya di kawasan pemukiman dekat sempadan sungai. Mulai dari pembangunan rumah baru hingga rumah susun bagi warga sempadan sungai. Kabid Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Bambang Nugroho menjelaskan hal tersebut.
 “Misal membuat rusun atau pemukiman dari program pemerintah itu hal mudah karena tinggal membangun. Nah bagaimaan dengan kesadaran masyarakatnya? Ini yang sebenarnya jauh lebih penting,” paparnya pada Diskusi Malang Post, Jumat (28/2) tentang “Dilema Pemukiman DAS Brantas”.
Dia menjelaskan, bencana yang terjadi di Kota Malang baik banjir maupun longsor semuanya saling berkaitan. Kuncinya adalah bagaimana membuat aliran air cepat mengalir dan mengalir sesuai pada muara akhirnya lebih maksimal. Bambang membenarkan bahwa peta drainase di Kota Malang merupakan bagian penting untuk menanggulangi bencana longsor dan banjir di Kota Malang.
“Memang saat ini peta ini sedang kita buat dengan lebih detail dan terkini,” tegasnya.
Akan tetapi hal teknis ini nanti pun akan diikuti dengan perbaikan dan penataan. Tentu diperlukan upaya lain diluar hal yang bersifat teknis untuk mengurangi potensi longsor dapat terjadi. Inilah mengapa Kota Malang butuh inovasi.
Inovasi yang dimaksud adalah inovasi untuk memperkaya pengelolaan sumber daya air yang ada di Kota Malang. Yang di dalamnya dapat diselipkan agenda lebih besar yakni menjaga lingkungan bersama di Kota Malang.
Bahkan menurutnya, air yang mengalir seharusnya dapat “dihambat” untuk dimanfaatkan lebih baik agar tidak semuanya masuk ke sungai. Salah satunya seperti yang sudah dilakukan DPUPRPKP Kota Malang dengan Program Kampung Telolet.
Yang merupakan singatakan dari kampung Terong, Lombok, Lele dan Tomat. Yakni sebuah program pemanfaatan drainase menjadi tempat pembiakan ikan lele dan tanaman sayur mayur.
“Ini inovasi yang kami gagas, saat ini masih berjalan. Untuk memberikan pemahaman dan manfaat bagi warga bagaiamana drainase kalau dijaga bisa memberikan manfaat besar untuk warga,” tegas Bambang.
Program ini pertama dilakukan di RW 05 Glintung. Dengan program ini debit air yang masuk ke saluran air/drainase berkurang sebanyak 17 cm dan air mengalir dengan lancar.
Tidak hanya itu warga juga didorong untuk secara mandiri dapat menciptakan inovasi lain. Salah satunya yang dapat terus dikembangkan adalah membuat sumur resapan, sumur injeksi juga biopori. Meski begiti diakui, DPUPRPKP harus gencar melakukan pendampingan.
“Karena tidak semua wilayah dapat diberikan program sama. Misalnya satu daerah bisa diberi program biopori sementara RW sebelahnya tidak bisa. Ini bergantung juga dengan kontur tanah dan topografinya,” tegas Bambang.
Dia meneruskan hal ini membutuhkan partisipasi aktif pula dari perangkat wilayah utamanya kecamatan, kelurahan hingga RT/RW. Mereka yang juga harus aktif memperhatikan apa yang terjadi di wilayahnya kemudian pro aktif meminta dampingan.
Hal ini penting karena terdapat temuan di mana pengerjaan misalnya Biopori tidak berhasil di sebuah wilayah. Bahkan menimbulkan banjir yang lebih parah.
“Karena memang kita tidak dilibatkan dalam pendampingan. Maka dari itu saya juga meminta pak lurah-lurah dan camat aktif minta pendampingan kami. Pasti akan dibantu,” tegas Bambang.
Lebih lanjut ia meneruskan untuk longsor yang terjadi di kawasan Muharto belum lama ini jelas dikarenakan adanya pemukiman penduduk di sempadan sungai. Dengan drainase yang juga tidak tertata dengan baik.
Solusi terdekat memang diusulkan membangunkan sebuah rumah susun. Hanya saja hal ini bertempuran pula dengan dampak sosial. Warga cenderung tidak mau karena dikhawatirkan rusun akan dibuat jauh dengan lokasi mereka tinggal saat ini.
“Ini juga jadi kendala. Dampak sosial seperti ini yang juga sulit untuk dientas. Maka dari itu kesadaran masyarakat memang sangat penting,” tandasnya.
Beberapa usulan inovasi juga dilontarkan Kepala Seksi Rehabilitasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang Sutrisno saat diskusi berjalan. Dia menyarankan, khusus di kawasan sempadan sungai untuk dibuatkan taman/tempat rekreasi seperti Wisata Taman DAS Brantas.
Hal ini jika diseriusi dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat dengan signifikan. Warga yang diminta pindah kemudian diberdayakan untuk mengelola wisata.
“Karena warga sekitar sana juga perlu ditingkatkan ekonominya. Kalau sudah bagus pasti akan malu mau buang sampah ke sungai. Pasti lingkungannya dijaga,” tandasnya.
Kasi Pemerintahan, Ketenteraman dan Ketertiban Kecamatan Klojen Andi Hamzah pun memberikan saran agar DPUPRPKP Kota Malang mengagendakan pertemuan dengan perangkat di lima kecamatan. Untuk membahas dan menyelaraskan data peta drainase yang ada.
Hal ini diupayakan agar secara teknis, baik DPUPRKPK maupun lima kecamatan yang ada mengetahui poisisi peta drainase yang ada. Sekaligus mengetahui wilayah mana saja yang dapat diberi program “pelancaran air” drainase sesuai tipe wilayah.(ica/ary/habis)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Francisca Angelina