Krisis Air karena Proyek Rp 35 Miliar, Perumda Tugu Tirta Salahkan Pipanisasi Enam Tahun Silam | Malang POST

Senin, 17 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Senin, 27 Jan 2020,

MALANG - Krisis air bersih di Kota Malang yang terjadi dua pekan terakhir, sudah dievaluasi oleh Perumda Tugu Tirta (Baca PDAM, red). Anehnya, perusahaan milik Pemkot Malang itu menyalahkan proyek pipanisasi enam tahun lalu. Pipa jebol karena tak mampu tampung debit. Untuk itu Perumda mengusulkan penggantikan pipa dengan anggaran Rp 35 miliar.
Ya, krisis air karena pipa jebol karena tak mampu menampung debit air diungkapkan Dirut Perumda Tugu Tirta M. Nor Mohlas. Ia menjelaskan penggantian pipa harus dilakukan. Karena pipa jebol yang berulang kali disebabkan kemampuan PN pipa yang tidak bisa mengampu tekanan debit air yang masuk. Maka pihaknya saat ini tengah melakukan komunikasi intes baik dengan provinsi maupun kementrian untuk mengupayakan penggantian pipa baru.
Hal ini juga ditegaskan Wagub Jatim Emil Dardak saat berkunjung ke lokasi terdampak jebolnya pipa. Ia mengatakan saat ini usulan anggaran pipa pengganti senilai Rp 35 Miliar sedang dipercepat prosesnya.
"Kita upayakan dalam hitungan bulan sudah bisa diadakan. Akan dipercepat prosesnya karena ini darurat," tandasnya.
Alasan utama krisis itu, karena ada kesalahan teknis terkait kualitas pipa transmisi yang tidak sesuai. Ini aneh, mengingat pipa terpasang selama kurang lebih enam tahun lamanya.  Sejak pipa hibah dari Kementerian PUPR ini dipasang pada 2014 lalu, diakui pipa yang terpasang ada yang tidak sesuai.
Terutama kapasitas tekanan yang akan diterima saat dipasang di lokasi ekstrem. Lokasi itu berada di kontur tanah yang cekung dengan elevasi tinggi, yakni di kawasan Desa Pulungdowo dan Kidal Kecamatan Tumpang.
Emil Dardak juga telah turun meninjau lokasi jebol pipa di Jl Raya Kidal dan Desa Pulungdowo Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Kondisi krisis air hingga masuk ke pekan ketiga sejak bermasalah pada Jumat (10/1) sudah mulai berangsur membaik. Dari total 30 ribu pelanggan yang terdampak, kini masih ada sekitar 3.500 pelanggan masih terdampak atau belum teraliri air seperti normal.
Mereka yang berada di kawasan Kelurahan Wonokoyo menjadi warga yang paling lama terdampak. Diketahui hingga berita ini diturunkan, kawasan seperti Baran dan Kalisari belum teraliri secara normal. Masuk pekan ketiga, hari ini, mereka masih mengandalkan bantuan mobil tangki air.
Pakar Teknik Pengairan: Harus Dicek Pipanya
Pakar Teknik Pengairan Universitas Brawijaya (UB) Malang Dr. Eng Tri Budi Prayogo, ST., MT. memandang teknis pelaksanaan pengerjaan pipa memang perlu dievaluasi. Ia mengatakan, jelas terdapat kesalahan teknis dalam pemasangan pipa sehingga kejadian pipa jebol berulang kali terus terjadi.
“Saya pikir memang pelaksanaannya di awal ya. Pemasangan pipa idealnya sesuai dengan tiga hal. Pertama debit yang masuk, tekanan (pressure nominal), dan kualitas pipa yang kemudian menyesuaikan,” papar pria yang akrab disapa Tri ini kepada Malang Post, kemarin.
Sudah sewajarnya pipa akan bermasalah ketika dipasang tidak sesuai dengan kemampuannya. Dalam kaitannya dengan kejadian jebol pipa di Kawasan Kidal dan Pulungdowo beberapa waktu terakhir menurutnya terjadi kesalahan teknis.
Diketahui memang, Perumda Tugu Tirta Kota Malang sudah menjelaskan pipa transmisi yang jebol tidak mampu menahan debit/tekanan air yang masuk sebesar 12-14 bar PN (Pressure Nominal). Sementara kemampuan pipa hanya 10 bar.
“Ya benar jika pipanya kemampuan hanya 10 yang masuk lebih besar pasti akan jebol,” papar alumnus S3 Civil and Environmental Engineering University of Mizayaki ini.
Menurutnya ideal dari pipa transmisi yang berada di wilayah ekstrem adalah lebih besar dengan tekanan yang masuk. Dalam kasus pipa Perumda Tugu Tirta ini, ideal kapasitas PN yang bisa mengampu adalah 20 PN.
Tidak hanya itu, ia juga memperhatikan beberapa hal terkait pipa yang berada di Kawasan Kidal dan Pulungdowo tersebut. Jebolnya pipa bisa juga dipengaruhi oleh keadaan di permukaan atau diatas jaringan pipa.
“Jika berada di wilayah cekungan, dengan kualitas pipa yang seperti itu dilihat juga diatas atau dipermukaan pipa ada apa? Apa ada beban permukaan yang juga mempengaruhi. Di sana itu kan di atasnya jalan ya?,” tandas Tri.
Hal ini diprediksi Tri menjadi salah satu faktor penyumbang jebolnya pipa yang dikatakan bisa kuat selama 20 tahun lamanya. Jika di atas permukaan pipa dipakai untuk jalan raya, maka tekanan yang membebani pipa akan semakin besar.
Kemudian jika digabungkan lagi dengan kualitas pipa yang seadanya tadi, ditambah tekanan air yang tidak sesuai dengan pipa, maka sampai kapanpun jika tidak diganti dengan kapasitas sesuai akan tetap rusak dan jebol.
“Kalau memang tekanan diatas membenani, tapi pipa tetap mau dipertahakan dengan kualitas sekarang bisa ditambahi culvert (box culvert/kotak beton) di atas pipa,” tandasnya.
Ia menambahkan, satu cara lain yang dapat dilakukan adalah mengganti pipa dengan bahan lebih bagus. Yakni Galvanis (besi anti karat). Diketahui pipa transmisi air yang dipakai oleh Perumda Tugu Tirta saat ini berkualitas HDPE (High Density Polyethylene) berbahan thermo plastik dengan densitas tinggi bercampur karet.
Menurut Tri, pipa Galvanis lebih mampu ditempatkan di kawasan ekstrem seperti kondisi pipa jebol di Pulungdowo dan Kidal. Karena lebih kuat dengan bahan besi. Hanya saja, pipa ini memerlukan biaya atau anggaran yang besar. Karena jauh lebih mahal dari jenis HDPE.
“Ya memang lebih mahal. Tapi kalau memang jebol-jebol terus bisalah pakai ini,” tandasnya.
Tri menjelaskan pula sebenarnya, konsidi kontur yang naik turun dan bercekung tidak hanya berada di kawasan Kedungkandang saja. Jika mau dilihat, kawasan Dinoyo juga memiliki kawasan tersebut. Utamanya saat pipa naik di kawasan ke pemukinan lebih atas seperti kawasan Joyogrand.
Akan tetapi mengapa kemudian kawasan ini tidak memiliki masalah serius seperti pipa jaringan yang mengarah ke Kawasan Kedungkandang? Menurut Tri, hal ini berkaitan dengan jaringan pipa dan tandon yang ada disana sejak dahulu. Pengerjaan sistem jaringan air di sana terbilang cukup kuno, yakni ada campur tangan teknologi orang Belanda.
“Makanya disana itu ada tandon-tandon kuno ya, seperti Tandon Betek. Ini saya pikir salah satu cara agar tidak ada masalah disana,” paparnya.
Penempatan Tandon dengan kapasitas besar di sebuah titik menurutnya dibentuk orang Belanda. Ini untuk menghindari masalah tekanan air pada jaringan pipa yang berada di level ekstrem. Pasalnya semakin banyak Tandon dibuat dan ditempatkan akan mengurangi tekanan air yang masuk ke jaringan pipa dengan itu pipa bisa terjaga kapasitasnya.
Hal ini disarankan dilakukan oleh Perumda Tugu Tirta di kawasan Kedungkandang. Memperbanyak pendirian tandon, khususnya untuk ditempatkan di kawasan dataran tinggi. Tidak hanya di atas tapi juga ditempatkan di beberapa titik lain di persimpangannya untuk memecah tingkat tekanan sehingga tidak banyak membebankan pipa dibawahnya.
“Ya saya tentu apapun rencananya yang penting adalah pelaksanaannya. Harus sesuai. Karena kalau dikerjakan tidak sesuai ya tentu saja akan bermasalah terus,” pungkasnya.(ica/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Francisca Angelina



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...