Malang Post - Krisis Air Bersih, Tagihan Air Malah Melonjak

Selasa, 31 Maret 2020

  Mengikuti :


Krisis Air Bersih, Tagihan Air Malah Melonjak

Senin, 24 Feb 2020

MALANG - Pasca krisis air bersih di Kota Malang, persoalan kembali membelit Perumda Tugu Tirta, Minggu (23/2) . Kali ini terkait dengan tagihan air bersih di kawasan yang terdampak krisis air. Sejumlah warga justru mengeluh tagihannya melonjak, padahal air bersih tak bisa diakses minimal tiga minggu pada bulan Januari.


Ya, ada persoalan baru yang muncul. Warga Perumahan Bulan Terang Utama (BTU) mendapatkan tagihan air yang membuat mereka terkejut. Hal tersebut diposting oleh akun Bondhan Rio di akun media sosial facebook.
“Iki meterane perlu kalibrasi apa pancen kemeruh. Banyune mati kok iso metu jumlah pemakaian. Sing diukur kie banyu apa angin liwat? Paling masange mbiyen salah dina, wkwkwk,” tulis Bondhan. Artinya “Ini meteran air apa perlu kalibrasi atau sok tahu. Airnya mati kok bisa muncul jumlah pemakaian air. Ini yang diukur (oleh Perumda Jasa Tirta, Red) air atau angin yang lewat. Paling ketika memasang (meteran, Red) salah hari,” ujar Bondhan diserta bukti pembayaran air.


Malang Post langsung berburu keterangan ke lokasi. Diperoleh keterangan dari salah satu warga yakni Rahmi Yuliawati, warga GA 37. Ia mendapat tagihan air dengan total Rp 246 ribu sepanjang bulan Desember 2019 dan Januari 2020. Dengan rincian, bulan Desember total pembayaran Rp 189 ribu dan bulan Januari 2020 Rp 57 ribu.
“Padahal, pada dua bulan itu, saya jarang di rumah. Apalagi, bulan Januari lalu, airnya mati,” terang dia ketika ditemui Malang Post di rumahnya.


Sementara, pada bulan November 2019, ia membayar tagihan Rp 56 ribu dan November 2019 Rp 67 ribu. “Total yang dibayar Rp 123 ribu. Itu pemakaian sehari-hari. Sebab, saya menempati rumah ini baru sekitar bulan Oktober 2019. Biasanya, ketika sedang ada di rumah, air digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti mandi dan mengurus bayi,” jelas dia.
Hal tersebut kemudian ia tanyakan kepada tetangga sekitar. Untuk tagihan bulan Januari, hampir seluruh warga Perumahan BTU membayar tagihan air dengan jumlah yang tidak banyak. Rata-rata, berkisar antara Rp 30 ribu hingga Rp 70 ribu.
“Karena memang airnya sempat mati. Sisa pembayarannya, itu air yang kami gunakan ketika air sudah mulai nyala. Matinya sekitar tiga minggu, satu mingguan sudah nyala lagi airnya,” jelas perempuan berkacamata ini.


Ketika air sudah mulai menyala, Rahmi menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari. Mulai mandi, memasak dan lainnya.
“Apalagi, saya punya anak kecil. Jadi, harus banyak kebutuhan air,” lanjut dia.
Dalam melakukan pembayaran, Rahmi mengaku didatangi langsung oleh petugas Perumda Tugu Tirta. Hampir setiap bulan, ia langsung memberikan sejumlah uang kepada petugas yang melakukan tagihan.
“Saya didatangi baru dua kali ini. Bulan depan, saya ingin bayar dengan datang langsung ke kantornya. Dengan menanyakan rinciannya,” papar dia.


Lebih lanjut, perempuan berusia 24 tahun itu mengaku sudah membayarkan seluruh tagihan air yang ada. Namun, ia tetap ingin meminta kejelasan terhadap jumlah tagihan air kepadanya. “Setidaknya, petugas yang datang ini menjelaskan dulu kepada saya. Barangkali ada tambahan apa gitu. Saya nggak masalah, toh akhirnya juga semua sudah saya bayar,” ujar dia.


Rahmi berharap, kejadian tersebut tidak terjadi lagi. Sebab, setelah diperiksa, meteran air yang dipasang di rumahnya itu juga tidak rusak.
“Mudah-mudahan tidak begini lagi. Saya juga berharap, semoga airnya nggak mati lagi. Itu saja,” pungkas dia.
Sementara itu, warga lain, yakni Widhi Nova juga menjelaskan tagihan air yang didapatnya. Sebab, bulan Januari lalu, ia membayar hanya Rp 36 ribu.
“Saya kaget, soalnya lebih murah dari biasanya. Karena memang kondisi airnya saat itu mati,” jelas dia.


Bahkan, tetangga sekitar rumahnya juga tidak mempermasalahkan terkait tagihan air yang ada. Sebab, ia menilai, tagihan air yang ada itu merupakan jumlah air yang digunakan pasca air mati total.
“Ketika sudah nyala, selama kurang lebih satu minggu terakhir, kami otomatis gunakan air untuk kebutuhan sehari-hari,” pungkas dia.


Senada dengan Widhi, warga lainnya, yakni Maharani Zaida juga mengungkapkan hal yang sama. Setiap bulannya, ia malah menerima tagihan air Rp 200 ribuan.
“Tapi, sejak air mati, hanya Rp 70 ribuan saja. Jadi, lebih murah. Tidak ada masalah dalam tagihan pembayaran,” lanjut dia.
Sementara itu, Direktur Utama Perumda Tugu Tirta, Nor Mohlas meminta warga yang memiliki masalah dengan tagihan air, untuk segera membuat laporan. "Segera buat laporan ke kami hari Senin besok di kantor," tutup dia. (tea/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Amanda Egatya

  Berita Lainnya





Loading...