Krisis Air Berlanjut, Kemarau Jadi Alasan Baru PDAM | Malang Post

Minggu, 17 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Selasa, 15 Okt 2019, dibaca : 570 , vandri, sisca

MALANG - Belum ada tanda-tanda krisis air PDAM Kota Malang di kawasan Sawojajar dan sekitarnya segera teratasi. Karena itu, pelanggan perusahaan air minum milik Pemkot Malang itu bisa mengadukan ke dewan maupun jalur hukum. Apalagi terungkap masalah ini bakal berlanjut lantaran debit air mengalami penurunan.
Dirut PDAM Kota Malang, M Muhlas sampai kemarin belum bisa memastikan sampai kapan krisis air di pelanggan segera teratasi. Sebab masalah terbaru yang sedang dialami yakni  penurunan debit air dari sumber akibat kemarau panjang. Ini setelah sebelumnya PDAM melakukan perbaikan pipa bocor dan normalisasi jaringan air dari Sumber Simpar di Sumberpitu, Tumpang, Kabupaten Malang.
 “Karena kemarau, debit air memang mengecil,” kata Muhlas dikonfirmasi terkait perkembangan normalisasi air yang tak kunjung tuntas. Penurunan debit air, lanjut dia, berkisar hingga 43 persen.
Meski begitu ia tidak menjelaskan detail sumber air mana yang menurun debitnya. Namun untuk diketahui, Tandon Buring Bawah memiliki lima water tank. Yakni Tandon Buring Bawah I hingga V. Masing-masing water tank memiliki kapasitas berbeda-beda untuk menampung pasokan air yang dialirkan pada 22 wilayah yang kini dilanda krisis air.
Tandon Buring Bawah I dapat menampung 850 meter kubik, Tandon Buring Bawah II sebanyak 1.000 meter kubik, Tandon Buring Bawah III dan IV masing-masing bisa menampung sebanyak 2.000 meter kubik. Sedangkan Tandon Buring Bawah V menampung sebanyak 2.660 meter kubik. Total tampungan Tandon Buring Bawah 8.510 meter kubik.
Jika menghitung dari penurunan debit hingga 43 persen tadi, maka Tandon Buring Bawah yang total kapasitas tampungan airnya kurang lebih 8.510 meter kubik,  berkurang hingga 3.659  meter kubik.
Meski begitu Muhlas melanjutkan kondisi low level pada pasokan debet air ini terjadi di berbagai daerah lainnya. Ia mengatakan hal tersebut diakibatkan musim kemarau yang berkepanjangan.
“Kejadian ini terjadi di berbagai daerah. Kabupaten pun (Kab Malang,red) seperti itu,” ujarnya. Keadaan tersebut diperkirakan terus terjadi karena tangkapan serapan air juga semakin bekurang akibat faktor lingkungan. Seperti penduduk dan kawasan pemukiman yang makin padat dan tumbuh berkembang.
Namun demikian, Muhlas memastikan pihaknya tetap berusaha memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan. Salah satu caranya siapkan tangki gratis. “Kita siapkan tangki gratis 24 jam. Dan melakukan normalisasi lainnya. Imbauan warga menampung air,” kata dia.
Sementara itu menurut pantauan Malang Post dalam platform pengaduan PDAM Kota Malang via Facebook dan Instagram, low level (debet air menurun,red) ini terdampak betul pada Tandon Buring Bawah.
Menurut data PDAM Kota Malang Tandon Buring Bawah mengaliri 22 kawasan. Hampir semuanya di wilayah Kecamatan Kedungkandang. Di antaranya Sawojajar,  Jalan Ki Ageng Gribig, Jl KH Malik, Jl Mayjen Sungkono, Jl K Parseh Jaya, Perum Green Living, Bumiayu Arjowinangun, Jl Segaran, Jl Muharto hingga kawasan  Lowokdoro. Selain itu kawasan Sawojajar di antaranya di Jalan Danau Sentani, Jalan Danau Bratan, Jalan Selat Malaka hingga Jalan  Danau Singkarak.
Sementara itu,  anggota Komisi A DPRD Kota Malang Harvard Kurniawan menyayangkan penanganan PDAM terkait antisipasi penurunan debit air di musik kemarau. Sebab musim kemarau seharusnya tak dijadikan sebagai alasan lantaran berlangsung setiap tahun.  
Harvad memandang kondisi tersebut harusnya diantispasi jauh-jauh hari. Karena itulah persoalan tersebut bakal dibahas di dewan.
“Kita sekarang lagi membahas rancangan usulan anggaran, APBD 2020. Ini saya pikir jadi momen tepat bagi PDAM Kota Malang mengajukan anggran antisipasi kekeringan. Agar kedepan tidak terjadi lagi dan bisa diantisipasi,” tegasnya.
Politisi PDI Perjuangan ini mengingatkan PDAM segera menuntaskan masalah yang sedang dikeluhkan warga. Sebab warga, terutama pelanggan harus mendapat pelayanan maksimal. Ia mempersilahkan warga mengadu ke dewan.
“Selain itu kalau memang merasa dirugikan, bisa juga mengadukan ke lembaga konsumen. Saya pikir ini untuk kemajuan bersama,” tandasnya.

Cuci Pakaian di Tetangga
Sampai kemarin, warga di sekitar kawasan Sawojajar masih mengalami kesulitan air. Sebab, debit air PDAM di beberapa kawasan tersebut masih kecil.  Salah satu warga Jalan Danau Bedali, Sawojajar,  Elda Elisa mengungkapkan, selama kurang lebih satu minggu terakhir, ia sering kesulitan mendapatkan air bersih. Seringkali, debit air mengecil mulai pukul 10.00 hingga 16.00 WIB. “Sekitar pukul 00.00 hingga 09.00 sudah mulai normal. Kemudian, mati sejak 17.00 hingga 23.30 WIB,” paparnya ketika dikonfirmasi Malang Post.
Elda mengaku selama kurang lebih satu minggu belakangan ini, dirinya kesulitan beraktivitas. Mulai mandi, membersihkan peralatan makan dan lainnya. Apalagi, ia memiliki bayi yang baru berumur sekitar delapan bulan. “Selama ini, saya berupaya untuk nandon air.  Pakainya harus diirit-irit,” ungkap dia.
Namun lanjut dia, jika kehabisan air hasil tandon, ia terpaksa mandi di masjid yang tak jauh dari rumahnya. Sebab, masjid tersebut menggunakan sumur bor. Tak jarang, warga sekitar juga melakukan hal serupa. “Jadi, kadang bertemu tetangga yang sama-sama kehabisan air. Kami mandinya gantian di masjid,” ujarnya.
Bahkan tak jarang, warga sekitar juga membawa ember dan galon untuk stok air di rumahnya. Seolah mengerti keresahan warga, pihak takmir masjid juga menyiapkan kran khusus untuk warga yang ingin menampung air. “Sehingga, warga di sini banyak terbantu. Setiap hari, di grup WhatsApp RT juga ramai dibahas terkait kondisi air. Saya berharap, mudah-mudahan segera teratasi,” harap dia.
Sementara itu, warga di Jalan Danau Singkarak, Ryan Agastya juga mengeluhkan hal yang sama. Selama kurang lebih satu minggu, debit air di rumahnya cmengecil, bahkan mati. “Pada jam-jam tertentu memang airnya kecil, sebentar kemudian juga mati. Tapi kami selalu menampung air di ember,” jelas dia.
Selama ini ia mengaku menghemat air yang telah ditampung sebelumnya. Ryan dan tiga orang anggota keluarganya yang lain memilih untuk memanfaatkan air yang untuk mandi saja. “Cuci baju, kami numpang ke rumah saudara. Sementara ini, juga tidak masak, lebih memilih makan di luar untuk mengurangi mencuci peralatan makan,” bebernya.
Dia berharap, PDAM Kota Malang segera menuntaskan normalisasi air dengan lebih cepat. Sehingga, tidak menghambat aktivitas  masyarakat.  (ica/tea/van)



Loading...