MalangPost - Kreativitas Penyandang Tuna Netra di Tengah Pandemi Covid-19

Kamis, 09 Juli 2020

  Mengikuti :

Kreativitas Penyandang Tuna Netra di Tengah Pandemi Covid-19

Jumat, 05 Jun 2020, Dibaca : 4938 Kali

PANDEMI Covid-19 melahirkan kreativitas. Ini dibuktikan sejumah penyandang tuna netra. Mereka membuat Batik Netra. Penyandang tuna netra yang kehilangan pekerjaan sebagai tukang pijat dan lainnya masih bisa mendapat penghasilan karena kreativitas.  
 

Pembuatan Batik Netra mengutamakan indra peraba. Ketika menyiapkan kain, pembatik melipat sesuai pola yang disiapkan. Ada yang dilipat berbentuk segi empat hingga lipatan terkecil. Ada juga yang digulung dan diikat dengan karet. Ketika melipat, maka pembatik yang merupakan tuna netra mengerahkan indra peraba. Lalu menerka-nerka sendiri bahwa kain tersebut terlipat sempurna sesuai dengan polanya.


Proses ini berlangsung sekitar 10-15 menit. Setelah itu, kain tersebut diberi warna dengan mengikuti pola kain yang dibuat. Ketika proses pewarnaan, para penyandang tuna netra ini dibantu oleh rekan mereka yang memiliki pandangan awas (normal). Kemudian, kain tersebut dijemur di bawah terik matahari hingga kering. Jadilah Batik Netra yang siap didistribusikan.


Begitulah proses Batik Netra. Hasilnya sangat bagus untuk dikenakan. Ya, memang masa pandemi Covid-19 melahirkan kreativitas. "Masa pandemi Covid-19 ini adalah titik balik di mana kita harus memikirkan suatu perubahan. Dunia kami memang terbatas. Namun, kami masih ingin tetap berkarya. Sebab, masih banyak rekan-rekan tuna netra yang tidak memiliki penghasilan," kata Adi Gunawan, inisiator sekaligus founder Adi Gunawan Institute.


Sejak dua bulan lalu, pria yang juga penyandang low vision ini memiliki ide untuk membuat Batik Netra. Ia merangkul rekan-rekannya penyandang tuna netra yang tidak memiliki penghasilan. "Setidaknya, ada enam orang yang dilatih untuk membuat Batik Netra ini. Dalam pembuatan batik, harus dilakukan satu tim. Ada rekan-rekan dari tuna netra dan pemilik mata yang awas," lanjut dia.


Proses batik tersebut, tidak membutuhkan waktu yang lama. Untuk pembuatan pola, membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam. "Kemudian, kainnya dijemur. Ini butuh waktu yang cukup lama. Maksimal, dalam satu hari, bisa jadi," imbuh pria berusia 33 tahun itu.
Ia sudah memiliki lima pola khas yang telah dipatenkan. Batik Netra memiliki ciri-ciri yang sangat unik. Penuh warna dengan pola yang tidak biasa. "Batik ini kami banderol seharga Rp 85 ribu hingga Rp 350 ribu. Saat ini, sudah ada sekitar 10 lembar kain yang ready," lanjut Adi.


Sebelumnya, karya batik tersebut justru sudah laris lebih dulu di pasaran sebelum di-launching. Ada juga produk berupa baju dan selendang. "Karena sudah banyak yang tahu kalau ini hasil dari teman-teman tuna netra, pembelinya sangat antusias. Tidak hanya dari Malang saja, dari luar kota juga banyak yang apresiasi karya kami," kata warga Villa Puncak Tidar ini.


Motif batik tersebut sangat berbeda dengan batik pada umumnya. Jika biasanya batik memiliki ciri khas print atau tulis dengan warna-warna tertentu, Batik Netra cenderung berbeda. Motifnya memang penuh dengan semburan warna. Ada yang bermotif semburan warna dengan bulatan kecil putih, ada yang menggambarkan gradasi warna.


Kedepan, kata Adi, akan terus mengembangkan bisnis Batik Netra. Apalagi, dia juga sudah bekerjasama dengan lingkar sosial (linsos) untuk pemasarannya. "Kami akan produksi lebih banyak lagi. Sekaligus, ingin membuktikan bahwa rekan-rekan tuna netra bisa berkarya dan juga memiliki inisiatif dengan mengikuti perkembangan zaman," imbuhnya.


Selain membuat Batik Netra, Adi juga mengajak para penyandang tuna netra melek digital. Ia sudah seringkali memberi pelatihan kepada penyandang tuna netra untuk mengoperasikan ponsel dan komputer. "Kalau ponsel, sudah dari settingan ponselnya sendiri. Kalau di komputer, ada aplikasi khusus agar teman-teman penyandang tuna netra ini bisa lebih mudah dalam mengoperasikan komputer. Kecanggihan teknologi mempermudah kami dalam berkomunikasi," lanjut pria asli Malang ini.
Selain itu, ia juga mengajarkan anak-anak penyandang tuna netra melakukan pelatihan di bidang motorik. Bahkan, hal ini sudah menarik pelanggan dari wilayah Bandung yang akan datang setiap tiga bulan sekali. "Tentunya, mengajarkan ini sangat tidak mudah. Untuk itu, kami memanfaatkan teknologi yang ada untuk memonitor perkembangan anak tuna netra maupun low vision," imbuh dia antusias.


Saat ini, di Indonesia, sudah ada sekitar 150 orang penyandang tuna netra yang ditangani oleh Adi untuk mengasah keterampilan dan mendapatkan pekerjaan. "Dengan keterbatasan yang ada, saya ingin menunjukkan kalau teman-teman penyandang tuna netra bisa berkarya, bekerja dan berpenghasilan," pungkas Adi.(Amanda Egatya/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Amanda Egatya