Kisah Para Pemburu Benda Kuno di Malang | Malang POST

Jumat, 21 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Senin, 13 Jan 2020,

MALANG – Kolektor barang kuno, Lulut Edi Santoso menyisir tiga sungai besar di Malang, untuk mencari benda-benda berusia tua. Dia memburu barang-barang lawas diduga peninggalan kerajaan. Lulut sapaan akrabnya turun bersama dua pemburu barang kuno, Abdul Azis Baraja dan Rakhmad Setiawan pemilik channel Youtube Kokka The Ancient.
Sudah dua hari mereka menyusur sungai-sungai yang diklaim sebagai sungai purbakala. Yakni, Sungai Amprong, Sungai Bango dan Sungai Brantas. Hari pertama, trio ini mendatangi sungai Amprong dan sungai Bango.
“Hari pertama, Minggu 12 Januari, kami menyisir Amprong, tapi karena terlalu keruh, lokasi pencarian digeser,” ujar Lulut kepada Malang Post, Senin siang.
Mereka bergeser ke Sungai Bango di sekitar perbatasan Blimbing-Pakis, arah Wendit. Setibanya di sungai Bango, Azis, bertindak sebagai penyelam utama. Dengan sebuah pisau pendek yang ujungnya diikat semacam tali pramuka warna putih, pria 65 tahun itu mengais sedimen dan lumpur-lumpur sungai.
Kapas putih di kedua telinga, serta kacamata air terpasang di kepalanya. Azis, adalah seorang pemburu benda kuno di sungai yang memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun. Hobinya itu membuat Azis cukup piawai memburu benda-benda kuno di sungai. Azis pelan-pelan menggaruk-garuk tumpukan sedimen. Tak lama, wajahnya berseri. Sebutir emas, ditemukan di Sungai Bango.
“Logikanya, peradaban dulu, selalu hidup dan bergantung dengan sungai. Kalaupun peradaban itu hilang, barang-barang peninggalan itu, akan mengarah ke sungai, dan tertahan di ceruk bebatuan. Sungai seperti Bango atau Brantas ini, adalah sungai purba, karena dasarnya adalah batuan padas,” papar Rakhmad.
Dari sebutir emas ini, Azis kian bersemangat melakukan penggalian dan pengerukan. Akhirnya, setelah seharian menggali, Azis berhasil menggali beberapa benda yang diklaim memiliki nilai sejarah. Yakni, berupa anting hidung, mata cincin intan, batu giok, gelang, logam lonjong perunggu berukir, mata perhiasan berwarna biru, dua bilah senjata yang berkarat, bebatuan sampai lonceng.
Namun, temuan terbanyak adalah uang koin lawas, yang sering disebut uang gobog dan amulet. Uang gobog dengan lubang bulat maupun persegi di tengahnya, berjumlah 13 keping. Sementara, uang amulet sejumlah 13 keping. Hari kedua, Lulut dan Kokka The Ancient kembali melakukan penyisiran.
Kali ini, sasarannya adalah Sungai Brantas di bawah jembatan Jalan Majapahit, Splendid. Azis sebagai penyelam, mulai melepas pakaian formalnya. Celana pendek, kaos, sangkur dengan tali yang terikat di pangkal pisau, serta kapas di telinga dan kacamata air, kembali dikenakan oleh pria kelahiran Malang yang menetap di Jombang itu.
Mulai pukul 10.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB, Azis slulup di sepanjang Sungai Brantas sembari mengais sedimen sungai.
“Brantas dipilih karena termasuk sungai purba. Kami tegaskan ini bukan ‘penarikan’, istilah untuk mencari benda dari ritual. Kami tidak melakukan itu, ini murni pencarian secara manual,” sambung Rakhmad.
Teknik mencari benda kuno di sungai ini, tak lepas dari pengalaman yang sudah dikumpulkan oleh Azis selama puluhan tahun. Pertama, dia harus memastikan sungai tersebut adalah sungai purba yang dulunya menjadi pusat peradaban manusia. Lalu, kawasan di sekitar sungai ini, harus dikenal sebagai kawasan terkenal dan bersejarah.
Setelah itu, batuan sungainya juga harus padas, dan terbentuk dari proses ratusan tahun, seperti Sungai Brantas di bawah jembatan Jalan Majapahit. Usai mendeteksi lokasi seperti ini, Azis memfokuskan pencarian dan penyelaman ke ceruk-ceruk di bawah sedimentasi sungai. Karena, biasanya barang-barang lawas selalu terselip di ceruk itu.
Sayangnya, tidak semua hari adalah hari beruntung. Begitu juga, kemujuran hari pertama, tidak mengikuti tim ini di hari kedua. Setelah mencari seharian, tim pemburu benda kuno belum menemukan lagi benda lawas di Sungai Brantas. Lulut menambahkan, semua temuannya dari pencarian ini, akan diserahkan kepada Pemkot Malang, dalam hal ini Museum Mpu Purwa Jalan Sukarno Hatta Kota Malang.
Azis, sebagai pemburu benda kuno, telah berkeliling sungai di Jawa Timur, Jawa Tengah sampai ke negeri jiran Malaysia untuk mengais benda kuno. Tahun 2015, dia dan Rahkmad berangkat ke Malaka, dan bolak balik Indonesia-Malaysia selama 4 tahun, untuk memburu benda kuno. Perburuan ini dibiayai pemerintah Malaka.
“Uniknya, di sana kami menemukan beberapa benda seperti batu permata, patung emas, koin-koin lawas. Dan, corak bendanya itu kok seperti Jawa. Itu menambah keyakinan kami bahwa nusantara, terutama Majapahit, itu sangat-sangat besar daerah kekuasaannya,” tutup pria 45 tahun tersebut.(fin/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Fino Yudistira



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...