Kisah Marta Frily Adetya, Atlet Kempo UMM | Malang Post

Sabtu, 07 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Senin, 30 Sep 2019, dibaca : 678 , bagus, asa

Mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini berhasil meraih medali emas. Ia merebut prestasi itu pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) yang digelar oleh Kemristek Dikti pada 24 hingga 26 September. Marta Frily Adetya mampu mengharumkan Malang dan kampusnya lewat Cabor Kempo kategori Randori (tarung bebas) kelas 60 kg.
Menariknya, gadis yang akrab disapa Marta ini sebenarnya masuk pada kelas 55 kg. Namun pada kelas tersebut, Marta tidak memiliki lawan bertanding. Mulanya Marta memiliki dua opsi untuk bergabung pada kelas 51 kg atau kelas 60 kg. Tapi ternyata Marta ditolak untuk bertanding pada kelas 51 kg. Hingga akhirnya Marta mau tak mau harus bertanding pada kelas tanding 60 kg, meskipun ia sendiri hanya memiliki berat badan 52 kg.
"Sempat mengalami kendala pas Technical Meeting (TM). Akhirnya aku di suruh milih mau naik kelas 60kg atau turun kelas 51kg. Tapi di kelas 51kg tidak bersedia menerima aku. Akhirnya aku di  60kg, lawannya otomatis lebih besar daripada aku. Sedangkan beratku cuman 52kg, tapi lawanku beratnya 58-60kg," terang mahasiswi semester VII Jurusan Psikologi UMM ini.
Perlu diketahui, POMnas sendiri merupakan even olahraga mahasiswa nasional antar Provinsi yang digelar dua tahun sekali sejak tahun 1990. Sedang cabor Kempo sendiri adalah salah satu seni bela diri yang berasal dari negara Matahari Terbit yakni Jepang. Lebih lanjut, pada akhirnya Marta harus berjuang keras agar bisa bertanding pada kelas yang lebih berat dibanding proporsinya.
"Satu-satunya cara aku harus lebih cepat untuk masukin tendanganku. Jadi aku harus mengandalkan kelebihanku dari sisi speed (kecepatan), karena lawanku punya power yang memang jauh lebih kuat jika melihat dari proporsinya," lanjut sulung dari dua bersaudara ini.
Hingga Marta sendiri akhirnya berhasil melampaui kesulitan tersebut, dan berhasil mengalahkan perwakilan dari Provinsi Lampung pada partai final yang diselenggarakan di GOR Cempaka Putih Jakarta Pusat. Sebelumnya, Marta harus berupaya keras dalam menyingkirkan 19 peserta lain perwakilan dari berbagai Provinsi dari seluruh Indonesia.
"Final waktu POMNAS ketemu sama lawan dari perwakilan Lampung,  dia lebih tinggi daripada aku, kakinya juga lebih panjang. Jadi aku harus benar-benar mepet ke lawanku biar tendanganku bisa berbuah poin. Kalau di Kempo itu nama poinnya wazari," jelas putri dari pasangan Hariono dan Bawon Suci Sri Widat ini.
Selain itu, Marta sendiri sudah mulai mengikuti seleksi menuju POMnas sejak bulan Juli lalu pada even Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA). Bahkan untuk tingkat perguruan tinggi yang ada di Malang, Marta merupakan satu-satunya atlet mahasiswi yang berhasil melaju ke level POMDA, dan akhirnya juga berhasil melenggang pada posisi terbaik tingkat nasional.
Marta menyebut bahwa raihan prestasinya kali ini tak lepas dari dukungan dari keluarga, pelatih, hingga perguruan tinggi tempatnya belajar yakni UMM. Siapa sangka, Marta awalnya justru menekuni Pencak Silat, hingga kemudian memilih beralih ke cabor Kempo.
"Awalnya dulu itu gara-gara pengen tahu kenapa mereka setiap latihan mesti teriak-teriak. Soalnya dulu itu tempat latihan Kempo sama Pencak Silat itu berdekatan. Akhirnya dari Pencak Silat, aku memutuskan untuk pindah cabor Kempo ini,” terangnya
Ia terus menekuni Kempo sehingga diikutkan berbagai kejuaraan. Sebenarnya keikutsertaannya POMNAS adalah untuk nambah jam terbang. Sekaligus untuk persiapan Pra PON, karena ia masuk tim inti.= Namun berkat kegigihannya, gadis kelahiran 1998 ini berhasil menjadi yang terbaik.
“Saya belajar dari kegagalan yang dialami pada ajang serupa tahun 2017. ang paling membedakan dengan sebelumnya adalah porsi latihan dan juga jam terbang. Alhamdulillah, untuk saat ini porsi latihan sudah lebih baik dan jam terbang juga semakin bertambah,” ungkapnya.
Selain berkat porsi latihan yang cukup, Marta sendiri juga memiliki strategi tersendiri, di mana Marta tidak pernah ingin tahu mengenai latar belakang dan track record lawan. “Hal itu saya lakukan karena latar belakang atau track record lawan dapat mempengaruhi mental dan juga fokus saya. Dengan saya tidak mengetahui track record lawan, saya lebih bisa menjaga fokus dan tidak membeda-bedakan lawan,” tutupnya.(asa/ary)



Kamis, 05 Des 2019

Kelola Dua Bisnis di Kepanjen

Loading...