Kisah Letkol Pnb Suryo Anggoro, Komandan Skadron 32 Lanud Abd. Saleh | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 03 Nov 2019, dibaca : 4386 , bagus, ira

Letkol Pnb Suryo Anggoro salah satu prajurit TNI AU berprestasi. Betapa tidak, empat bulan menjabat sebagai Komandan Skadron 32 Lanud Abd Saleh, dia sudah berhasil membawa satuannya meraih penghargaan. Skadron 31 Lanud Abd Saleh menjadi satuan unsur angkut terbaik, KASAU Award tahun 2019.


Suryo sendiri dilantik menjadi Komandan Skadron 32 sejak bulan Juni. Perwira dengan dua melati di pundak ini  mengatakan, satuannya mendapat pencapaian nilai yang maksimal selama melaksanakan Latihan Angkasa Yudha 2019 dalam penerjunan HAHO (High Altitude High Opening), penerjunan formasi malam hari dan Airlanded.
"Ada lima skadron udara kategori unsur angkut yang dinilai saat itu. Yaitu Skadron udara 2, Skadron udara 4, Skadron udara 31, Skadron Udara 32 dan Skadron Udara 33. Alhamdulillah, kami mendapat nilai tertinggi, yaitu 93.87,” urainya kepada Malang Post.
Sementara Skadron udara 2 mendapat nilai 93.75, skadron udara 4 mendapatkan nilai 93.39, Skadron 31 mendapat nilai 93.47 dan Skadron Udara 33 mendapat nilai 93.33.
"Penilaian KASAU Award 2019 dilakukan saat latihan Angkasa Yudha, bulan Juli lalu," katanya.
Pria asli Boyolali ini mengatakan, saat itu dia yang menjadi sutradara (penata formasi) satuannya  saat latihan Angkasa Yudha tahun 2019.Di mana dia selalu menekankan kedisiplinan kepada seluruh anggotanya.
"Waktu itu kami tidak fokus pada penilaian KASAU Aaward. fokus kami pada latihan, kami berusaha menunjukkan yang terbaik, meskipun latihan yang diikutinya cukup sulit,"urai bapak tiga anak ini.
Seperti penerjunan HAHO, dikatakan Suryo, merupakan penerjunan malam hari. Saat itu pesawat Hercules dari satuannya membawa 13 penerjun dan mereka terjun dari ketinggian 15 ribu feet.
"Di sini dibutuhkan kehati-hatian dan ketelitian. Karena hubungannya adalah keselamatan," kata mantan Kasi Ops Skadron 32 Lanud Abd Saleh ini.
Tidak terkecuali pesawat dari satuannya melakukan Airlanded, ini dikatakan Suryo juga dibutuhkan ketelitian. Dia menceritakan, ketika Airlanded,  pesawatnya membawa satu mobil rantis, empat motor trail dan 10 prajurit. Pesawatnya landing di Abd Saleh, menurunkan mobil, motor dan prajurit dengan cepat untuk kemudian terbang kembali.
"Saat itu skenarionya latihan saat itu adalah Lanud Abd Saleh dikuasai musuh, dan kami melakukan perebutan kembali. Penerjunan yang tepat waktu dengan koordinat yang pas, termasuk pendaratan pesawat saat Airlanded yang pas juga, mungkin membuat kami mendapat nilai tertinggi," tambahnya.
Menurutnya, penghargaan itu diserahkan langsung oleh KASAU, Marsekal TNI Yuyu Sutisna S.E.MM di Mabes TNI AU awal Oktober lalu. AAU tahun 2000 ini mengaku, meskipun mendapatkan nilai tertinggi dan satuannya mendapatkan penghargaan KASAU Award. Tapi bukan berarti pria kelahiran tahun 1978 ini terlena.
Sebaliknya, prestasi ini dapat menjadi motivasi dia dan seluruh anggotanya untuk menjadi lebih baik lagi. Lantaran itu, dia selalu menekankan kepada seluruh anggotanya agar selalu giat berlatih.
KASAU Award 2019 bukan satu-satunya prestasi Suryo. Di Lanud Abd Saleh, Suryo juga menjadi satu-satunya instruktur untuk pesawat Hercules Tanker.
"Hercules ada dua jenis pesawat. Pertama pesawat cargo atau angkut kedua tanker," tambahnya.
Sesuai fungsinya, alumni S2 Universitas Pertahanan Jakarta ini menjelaskan, Herkules tanker merupakan pesawat yang dapat melakukan pengisian bahan bakar di udara. Kepiawaian Suryo dalam pengisian bahan bakar pesawat di udara ditunjukkan saat menjalani latihan di Sumatera. Di mana pesawat Hercules yang dikemudikannya mengisi bahan bakar pesawat Hawk.
"Nggak sulit kok. Karena sebelumnya ada koordinasi,untuk titik pertemuan. Kalau tidak janjian ya pasti sulit," tambah Suryo yang mengatakan, pengisian bahan bakar di udara dilakukan di ketinggian 13 ribu kaki.
"Sebagai instruktur, saya juga mengajarkan kepada para anggota. Alhamdulillah sekarang sudah ada beberapa mulai bisa," tegasnya.
Ayah dari Kanza Ahnaf Gasa Anggoro ini mengaku menjadi anggota TNI merupakan cita-cita dirinya sejak kecil. Itu karena dia memiliki ayah adalah seorang anggota TNI.
"Waktu lulus SMA saya sempat mendaftar kuliah di UGM, mengambil jurusan Teknik Planologi. Waktu itu masuk. Tapi saat mau mendaftar ulang, ada pendaftaran AAU. Saya daftar, dan kemudian masuk," ungkapnya.
Pertama dinas, suami dari Rieke Avianita ini lebih dulu menjalani perwira penerbang di Skadron 32 Lanud Abd Saleh. Selama bertugas, Suryo selalu fokus. Terlebih saat terbang, Suryo selalu mengalihkan segala hal lain, dan fokus terbang.
"Karena saya menerbangkan pesawat angkut, membawa penumpang, jadi keselamatan lah yang nomor satu," ungkapnya.
Menjadi anggota TNI, Suryo pun kerap meninggalkan keluarganya. Bahkan saat ikut operasi, dia bisa lebih dari satu bulan tak bertemu keluarganya. Termasuk saat kerusuhan Wamena. Suryo langsung terbang ke Wamena untuk melakukan misi penyelamatan dan evakuasi menggunakan pesawat Hercules. Bahkan, dia juga yang menjadi pilot Hercules yang membawa pengungsi dari Wamena ke Malang, kali pertama.
 "Kalau setiap hari di Wamena bisa sampai delapan kali penerbangan," ucapnya.
Ditanya apakah tidak pernah takut saat terbang? Suryo tersenyum. Perasaan takut adalah wajar. Namun demikian, dia selalu berdoa, dan berserah diri kepada Allah SWT, agar seluruh perjalanannya pun berjalan lancar. Saat hendak terbang Suryo selalu menghubungi sang istri. Tidak hanya say hello, tapi juga meminta doa.
"Kalau tugas di luar, atau ikut operasi, komunikasinya ya dengan telepon. Sekarang kan alat komunikasi canggih, setiap saat bisa video call. jadi ya lebih mudah," ungkapnya ayah dari Kaizen Ahya Musyaffa Anggoro.
Suryo juga mengaku bersukur, karena sebagai anggota TNI, dia selalu mendapat dukungan dari keluarga, istri dan tiga anaknya. Hal inilah yang membuat Suryo selalu nyaman saat melaksanakan tugas.(Ira Ravika/ary)



Kamis, 05 Des 2019

Kelola Dua Bisnis di Kepanjen

Loading...