Kisah Bowo Wasito dan Barang-Barang Antiknya | Malang POST

Kamis, 20 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Kamis, 02 Jan 2020,

Berburu barang antik sejak tahun 1987, Bowo Wasito kini memiliki lebih dari 500 koleksi. Semuanya barang peninggalan zaman dulu, yang menghiasi setiap sudut kediaman pribadinya. Barang-barang seperti wayang, topeng, gebyok, pot, gentong, lampu Jepang, keramik, penggiling daging, botol minuman ratusan tahun, tertata rapi di rumah berukuran 150 meter persegi tersebut.
Koleksi barang antiknya tersebut didapatnya dari berbagai daerah seperti Gresik, Lamongan, Babat Lamongan, Tuban, Kudus, Semarang, Cirebon dan beberapa daerah dari luar pulau. Koleksi paling menarik menurutnya adalah keramik dari Dinasti Ming yang usianya mencapai 500 tahun.
“Keramik ini ditemukan oleh penemu dari dasar laut di Gresik, Tuban, Lasem, Lamongan, dan Tanjung Kudus pada masa Dinasti Ming tahun 1368 - 1644,” ujar Bowo kepada Malang Post.
Koleksi antiknya berjumlah sekitar 100 biji dengan corak yang berbeda-beda. Menurutnya, keramik dengan berbagai bentuk tersebut dulunya dimanfaatkan sebagai tempat obat, racun, vas bunga, wadah sup, dan perkakas rumah tangga lainnya.
Lebih lanjut, sejak dulu Bowo tertarik dengan barang-barang antik bernilai seni tinggi. Tak ayal apabila setiap berkeliling ke berbagai daerah, ia menyempatkan diri berburu untuk mendapatkan koleksi unik lainnya.
“Kalau dulu masih murah, apalagi saya beli dari penjualnya dan beberapa dari penemunya langsung penyelam atau nelayan di tahun 1990-an, dari banyak koleksi keramik China ini paling menarik karena bahannya bagus,” terangnya.
Koleksi dari Dinasti Ming ini memiliki ciri khas pada cekungannya yang terdapat ukiran bergambar Ikan Lohan, hewan ini dipercaya sebagai simbol pembawa keberuntungan dan kelimpahan rezeki. Sementara pada koleksi piring untuk mengetahui dari dinasti mana dibuat bisa dilihat dari pantatnya yang menunjukkan dinastinya.
Ketertarikan Bowo terhadap keramik dari China ini juga melihat histori di dalamnya. Misalnya Ming Merah, konon katanya warna merah terbuat dari darah pembuatnya. Sehingga memiliki perpaduan warna indah dan berdasarkan cerita Ming Merah kebanyakan dihadiahkan untuk raja.
“Ada koleksi gentong total ada sekitar 15 biji, dibuat pada Dinasti Sung tahun 660 Masehi sampai 1279 Masehi sebelum China diinvasi oleh bangsa Mongol, sebagian koleksi keramik tidak saya tunjukkan ke umum, tetapi saya simpan di kamar karena takut hilang,” urai laki-laki 60 tahun ini.
Pada bagian dalam rumah di Jalan Tata Surya ini, Bowo juga mengoleksi puluhan botol minuman keras masa Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) dalam berbagai bentuk. Botol ini dulunya dibeli dengan harga Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu, namun saat ini jika di pasaran paling  murah dibandrol dengan harga Rp 250 ribu.
Tidak kurang dari 50 botol minuman zaman dulu itu tersusun rapi di almari tua milik Bowo. Botol ini diperolehnya dari nelayan yang sengaja menyelam ke dasar laut, tak heran apabila botol-botol kaca tersebut berlapiskan karang.
“50 botol minuman ini tidak ada yang sama bentuknya, ada yang kecil besar, bulat dan persegi, dulu murah sekali karena banyak orang tidak tahu, bahkan satu botol dengan bagian atasnya berbentuk persegi ada yang menawarkan Rp 1 juta,” jelasnya.
Meski saat ini tidak lagi keliling daerah namun hobi Bowo mengoleksi barang antik tak berhenti begitu saja. Bahkan ia kerap berburu di Pasar Comboran untuk menemukan barang-barang unik dan memiliki nilai estetika tinggi.
“Dulu saya punya banyak gebyok dari berbagai daerah dengan ukiran yang berbeda, tetapi karena sedang membangun rumah ini perlu biaya beberapa saya jual,” papar mantan karyawan Semen Gresik ini.
Ia melanjutkan, rumah yang dibangun untuk menaruh barang antik tersebut dibangun tahun 2002. Dan pada 2014 silam, kediaman bergaya Jawa Peranakan ini  resmi dijadikan sebuah kafe bernama Loe Mien Toe. Sehingga masyarakat umum bisa menikmati aneka koleksi yang telah dikumpulkan Bowo sejak tahun 1987 itu.
“Awalnya tidak ingin dijadikan kafe, tetapi karena biaya sewa di luar mahal saat itu kisaran Rp 70 juta per tahun, kenapa tidak di rumah saja sedangkan uang sewa bisa dijadikan modal,” jelas pria kelahiran Madiun ini.
Seiring berjalannya waktu, Loe Mien Toe banyak menarik perhatian. Barang-barang kuno serta nuansa Jawa Peranakan menarik masyarakat bahkan tak jarang mereka menyewa tempat ini untuk digunakan sebagai sesi foto.
Sejak ditunjukkan ke umum inilah, tak jarang konsumen tertarik untuk membeli koleksinya. Meski ditawar dengan harga mahal namun Bowo tidak menerima tawaran tersebut. Sebab sebagian besar koleksinya sulit dijumpai. Jika pun ada di pasaran harga melambung tinggi.
Kecintaannya terhadap barang-barang antik membuat Bowo terinspirasi untuk membuat sebuah tegel motif layaknya zaman Belanda. Proyeknya tersebut sekaligus dipersiapkan untuk anak-anaknya.(lin/ary)

Editor : Bagus
Penulis : Linda



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...