Kisah AKPB Yade Setiawan Ujung, Empat Tahun Jabat Kapolres | Malang POST

Jumat, 28 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Kisah AKPB Yade Setiawan Ujung, Empat Tahun Jabat Kapolres

Sabtu, 15 Feb 2020,

AKBP Yade Setiawan Ujung resmi meninggalkan Malang setelah empat tahun bertugas. Tepat pada hari valentine Jumat (14/2) , Ujung tak lagi bisa ‘menyayangi’ masyarakat Kabupaten Malang. Karena harus bertugas di Polrestabes Bandung sebagai wakil kepala kepolisian. Kesan mendalam begitu terasa bagi para sahabat dekatnya selama di Malang.

Dua di antaranya, adalah Dandim 0818 Malang-Batu, Letkol Inf Ferry Muzawwad, dan Ketua Pemuda Pancasila Kabupaten Malang, Priyo ‘Bogank’ Sudibyo. Menurut Dandim 0818 Malang-Batu, Letkol Inf Ferry Muzawwad, sahabatnya, AKBP Yade Setiawan Ujung adalah sosok Kapolres Malang yang berpengaruh positif bagi dirinya.
“Awalnya kan dia duluan yang datang ke Malang sebagai Kapolres, sekitar tahun 2016, baru saya masuk sebagai Dandim Malang-Batu. Tentu saja, perkenalan kami karena jabatan dan pekerjaan. Kami sering bertemu di acara-acara resmi dan formal,” ujar Ferry kepada Malang Post.
Meski berkenalan secara formal karena jabatan keduanya sebagai pilar Forpimda Kabupaten Malang, Ferry menegaskan hubungan kolegial ini meningkat menjadi persahabatan. Pasalnya, frekuensi mereka bertemu cukup intens sebagai dua pejabat publik yang harus muncul di masyarakat secara rutin.
“Dari situ, saya merasa dia adalah sosok disiplin, perfeksionis dalam bekerja, dan tidak suka setengah-setengah dalam pelayanan masyarakat. Saya senang dengan orang yang seperti dia. Kami semakin cocok, dan hubungan kerja terus merekat erat, saya anggap dia keluarga,” sambung perwira tentara kelahiran 1977 itu.
Meski Ferry datang belakangan di Kabupaten Malang, yaitu tahun 2017, Ujung menyambut hangat, hingga akhirnya menganggap Ferry sebagai kakak. Pasalnya, Ferry merupakan lulusan akademi militer angkatan 1999. Sementara, Ujung angkatan 2000. Persahabatan ini, tentu saja terus berlanjut dan terpupuk selama tiga tahun terakhir.
Ujung sering main ke kantor Kodim.
“Begitu juga, sebaliknya saya sering main ke kantor dia. Kerja dengan dia itu tak lagi terbatas jam, ke mana-mana kami selalu hampir selalu bersama-sama. Misalnya saja, saat ada kejadian yang besar yang butuh perhatian cepat, kami selalu kontak dan berangkat bareng,” tambah mantan Dandodiklatpur Dam V/BRW itu.
Dia menceritakan, saat Pasar Lawang terbakar hebat beberapa waktu lalu, saat itu seluruh anggota Polres maupun Kodim sedang bertugas jaga pengamanan KPU. Pasalnya, momen kebakaran itu terjadi saat ada Pilpres 2019 pada 17 April. Para petugas polisi, pemadam maupun tentara di wilayah Lawang, sudah berjibaku melawan api.
“Ketika saya dapat laporan itu, saya langsung kontak-kontakan dengan dia. Padahal, saat itu fase vital penjagaan  KPU saat Pilpres. Namun, karena ini kejadian yang sangat besar, malam hari sekitar pukul 23.00 WIB, saya kontak dia, dan secepat kilat meluncur ke lokasi,” kenang perwira TNI dengan pangkat dua melati emas di pundaknya ini.
Ferry menuturkan, kedekatan dan kecepatan koordinasi, tanpa perlu banyak basa-basi ini, hanya bisa dilakukan bila antar dua orang pejabat mempunyai keakraban lebih dari urusan pekerjaan. Tak heran, selain bertemu di acara-acara formal, Ferry sering menghabiskan waktu bersama Ujung, untuk sekadar nongkrong di warung kopi atau makan di warung pinggir jalan.
“Dia ini tipikal yang sangat tidak suka pilih-pilih makanan. Selama saya kenal dia, dia nggak ada pantangan makan sama sekali. Karena, dia menganggap bahwa orang yang membuang-buang makanan itu membuang rezeki,” ujarnya. Ferry cukup sedih harus berpisah dengan sosok yang dianggapnya rekan, sahabat dan keluarganya.
Karena itu, dia hanya bisa berdoa agar Ujung sukses dalam pekerjaannya, keluarganya serta seluruh urusannya di Bandung. Jika sebelumnya Ferry selalu siap membantu dalam memecahkan persoalan di Malang, maka dia berharap Ujung bisa mendapatkan kemudahan dalam segala urusan di tempat barunya.
Serta, membangun jaringan teman baru. Ferry hanya berpesan, teman baru boleh semakin banyak, teman lama jangan dilupa. “Yang penting satu, jangan pernah melupakan Malang,” tambah Ferry. Sahabat Ujung lainnya, Priyo ‘Bogank’ Sudibyo, Ketua PP Kabupaten Malang, mengakui bahwa Ujung berbeda dengan Kapolres yang pernah dia kenal selama di Malang.
Pria yang juga Wakil Ketua KONI Kabupaten Malang itu pertama mengenal Ujung sebagai sosok yang perfeksionis. Menurut Bogank, Ujung tak mau terlihat sembarangan, baik penampilan, maupun berbicara. Selain itu, Bogank juga menyebut, Ujung sangat progresif dalam menghasilkan ide atau gagasan.
“Bang Ujung ini perfeksionis, gagasan dan pemikiran bagusnya itu harus segera diwujudkan, karena bang Ujung memang tidak mau idenya didahului siapapun. Meski begitu, bang Ujung berpikiran terbuka, bisa menerima dan menghargai pendapat orang lain, enak diajak diskusi,” cerita Bogank.
Sosok perfeksionis ini, dirasakan sendiri oleh Bogank yang sudah sangat rutin bertemu dan kumpul dengan Ujung. Ketua Kadin Kabupaten Malang itu, mengaku belajar banyak tentang kecepatan dalam merealisasikan ide dan gagasan baru. Tujuannya, agar menjadi pelopor dan inovator.
“Bang Ujung itu sak deg sak nyet, gak suka tunda-tunda saat kerjakan ide. Dari situ, saya paham kalau bang Ujung itu punya prinsip, untuk menjadi nomor 1, ide yang fresh, segar, jangan ditunda, nanti keburu diambil orang lain. Sering Bang Ujung bilang begini ke saya,” kenang Bogank.
Saking perfeksionisnya Ujung, Bogank sering dicurhati oleh jajaran kepolisian yang kaget dengan sosok Ujung kali pertama menjabat. Namun, dari situ Bogank menyadari, upaya mengejar kesempurnaan, adalah bentuk serius pelaksanaan tugas kepolisian, untuk melayani dan mengayomi masyarakat.
“Itu caranya bang Ujung ngajak jajarannya kerja maksimal bagi masyarakat. Hasilnya bisa dilihat sendiri, selama tiga tahun menjabat, rentetan prestasi, ditorehkan oleh bang Ujung, bahkan sehari sebelum dia mutasi,” ujar Bogank. Terbaru, dia menerima prestasi sebagai pelopor WBM WBBK, dan menerima penghargaan dari Kapolri.
Sebagai sahabat, Bogank mengaku senang dengan sosok Ujung. Karena, ketika sudah saling akrab, tak ada batasan seragam. Guyon dan tertawa adalah hal yang paling disukai oleh Ujung ketika berkumpul dengan para sahabatnya. Dia menyebut, cerita soal Ujung baru bisa terekam dalam buku yang tebalnya 1000 lembar.
“Kalau dijadikan buku, mungkin cerita soal bang Ujung ini bisa tebal sampai 1.000 lembar. Selamat bertugas di tempat yang baru abangku tersayang. Masyarakat Malang selalu merindukanmu. Terima kasih sudah mengayomi dan melayani kami selama ini,” tutup Bogank.(Fino Yudistira/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Fino Yudistira

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet

Loading...