Ketika Pelajar Lebih Hafal K-POP Dibanding Lagu Nasional - Malang Post

Rabu, 20 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Kamis, 17 Okt 2019, dibaca : 1347 , bagus, sisca

Film Pendek Karya Mahasiswa UMM Raih Penghargaan
Kisah penggemar K-POP yang tak hapal lagu nasional, menginspirasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka membuat film pendek berjudul “Kim Soo Ri”. Film pendek tersebut berhasil meraih penghargaan dalam Festival Film Mahasiswa Indonesia (FFMI) 2019.
Ya, tim UMM ini memenangi kategori “Ide Cerita Terbaik” yang diselenggarakan di Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Lampung, Sabtu 20 Juli 2019. Melalui film Kim Soo Ri, kelompok praktikum Route Cinema yang diproduseri Eka Aprilda Astrid ini, berhasil maju di putaran final gelaran FFMI 2019. 
Tentu sangat membanggakan. Pasalnya dari ratusan film yang turut serta, Kim Soo Ri berhasil masuk ke 60 besar terbaik dan berlanjut ke tahap 20 besar. Di sana mereka mempresentasikan film yang dibuat tahun 2017.
Septiani Lukita, sutradara sekaligus script writer film mengungkapkan, pesan yang terkandung dalam film ini sesuai tema FFMI tahun ini yakni “Indonesia Gemilang”. Film berdurasi 10 menit menceritakan tentang betapa banyaknya kebudayaan Indonesia yang patut dilestarikan, di tengah terpaan budaya luar (K-pop) di Indonesia.
Sebelum diikutkan lomba, film Kim Soo Ri punya durasi 15 menit. Sementara, panitia FFMI mensyaratkan film berdurasi maksimal 10 menitan. Septiani mengaku syarat  ini menjadi tantangan terbesar buat timnya. Alhasil, ia harus memotong beberapa scene tanpa mengurasi esensi yang ingin disampaikan.
“Ini merupakan suatu kebanggaan untuk kami. Karena kami baru kali pertama mengikuti festival film di tingkat nasional. Semoga ini menjadi awal yang bagus baik untuk Route Cinema dan juga dapat memicu mahasiswa lainnya untuk dapat menghasilkan sebuah karya film yang inspiratif,” ungkapnya kepada Malang Post.
Kim Soo Ri sendiri adalah sebuah film yang mengisahkan cerita seorang siswi SMP yang fanatik dengan budaya Korea utamanya K-Pop. Mulai dari band dan boybandnya, makanan atau kuliner hingga budayanya.
Hingga kemudian, ia seperti melupakan budayanya sendiri, Indonesia. Tokohnya bernama Sri. Setiap harinya, Sri suka menonton drama ataupun musik video lagu Korea yang disukainya.
Nah kesukaannya pada budaya Korea ini ternyata membuat jengkel orang-orang di sekitar Sri. Puncaknya, ketika Sri diminta untuk menyanyikan lagu nasional oleh guru seni budaya di kelasnya. Ia pun gelagapan dan menjadi perhatian satu kelas. 
Karena saat bernyanyi, Sri justru terbata-bata dan kurang hafal dengan lagunya. Alhasil ia menjadi bahan tawaan kawan-kawannya dan harus menahan malu di depan kelas. Dari sini kemudian Sri berpikir untuk berubah. Apalagi ketika guru favoritnya memiliki gaya “Oppa” Korea. 
“Film ini memiliki pesan bahwa indonesia memiliki banyak budaya yang harus dilestarikan di tengah terpaan budaya K-pop yang masuk ke Indonesia,” tambah Septiani.
Ia menceritakan sebelum memroduksi film tersebut, ia diharuskan melakukan riset untuk membangun cerita yang akan diangkat. Fenomena yang diriset adalah tentang banyaknya anak muda di Indonesia yang menyukai budaya Korea.
Dari sana ia dan timnya mengangkat fenomena dan budaya tersebut kemudian dikaitkan pula dengan tema-tema kebangsaan dan kearifan lokal. 
“Di Korea, marga Kim merupakan marga yang paling umum dan paling sering digunakan, serta yang paling banyak populasinya. Selain itu, marga Kim juga sudah identik dengan orang Korea,” paparnya.
Kemudian nama Soo Ri sebenarnya plesetan dari nama Indonesia, Sri. Yang diadaptasi dengan lidah Korea. 
“Karena orang Korea sulit mengucapkan Sri, jadi dipilihlah nama Soo Ri sebagai nama koreanya Sri,” imbuh Lukita.
Film ini diproduksi dan mengambil lokasi shooting di SMP 16 Arjosari dan beberapa rumah di Bale Arjosari, Kota Malang. Untuk lama penggarapannya, dari pra produksi sampai pasca produksi itu sekitar 2-3 bulan. Sementara proses syutingnya memakan waktu tiga hari.
Pemeran utama dimainkan oleh Ayu Amelia Sari sebagai Sri dan Rizky Dzulkifli Rizaldi sebagai Pak Miko. Juga didukung dengan pemeran lain yakni Marthia Gita A. sebagai Putri, Kakung Sudari sebagai Bapak dan Widyawati Wulandari sebagai Ibu.
Film ini juga berhasil masuk dalam 5 kategori nominasi di antaranya Aktris Film Mahasiswa Terbaik, Penata Musik Film Mahasiswa Terbaik, Ide Cerita Film Mahasiswa Terbaik, Penyunting Gambar Film Mahasiswa Terbaik, hingga Film Mahasiswa Terbaik. Ia juga berharap ini dapat menjadi pemicu untuk mahasiswa lain agar dapat melahirkan karya film yang berkualitas selanjutnya.(Sisca Angelina/ary)



Rabu, 20 Nov 2019

Bikin Bahagia dengan Masakan

Loading...